Ajarkan si Kecil Mandiri Saat Liburan

Ajarkan si Kecil Mandiri Saat Liburan

Libur telah tiba, libur telah tiba
Hore…,Hore…,Hore…,
Simpanlah tas dan bukumu
Lupakan keluh kesahmu
Libur telah tiba, libur telah tiba
Hatiku gembira!

 

Sepenggal syair yang dinyanyikan Tasya di atas menggambarkan kesenangan akan tibanya waktu liburan. Anak-anak mana yang tidak senang ketika liburan tiba? Liburan merupakan waktu mereka melepaskan penat sehari-hari di sekolah, dengan melakukan hal-hal positif seperti bermain di pantai, berenang, menikmati indahnya daerah pegunungan, atau hanya menghabiskan waktu bermain di rumah bersama teman-teman sebayanya. Apapun bisa dilakukan anak-anak ketika liburan. Tapi, bisakah anak diajarkan mandiri ketika liburan? Apa pentingnya mengajarkan kemandiriin saat liburan?

Libatkan anak

Berikan kepercayaan kepada anak, mereka adalah bagian dari keluarga dan memiliki hak sama dengan yang lain.

  1. Mengajarkan liburan yang mandiri dimulai sejak menentukan tempat dan kegiatan liburan. Anak dapat diberikan kesempatan untuk ikut memberikan pendapatnya, kemudian didiskusikan pendapat yang terbanyak atau terbaik menurut keputusan bersama.
  2. Jika akan berlibur di luar lingkungan rumah, dukung anak untuk mempersiapkan keperluannya sendiri. Bagi anak yang lebih kecil bawakan buku gambar untuk menempelkan benda-benda yang akan dibawanya dan minta ia untuk memastikan benda-benda tersebut akan dibawa pulang kembali setelah berpergian. Bagi anak yang lebih besar, anak dapat diminta untuk membuat list dengan tujuan yang sama.
  3. Bekali anak untuk mempersiapkan dirinya menghadapi hal-hal yang dapat terjadi selama berlibur. Misalnya jika ia hilang ditengah keramaian, jika ia harus ke kamar mandi, lapar di perjalanan, dan sebagainya. Anak dapat diajak bermain pura-pura seolah-olah sedang berlibur, atau mengajak anak yang lebih besar berdiskusi mengenai kondisi yang akan dihadapi di tempat liburan dan permasalahan yang mungkin terjadi.
  4. Banyak orangtua yang melonggarkan aturan dengan alasan sedang liburan, dan sulit untuk kembali mengatur anak ketika liburan usai. Untuk itu, aturan tetap diterapkan meskipun liburan hanya jenis kegiatannya yang diganti, misalnya waktu mengerjakan PR diganti dengan melukis bersama. Sedangkan waktu tidur, mandi dan makan disarankan untuk tetap diterapkan sehingga jadwal selama liburan tidak berbeda jauh dengan jadwal sehari-hari.

Kemandirian anak laki-laki dan perempuan

Ketika orangtua mengajarkan kemandirian, tidak ada perbedaan yang mencolok antara anak laki-laki dan perempuan, yang terpenting adalah cara kita menyampaikan dan memberi contoh mengenai perilaku mandiri. Sebaiknya nilai kemandirian sedini mungkin diajarkan pada anak, pada usia 2 tahun anak sudah mulai bermain pura-pura, menirukan hal-hal di sekitar mereka termasuk orangtuanya. Biarkan mereka meniru perilaku mandiri dari orangtuanya tersebut.

Untuk hal persiapan perlengkapan liburan, siapa yang lebih teliti mempersiapkannya? anak laki-laki atau perempuan? Sebenarnya ketelitian itu dapat dilatih, baik pada anak perempuan maupun laki-laki. Namun cara pendekatannya saja yang berbeda sesuai dengan minat. Misalnya, orangtua mengajak anak untuk mempersiapkan perlengkapan mereka dengan berlomba memasukkan benda-benda sesuai daftar ke dalam tas sambil memastikan tidak ada yang terlupa. Sedangkan anak perempuan dapat diajak untuk mempersiapkan perlengkapan dengan melibatkan boneka kesayangannya sebagai salah satu perlengkapan yang akan dibawanya.

Bagaimana agar anak mandiri ?

  1. Libatkan anak dalam setiap kegiatan yang melatih kemandiriannya selama liburan, misalnya memilih tempat liburan, memilih restoran, mempersiapkan perlengkapan liburan, atau tetap melakukan kegiatan bina diri yang sudah dapat dilakukannya sendiri, seperti mandi, buang air kecil dan buang air besar sendiri (tergantung kematangan usia), dan sebagainya.
  2. Selama liburan, berikan kesempatan untuk meningkatkan kemandirian, misalnya memecahkan masalah yang ditemuinya secara mandiri. Jika anak masih sulit melakukannya, orangtua dapat memberikan alternatif solusi lengkap dengan dampak yang mungkin terjadi dari setiap alternatif solusi. Namun, biarkan anak yang menentukan pilihannya.
  3. Jagalah agar jadwal liburan tidak berbeda jauh dengan jadwal sehari-hari agar orangtua tidak mengalami kesulitan untuk kembali menerapkan disiplin setelah liburan usai.
  4. Jika berlibur di luar lingkungan rumah, berikan tanggungjawab pada anak untuk memeriksa perlengkapannya sebelum pulang agar tidak ada benda yang tertinggal. Orangtua dapat memberikan list atau buku bergambar untuk membantu anak memeriksa perlengkapannya.
  5. Jangan lupa untuk selalu memberikan penghargaan apabila anak terlihat menunjukkan perilaku mandiri. Hal ini dapat meningkatkan semangatnya untuk menampilkan kembali perilaku-perilaku yang mandiri. Pengulangan perilaku mandiri dapat menjadi kebiasan yang positif bagi anak.

Referensi :