Bekali Anak Hiperaktif Sejak dari Rumah

Bekali Anak Hiperaktif  Sejak dari Rumah

GPPH (Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktifitas) sering kali tidak disadari orang tua, dan baru tampak nyata setelah anak masuk sekolah. Mendeteksi dan menanganinya sejak dini akan menentukan masa depan si anak. Semua tentu berawal dari rumah.

Setelah deteksi masalah anak secara dini, orang tua perlu mencari informasi tentang penanganan GPPH. Menjalin hubungan dengan sesama orang tua yang punya masalah sama sangat membantu mendapatkan info tentang penanganan yang tepat, rujukan tempat terapi, dan sekolah yang sesuai untuk anak. Karena anak GPPH biasanya memerlukan dokter anak, psikolog, psikiater, guru, dan terapis, orang tua punya peranan memilih tim yang dirasa paling pas untuk anaknya.

Juga yang terpenting, dari rumahlah anak dibekali pemahaman tentang kondisinya agar ia tak menilai dirinya sebagai anak bodoh, selalu gagal, atau merasa tak disayang oleh keluarga.

 

Memang tak mudah menangani anak GPPH di rumah. Orang tua tak hanya dituntut belajar berbagai strategi mengatur tingkah laku, juga perlu kerja keras, konsistensi, dan kesabaran. Sebab, terkadang cara disiplin yang sukses untuk anak lain tak bisa diberlakukan pada anak istimewa ini. Strategi apa yang secara umum terbukti berhasil?

Rutinitas, struktur, dan konsistensi

cmc6.jpgBuatlah jadwal harian dalam bentuk visual dan tempelkan di tempat yang mudah dilihat. Bila ada perubahan, beritahu sebelumnya. Tetapkan peraturan di rumah secara jelas beserta konsekuensinya bila anak melanggar peraturan tersebut. Konsistensi dalam penerapan disiplin, pemberian reward bagi tingkah laku positif, dan penerapan konsekuensi atau hukuman haruslah konsisten agar anak tidak bingung.

Fokuskan pada hal-hal positif

Untuk meningkatkan rasa percaya diri anak, beri perhatian lebih pada keunggulan anak dan saat-saat ia melakukan tingkah laku positif. Berikan penghargaan atas usaha yang dilakukan meski hasilnya belum memuaskan. Temukan aktivitas yang disukainya dan kembangkan kemampuannya agar dapat dibanggakan.

Penjelasan yang sederhana dan singkat

Berikan penjelasan dengan kata-kata sederhana, singkat, dan dalam situasi tenang. Tariklah perhatiannya sebelum mulai menjelaskan. Pastikan ia mendengarkan orang tua dan tidak sedang melamun atau asik beraktivitas. Gunakan nada suara datar, monoton, dan tegas saat bicara dengan anak GPPH.

Hindari argumentasi

Beri perintah dan larangan dengan singkat dan tegas. Abaikan saja protes atau komentarnya, jangan terlalu banyak menjelaskan ini dan itu karena akan dibalas dengan bantahannya. Yang penting katakan konsekuensi bila anak tidak menurut. “Kalau Dika mandi sekarang, Dika boleh main sepeda. Tapi kalau Dika tidak mau mandi, Dika harus tetap di rumah.” Kalau perlu katakan berulang dengan nada suara tanpa emosi meski anak terus protes.

Abaikan hal-hal yang tidak penting

Orang tua perlu menyadari anak GPPH tidak mungkin dituntut berperilaku teratur dan taat terhadap norma sosial. Buatlah daftar tingkah laku yang diinginkan dari si anak dan menjadi prioritas misalnya anak mampu menghindarkan diri dari bahaya, tidak bertindak agresif, mengerjakan tugas sebaik mungkin. Hal-hal lain yang tidak menjadi prioritas sebaiknya tidak dijadikan masalah hingga anak tidak frustasi.

Alamat Sekolah Anak dengan kebutuhan khusus

Sekolah Pantara(spesifikiasi kesulitan belajar)

Jl. Senopati Raya 72

Terapi Wicara-Sasana Bina Wicara

Jl. Kramat VII No. 27, Ph. 3140636

Sekolah Global Mandiri(TK SD Mainstream +sp.needs)

Jl Alternatif Trans Yogi Km6 Cibubur

Yayasan SLB Autisma Mandiri (Spesifikasi Autistik Low-Function)

Jl. Jalak 12 C2/7 Bintaro Jaya

SD Patmos (Spesifikasi Kesulitan Belajar)

Perum Taman Meruya Ilir Jl Permata Meruya D1/B9

  • sijeck

    di madiun ada tak ya sekolahan macam itu?

    • http://www.anakku.net/ Anakku Magz

      wah saya kurang tahu kalo di madiun gimana hehe.. :)

  • sijeck

    ada yang tau tak ya anak tak mau makan nasi bahkan takut dengan nasi?

    • http://www.anakku.net/ Anakku Magz

      Sepertinya, bukan anak takut dengan nasi, tapi mungkin dia mengalami “trauma” saat diberikan nasi, mungkin dari pengalaman pemberiannya, atau panasnya yg membuat anak menjauhi nasi. sebenarnya perlahan2 bisa diajarkan dengan sabar, agar anak mau makan nasi. begitu juga dengan pemberian makan yang lain, sebaiknya diberikan dengan cara yang nyaman bagi anak, sehingga anak tidak menganggap pengalaman makan menakutkan.