Bercerita untuk Anak Usia Dini

Bercerita untuk Anak Usia Dini

Ada suatu ungkapan ”Seorang Guru yang tidak bisa bercerita, ibarat orang yang hidup tanpa kepala.”

Betapa tidak, bagi para pengasuh anak-anak (guru, tutor) keahlian bercerita merupakan salah satu kemampuan yang wajib dikuasai. Melalui metode bercerita inilah para pengasuh mampu menularkan pengetahuan dan menanamkan nilai budi pekerti luhur secara efektif, dan anak-anak menerimanya dengan senang hati. Demikian pula dengan Anda sebagai orang tua yang peduli perkembangan buah hati.

Di Inggris pernah diadakan angket yang menanyakan apa yang membuat mereka merasa bahagia di masa kanak-kanak? Jawabannya: saat orang tua mereka membacakan cerita.

Bercerita adalah metode komunikasi universal yang sangat berpengaruh kepada jiwa manusia. Bahkan dalam teks kitab suci pun banyak berisi cerita-cerita. Tuhan mendidik jiwa manusia menuju keimanan dan kebersihan rohani, dengan mengajak manusia berfikir dan merenung, menghayati dan meresapi pesan-pesan moral yang terdapat dalam kitab suci. Metode ini sangat efektif untuk memengaruhi jiwa anak-anak. Jawabannya tidak sulit.

# Pertama, cerita pada umumnya lebih berkesan dari nasehat murni, sehingga cerita lebih tertanam dalam memori manusia. Coba ingat, cerita yang kita dengar di masa kecil pasti masih berkesan di benak kita.

# Kedua, melalui cerita manusia diajarkan untuk mengambil hikmah tanpa merasa digurui.

 

Apa itu cerita?

Cerita adalah rangkaian peristiwa yang disampaikan, baik berasal dari kejadian nyata (non fiksi) ataupun tidak nyata (fiksi). Kata dongeng berarti cerita rekaan/tidak nyata/fiksi, seperti: fabel (binatang dan benda mati), sage (cerita petualangan), hikayat (cerita rakyat), legenda (asal usul), mythe (dewa-dewi, peri, roh halus), ephos (cerita besar; Mahabharata, Ramayana, saur sepuh, tutur tinular).

Jadi kesimpulannya “Dongeng adalah cerita, namun cerita belum tentu dongeng.” Metode bercerita berarti penyampaian cerita dengan cara bertutur. Sebagaimana pantomim yang lebih menonjolkan gerak dan mimik, operet yang lebih menonjolkan musik dan nyanyian, puisi dan deklamasi yang lebih menonjolkan syair, sandiwara yang lebih menonjol pada permainan peran oleh para pelakunya, atau monolog (teater tunggal) yang mengoptimalkan semuanya. Jadi tegasnya metode bercerita lebih menonjolkan penuturan lisan materi cerita dibandingkan aspek teknis yang lainnya.

Manfaat bercerita

  1. Membangun kedekatan sosial emosional antara pendidik dengan anak.
  2. Media penyampai pesan/nilai moral dan agama yang efektif.
  3. Mengembangkan pola berpikir kritis dan imajinasi.
  4. Menyalurkan dan mengembangkan emosi personal yang baik.
  5. Membantu proses motorik halus peniruan perbuatan baik tokoh dalam cerita.
  6. Memberikan dan memperkaya pengalaman batin.
  7. Sarana hiburan dan penarik perhatian.
  8. Menggugah minat baca.
  9. Sarana membangun watak mulia.

Memilih cerita untuk anak

Sebelum bercerita, sebaiknya pahami dulu cerita apa yang hendak disampaikan, sesuaikan dengan karakter anak usia dini. Agar dapat bercerita dengan tepat, Anda harus mempertimbangkan materi ceritanya.

Pedoman pemilihan cerita 

a). Pemilihan tema dan judul yang tepat. Menurut pakar pendidikan Prof Dr. Arief Rahman, MPd anak hidup dalam alam khayal. Anak-anak menyukai hal-hal yang fantastis, aneh, yang membuat imajinasinya “menari-nari”. berikut cara memilih cerita :

  1. sampai usia 4 tahun, anak menyukai dongeng fabel dan horor, seperti: Si wortel, Tomat yang hebat, Anak ayam yang manja, Kambing gunung dan kambing gibas, Anak nakal tersesat di hutan rimba, raksasa yang menyeramkan dan sebagainya.
  2. Usia 4-8 tahun, anak-anak menyukai dongeng jenaka, tokoh pahlawan/hero dan kisah tentang kecerdikan, seperti; Perjalanan ke planet biru, Robot pintar, Anak yang rakus, dan sebagainya
  3. Usia 8-12 tahun, anak-anak menyukai dongeng petualangan fantastis rasional (sage), seperti: Persahabatan si pintar dan si pikun, Karni juara menyanyi dan sebagainya.

b). Waktu penyajian dengan mempertimbangkan daya pikir, kemampuan bahasa, rentang konsentrasi dan daya tangkap anak, maka para ahli dongeng menyimpulkan sebagai berikut :

  1. Sampai usia 4 tahun, waktu cerita hingga 7 menit
  2. Usia 4-8 tahun, waktu cerita hingga 10 -15 menit
  3. Usia 8-12 tahun, waktu cerita hingga 25 menit Namun tidak menutup kemungkinan waktu bercerita menjadi lebih panjang, apabila tingkat konsentrasi dan daya tangkap anak dirangsang oleh penampilan pencerita yang sangat baik, atraktif, komunikatif dan humoris.

c). Suasana disesuaikan dengan peristiwa yang sedang atau akan berlangsung, seperti acara kegiatan keagamaan, hari besar nasional, ulang tahun, pisah sambut anak didik, peluncuran produk, pengenalan profesi, program sosial dan lain-lain, akan berbeda jenis dan materi ceritanya. Pendidik dan orang tua dituntut untuk memperkaya diri dengan materi cerita yang disesuaikan dengan suasana.

Praktek bercerita

1. Teknik bercerita

Anda sebagai orang tua perlu mengasah keterampilan dalam bercerita, baik dalam olah vokal, olah gerak, bahasa dan komunikasi serta ekspresi. Seorang pencerita harus pandai-pandai mengembangkan berbagai unsur penyajian cerita sehingga terjadi harmoni yang tepat. Secara garis besar penyajian cerita harus terdiri dari beberapa unsur;

(1) Narasi (2) Dialog (3) Ekspresi (terutama mimik muka) (4) Visualisasi gerak/Peragaan (acting) (5) Ilustrasi suara, baik suara lazim maupun suara tak lazim (6) Media/alat peraga (bila ada) (7) Teknis ilustrasi lainnya, misalnya lagu, permainan, musik, dan sebagainya.

2. Atmosfer cerita

Tertib merupakan prasyarat tercapainya tujuan bercerita. Suasana tertib adalah atmosfer dasar yang harus diciptakan sebelum dan selama anak-anak mendengarkan cerita. Di antaranya dengan cara-cara sebagai berikut:

  • Aneka tepuk: seperti tepuk satu-dua, tepuk tenang, anak sholeh dan lain-lain. Contoh; Jika aku (tepuk 3x) sudah duduk (tepuk 3x) maka aku (tepuk 3x) harus tenang (tepuk 3x) sst…sst..sst…
  • Simulasi kunci mulut: mengajak anak-anak memasukkan tangannya ke dalam saku, kemudian seolah-olah mengambil kunci dari saku, kemudian mengunci mulut dengan kunci tersebut, lalu kunci dimasukkan kembali ke dalam saku.
  • “Lomba duduk tenang”, Kalimat ini diucapkan sebelum cerita disampaikan, ataupun selama berlangsungnya cerita. Teknik ini cukup efektif untuk menenangkan anak-anak. Apabila cara pengucapannya dengan bersungguh-sungguh, maka anak-anak pun akan melakukannya dengan sungguh-sungguh pula.
  • Tata tertib cerita, sebelum bercerita pendidik menyampaikan aturan selama mendengarkan cerita, misalnya; tidak boleh berjalan-jalan, tidak boleh menebak/komentari cerita, tidak boleh mengobrol dan mengganggu kawannya dengan berteriak dan memukul meja. Hal ini dilakukan untuk mencegah anak-anak agar tidak melakukan aktifitas yang mengganggu jalannya cerita
  • Ikrar, mengajak anak-anak untuk mengikrarkan janji selama mendengar cerita, contoh : “Selama cerita, Kami berjanji akan duduk rapi dan tenang, mendengarkan cerita dengan baik.”
  • Siapkan hadiah bagi mereka yang tertib mendengarkan. Bisa berupa hadiah imajinatif seperti makanan, binatang kesayangan, balon yang seolah-olah ada di tangan, tentu saja diberikan kepada anak-anak yang sudah akrab dengan kita, seringkali teknik ini menimbulkan kelucuan tersendiri.

3. Pilih teknik yang menarik saat membuka cerita. Mengapa ? Karena membuka cerita merupakan saat yang sangat menentukan apakah anak tertarik atau tidak. Misalnya dengan lagu, suara yang unik, menirukan suara binatang, dsb.

4. Menutup cerita dan evaluasi

  • Tanya jawab seputar tokoh dan perbuatan mana yang patut dicontoh dan mana yang tidak.
  • Doa khusus memohon terhindar dari memiliki kebiasaan buruk seperti tokoh yang jahat, dan agar diberi kemampuan untuk dapat meniru kebaikan tokoh yang baik.
  • Berjanji untuk berubah menjadi lebih baik, contoh “Mulai hari ini, aku tidak akan malas lagi, aku anak rajin dan taat kepada guru!”
  • Nyanyian yang selaras dengan tema, baik berasal dari lagu nasional, popular maupun tradisional
  • Menggambar salah satu adegan. Setelah selesai mendengar cerita, teknik ini sangat baik untuk mengukur daya tangkap dan imajinasi anak.

Untuk dapat menguasai aspek-aspek keterampilan teknis dari penyajian cerita di atas, tentu membutuhkan persiapan dan latihan yang matang. Selain itu, kemampuan dalam bercerita agar dapat memunculkan berbagai unsur diatas, dan tersaji secara padu, hanya dapat dikuasai dengan pengalaman dan latihan-latihan yang tekun.

Berlatihlah dengan anak Anda, lalu anak tetangga. Hingga akhirnya Anda berani tampil di atas panggung. Jadilah pendidik dan orang tua yang selalu ditunggu untuk bercerita dan menularkan ilmu. Sehingga Anda terpacu untuk terus belajar. Selamat mencoba!

Referensi :

  1. Dongeng untuk anak. Sanggar Dongeng Ardika . Ngestiharjo, Kasihan, Bantul. 2006.
  2. Teknik mendongeng untuk anak. Kak Kusumo Priyono, Gramedia Press. 2007.