Deteksi Dini Bayi Berisiko Tinggi

0
[quote type="center"]Bayi berisiko tinggi adalah bayi yang mempunyai kemungkinan lebih besar untuk mengalami hambatan dalam tumbuh kembang selanjutnya dibanding bayi lainnya.[/quote]

 

Anak adalah tumpuan harapan orangtua. Semua orangtua pasti berharap anak-anak mereka tumbuh menjadi anak yang sehat, cerdas, dan penuh kreativitas. Untuk mendapatkan anak yang diidam-idamkan itu tentu kebutuhan akan gizi secukupnya mesti terpenuhi. Namun, tak hanya itu sebenarnya. Faktor bawaan bayi sejak dilahirkan juga turut menjadi penentu.

 

Seringkali para orangtua tidak sadar terhadap kesehatan bayinya. Perlu diketahui, bahwa sebetulnya tidak semua bayi yang ketika dilahirkan selalu berada dalam keadaan sehat-sehat saja. Kalau diperhatikan dengan seksama, ada beberapa bayi yang akan mengalami masalah kesehatan dalam proses tumbuh kembangnya di kemudian hari.  Inilah yang disebut bayi berisiko tinggi.

 

Dengan kata lain, bayi berisiko tinggi adalah bayi yang mempunyai kemungkinan lebih besar untuk mengalami hambatan dalam tumbuh kembang selanjutnya dibanding bayi lainnya.

Berdasarkan waktu terjadinya gangguan atau penyakit, penyebab terjadinya bayi berisiko tinggi dapat dibagi atas  tiga fase, yakni:

 

A. Masa Kehamilan

  1. Si ibu mengalami infeksi saat hamil seperti toksoplasma, sitomegalovirus, rubella, herpes, sifilis, HIV/Aids (TORCH), preeklamsi, atau infeksi lain.
  2. Gangguan akibat kecelakaan, muntah-muntah yang berlebihan (hiperemesis), gangguan emosional, cairan ketuban yang berlebihan (hidramnion), perdarahan, atau anemia.
  3. Kehamilan di atas usia 35 tahun.
  4. Kehamilan kembar atau memiliki riwayat keguguran berulang.
  5. Minum obat jangka panjang; antiasma, antiepilepsy, narkoba, obat untuk menggugurkan.
  6. Kebiasaan merokok dan minum alkohol.
  7. Kehamilan yang tidak dikehendaki.

 

B. Proses Persalinan

  1. Saat lahir bayi tidak langsung menangis, nilai apgar kurang dari 5 pada menit pertama.
  2. Bayi lahir dengan umur kehamilan kurang dari 37 minggu atau lebih dari 42 minggu.
  3. Berat lahir bayi kurang dari 2500 gram atau lebih dari 4200 gram.
  4. Lahir presentasi bokong atau dengan tindakan seperti ekstraksi vakum.
  5. Mengalami trauma persalinan seperti erb’s paresis, patah tulang, perdarahan otak, atau paresis N VIL.

 

C. Setelah Persalinan

  1. Bayi menderita kelainan bawaan.
  2. Kadar bilirubin di atas 15mg%; 3.
  3. Memerlukan perawatan intensif, penggunaan ventilator.
  4. Bayi menderita sepsis, infeksi otak, perdarahan otak, atau kejang.

 

Bahkan, pada beberapa bayi berisiko tinggi terdapat gangguan yang saling memperberat. Misalnya bayi berat lahir 1800 gram yang disertai asfiksia berat dan perdarahan intracranial. Gabungan beberapa faktor risiko tersebut bisa kian memperparah proses tumbuh kembang bayi.

 

Akibat adanya gangguan selama kehamilan, proses persalinan, maupun setelah persalinan, gangguan tumbuh kembang yang sering menyertai bayi berisiko tinggi antara lain:

  1. Terhambat peningkatan ukuran berat badan, tinggi badan, dan lingkar kepala.
  2. Terganggu perkembangan motorik kasar dan motorik halus.
  3. Hidrosefalus (ukuran kepala yang makin membesar) atau mikrosefali (ukuran kepala mengecil).
  4. Gangguan penglihatan atau adanya korioretinitis.
  5. Gangguan pendengaran atau bicara.
  6. Kejang demam atau epilepsi.
  7. Gangguan psikososial seperti hiperaktif atau retardasi mental.

Oleh karena komplikasi yang timbul sangat bervariasi, bahkan dapat timbul lebih dari satu macam, diperlukan pemantauan yang ekstra ketat serta penanganan multidisiplin oleh dokter ahli.

Mengingat masa emas perkembangan otak anak terjadi mulai sejak berada dalam kandungan hingga usia 3 tahun, maka dibutuhkan deteksi sedini mungkin terhadap gejala yang ada. Dengan demikian, dapat dilakukan langkah-langkah penanganan lebih dini. Deteksi dan intervensi dini dapat dilakukan bila ada kerjasama yang baik antara orangtua dan dokter.

Tatalaksana dini pada masa emas perkembangan otak anak terhadap kelainan yang ada, diharapkan dapat memperingan komplikasi anak di kemudian hari. Oleh karenanya, sudah selayaknya setiap orangtua yang mempunyai bayi baru lahir, mengetahui apakah bayi mereka termasuk bayi berisiko tinggi atau tidak.

Referensi :

  • Stol B.J, Kleigman RM. The High Risk infant. Dalam:Behrman RE, Kleigman RM, Jenson HB, penyunting. Nelson Textbook of Pediatrics, edisi ke 17. Philadelphia, sounders 2004. h. 547-59
Share.

About Author

Dr. Irawan Mangunatmadja, SpA (K) - Klinik Anakku, Cinere