Bila Harus Mengkonsumsi Susu Formula

Discussion in 'Tumbuh besar' started by bunda_AcaAya, 12/9/08.

  1. bunda_AcaAya

    Message Count:
    361
    Likes Received:
    0
    Trophy Points:
    0
    <strong>ASI </strong>jelas asupan terbaik bagi si kecil. Namun,
    adakalanya kondisi ibu tidak memungkinkannya memberikan ASI kepada sang
    buah hati. Pada kondisi seperti itulah, dengan amat terpaksa orangtua
    harus rela memberikan susu formula kepada bayinya.

    Apa yang
    mesti dilakukan ketika bayi harus berpindah dari ASI ke susu susu
    formula? Yang pertama harus diketahui adalah semua susu formula dengan
    bahan susu sapi memiliki kandungan yang hampir sama. Dr. Christina K.
    Nugrahani, M.Kes., Sp.A., yang praktik di RS FMC (Family Medical
    Center) Bogor mengatakan, "Karena semuanya mengacu pada standar
    kebutuhan bayi untuk tumbuh kembang sesuai dengan RDA (Recommended
    Dietary Association)." Simak saja keterangan tentang kandungan nutrisi
    yang tercantum dalam setiap kemasan susu. Jadi, tak perlu terkecoh
    dengan beragam promosi tentang adanya suplemen tertentu, sebab
    rata-rata semuanya sama saja.

    Hal lain yang patut
    dipertimbangkan ketika memilih susu formula adalah harga dan
    ketersediaan barang, apakah mudah didapat atau tidak. Tentunya lebih
    baik memilih produk dengan harga yang terjangkau dan mudah didapat.
    Berikutnya adalah memerhatikan kondisi dan kebutuhan si bayi. Bayi yang
    alergi terhadap susu sapi tentunya membutuhkan formula khusus. Untuk
    itu, yuk mengenal beragam susu formula yang beredar di pasaran.

    <strong>MENGENAL BERAGAM SUSU FORMULA</strong>

    <strong>1. SUSU FORMULA DARI SUSU SAPI </strong>
    Umumnya
    susu formula untuk bayi yang beredar di pasaran berasal dari susu sapi.
    Susu sapi adalah salah satu susu pilihan untuk bayi yang tidak memiliki
    riwayat alergi dalam keluarga. Alergi akibat susu sapi antara lain
    berupa diare. Untuk bayi yang telah berusia di atas 6 bulan susu
    formula yang disarankan adalah yang telah mendapatkan fortifikasi zat
    besi karena antara usia 4-6 bulan persediaan zat besi pada tubuh bayi
    mulai berkurang sehingga perlu mendapatkan tambahan asupan dari luar.
    Soal konstipasi/sembelit yang disinyalir akibat fortifikasi zat besi
    dapat dikonsultasikan pada dokter dan tidak semua bayi mengalami hal
    ini.

    <strong>2. SUSU HIPOALERGENIK </strong>
    Bayi-bayi yang
    dalam keluarganya memiliki riwayat alergi umumnya akan mengalami alergi
    terhadap susu sapi. Karenanya, bayi dengan alergi susu sapi formula
    biasa sebaiknya diberi susu sapi dengan formula hipoalergenik
    (hidrolisat), yakni susu sapi yang kandungan proteinnya telah
    dihidrolisis sedemikian rupa sehingga dapat dengan mudah diolah oleh
    pencernaan bayi.

    Pencegahan alergi susu sapi pada bayi dapat dilakukan dengan 3 cara, yakni:
    -
    Pencegahan premier atau pencegahan yang dilakukan sebelum bayi terpapar
    pencetus alergi (dalam hal ini susu sapi). Langkah yang paling tepat
    adalah dengan memberikan ASI eksklusif. Jika ibu oleh karena sebab yang
    memaksa tak dapat memberikan ASI, berikan susu formulai jenis
    hipoalergenik.
    - Pencegahan sekunder, yaitu bayi yang sudah terpapar
    protein susu sapi tapi belum mengalami alergi kembali diberi ASI atau
    ganti mengonsumsi susu hipoalergenik. Di usia batita, anak perlu
    diperkenalkan dengan susu sapi agar sistem metabolisme tubuhnya
    mengenal protein susu sapi dan secara perlahan toleran terhadap susu
    formula biasa.
    - Pencegahan tersier, yaitu jika sudah terjadi alergi
    terhadap susu sapi sehingga bayi harus mengonsumsi susu formula dengan
    protein susu yang terhidrolisis sempurna sehingga mudah dicerna oleh
    pencernaan bayi.

    <strong>3. SUSU SOYA</strong>
    Susu yang
    berasal dari sari kedelai ini umumnya diperuntukkan bagi bayi yang
    memiliki alergi terhadap protein susu sapi tetapi tidak alergi terhadap
    protein soya. Fungsinya sama dengan susu sapi yang protein susunya
    telah terhidrolisis dengan sempurna. Jadi dapat digunakan sebagai
    pencegahan alergi tersier. Bayi yang alergi susu kedelai harus beralih
    ke susu formula dengan asam amino yang sudah terhidrolisis
    (hipoalergenik).

    <strong>4. SUSU RENDAH LAKTOSA</strong>
    Susu
    rendah laktosa adalah susu sapi yang bebas dari kandungan laktosa (low
    lactose atau free lactose). Sebagai penggantinya, susu formula jenis
    ini akan menambahkan kandungan gula jagung. Susu ini cocok untuk bayi
    yang tidak mampu mencerna laktosa (intoleransi laktosa) karena gula
    darahnya tidak memiliki enzim untuk mengolah laktosa. Intoleransi
    laktosa biasanya ditandai dengan buang air terus-menerus atau diare.

    <strong>5. SUSU FORMULA LANJUTAN</strong>
    Susu
    formula lanjutan biasanya mencantumkan keterangan "lanjutan" pada
    bagian muka kemasannya. Susu formula lanjutan ditujukan bagi bayi usia
    6 bulan ke atas. Tak ada perbedaan yang terlalu mencolok dalam
    kandungan nutrisinya. Jumlah kalori yang dihasilkannya juga tidak
    berbeda jauh. Tak perlu buru-buru mengganti susu formulanya dengan yang
    lanjutan jika stok di rumah masih ada. Memang, kebutuhan kalori bayi
    meningkat seiring pertambahan usia. Namun di usia 6 bulan, bayi juga
    harus mengonsumsi makanan semipadat pertamanya selain susu untuk
    mencukupi kebutuhan kalorinya.

    <strong>6. SUSU FORMULA KHUSUS</strong>
    Susu
    formula khusus disediakan bagi bayi yang memiliki problem dengan
    saluran pencernaannya. Ada bayi yang memiliki gangguan penyerapan
    karbohidrat, lemak, protein atau zat gizi lainnya. Pemberian susu
    formula khusus ini biasanya atas pengawasan dan petunjuk dokter. Karena
    kekhususannya, harga susu ini pun sangat mahal. Juga tidak dijual di
    toko umum atau hanya tersedia di rumah sakit dan apotek.

    <strong>PANDUAN SAJI SUSU FORMULA</strong>

    Langkah
    pertama yang dilakukan untuk menyiapkan susu formula adalah
    membersihkan dan mensterilisasi peralatan yang akan digunakan.
    Selanjutnya menyiapkan dan menyajikan susu formula. Berikut tahapan
    yang dilakukan untuk membersihkan dan mensterilisasi peralatan:

    1. Sterilkan peralatan minum bayi. Cuci tangan dengan sabun sebelum melakukan sterilisasi.
    2. Cuci semua peralatan (botol, dot, sikat botol, sikat dot) dengan sabun dan air bersih yang mengalir.
    3.
    Gunakan sikat botol untuk membersihkan bagian dalam botol dan sikat dot
    untuk membersihkan dot agar sisa susu yang melekat bisa dibersihkan.
    4. Bilas botol dan dot dengan air bersih yang mengalir.
    5. Bila menggunakan alat sterilisator buatan pabrik, ikuti petunjuk yang tercantum dalam kemasan.
    6. Bila mensterilisasi dengan cara direbus:
    - Botol harus terendam seluruhnya sehingga tidak ada udara di dalam botol.
    - Panci ditutup dan dibiarkan sampai mendidih selama 5–10 menit.
    - Biarkan botol dan dot di dalam panci tertutup dan air panas sampai segera akan digunakan.
    7. Cuci tangan dengan sabun sebelum mengambil botol dan dot.
    8. Bila botol tidak langsung digunakan setelah direbus:
    - Keringkan botol dan dot dengan menempatkannya di rak khusus botol pada posisi yang memungkinkan air rebusan menetes.
    - Setelah kering, botol disimpan di tempat yang bersih, kering, dan tertutup.
    - Dot dan penutupnya terpasang dengan baik.

    Langkah selanjutnya adalah menyiapkan dan menyajikan susu formula. Berikut tahapan yang dapat dilakukan:

    1. Bersihkan permukaan meja yang akan digunakan untuk menyiapkan susu formula.
    2. Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir, kemudian keringkan dengan lap bersih.
    3. Rebus air minum sampai mendidih selama 10 menit dalam ketel atau panci tertutup.
    4.
    Setelah mendidih, biarkan air tersebut di dalam panci atau ketel
    tertutup selama 10–15 menit agar suhunya turun menjadi kurang lebih 70?
    C. Atau gunakan 1 bagian air dingin dicampur dengan 2 bagian air panas.
    5.
    Tuangkan air tersebut sebanyak yang dapat dihabiskan oleh bayi (jangan
    berlebihan) ke dalam botol susu yang telah disterilkan.
    6. Tambahkan bubuk susu sesuai takaran yang dianjurkan pada label dan sesuai kebutuhan bayi.
    7. Tutup kembali botol susu dan kocok sampai susu larut dengan baik.
    8.
    Coba teteskan susu pada pergelangan tangan. Bila masih terasa panas,
    dinginkan segera dengan merendam sebagian badan botol susu di dalam air
    dingin bersih sampai suhunya sesuai untuk diminum.
    9. Sisa susu yang
    telah dilarutkan dalam botol sebaiknya dibuang setelah 2 jam. Dalam
    suhu udara biasa di ruangan terbuka, susu formula yang belum diminum
    dapat bertahan 3 jam. Bila disimpan dalam kulkas dapat bertahan 24 jam.
    Hangatkan dengan cara merendam dalam air panas sebelum diberikan.

    <strong>PERHATIKAN!</strong>

    *
    Cermati kemasan ketika akan membeli susu formula. Apakah memang
    diperuntukkan bagi bayi dan usianya? Cermati tanggal kedaluwarsa.
    Perhatikan cara menyiapkan dan takarannya.
    * Selama memberikan susu
    botol, seperti halnya memberikan ASI, hendaknya ada kontak kulit, mata,
    dan suara antara ibu dengan bayi. Bersenandunglah atau bercakaplah.
    Jangan tinggalkan bayi sendirian memegang botol sambil tiduran karena
    dikhawatirkan dapat tersedak.
    * Jangan berikan susu ketika bayi belum lapar. Berikan sesuai porsi yang dibutuhkan dan buatkan sejumlah kebutuhannya.
    *
    Jangan berikan susu formula full cream untuk bayi karena pencernaannya
    belum mampu menerima kandungan susu full cream dengan baik.
    Sumber: kompas.com

  2. Myaima

    Message Count:
    3
    Likes Received:
    0
    Trophy Points:
    0
    Anak pertama saya dulu sptnya alergi susu sapi. Pipinya merah2 banyak. Akhirnya dikasih elocon untuk meredam kemerahan di pipi. Sempat berganti susu soya sama hipoalergenik, berkurang sedikit tapi tetep ada. Akhirnya balik lagi ke susu sapi sampai sekarang. Kemerahan di pipi lambat laun akhirnya hilang sendiri.

Share This Page