Gangguan pendengaran pada bayi dan anak

Gangguan pendengaran pada bayi dan anak
Berapa banyak bayi yang mengalami ketulian sejak lahir ?

 

Pada tahun tahun pertama kehidupan, pendengaran merupakan bagian kritis dari perkembangan kognitif, social dan emosi seorang bayi.  Bila terjadi gangguan perkembangan pendengaran walaupun ringan tetap akan berdampak pada kemampuan bayi untuk/anak berbicara dan memahami bahasa.

Dari 1.000 kelahiran diperkirakan terdapat 1- 3 bayi akan mengalami gangguan pendengaran

Penyebab Gangguan pendengaran pada bayi dan anak

Berdasarkan penelitian pada bayi yang tuli sejak lahir terdapat sejumlah faktor risiko yang berperan. Namun sekitar separuh bayi yang tuli sejak lahir tidak memiliki satupun faktor risiko.

Faktor faktor risiko yang mungkin menyebabkan gangguan pendengaran adalah:

  1. Lahir belum cukup bulan (prematur).
  2. Pernah dirawat di NICU (Neonatal Intensive Care Unit).
  3. Pada saat hamil, ibu mengalami infeksi TORCH ( Toksoplasma, Rubela, Sitomegalovirus, Herpes)
  4. Kadar bilirubin darah yang tinggi (hiperbilirubinemia), sehingga membutuhkan transfusi tukar.
  5. Terdapat kelainan anatomi pada wajah
  6. Pernah mendapat obat yang bersifat meracuni pendengaran (ototoksik)
  7. Di dalam keluarga terdapat penderita tuli sejak lahir
  8. Mengalami infeksi selaput otak (meningitis)

Kapan sebaiknya dilakukan pemeriksaan?

Gangguan pendengaran pada bayi umumnya ditemukan berdasarkan skrining pendengaran pada bayi. Di negara maju program skrining pendengaran sudah dimulai sejak bayi berusia 2 hari atau sebelum keluar dari rumah sakit. Program ini dilakukan pada semua bayi baru lahir tanpa kecuali karena merupakan ketentuan undang  undang. Program ini dilanjutkan dengan pemeriksaa pendengaran ulangan pada usia 1 bulan. Untuk bayi yang tidak lulus skrining harus melalukan pemeriksaan ulang pada usia  3 bulan.

Gangguan pendengaran pada bayi sudah harus dipastikan pada usia 3 bulan, sehingga bila diketahui bayi mengalami ketulian,upaya habilitasi sudah dapat dimulai pada saat usia 6 bulan.

Dengan memastikan ketulian pada usia 3 bulan dan memberikan habilitasi yang memadai diharapkan pada usia 36 bulan perkembangan wicara anak yang mengalami ketulian tidak terlalu berbeda jauh dengan  anak yang pendengarannya normal.

Di Indonesia beberapa rumah sakit telah menjalankan program skrining pendengaran namun masih bersifat sukarela. Sayangnya tidak semua rumah sakit yang menjalankan program tersebut memiliki fasilitas yang memadai untuk pemeriksaan pendengaran lanjutan. Kendala lainnya adalah belum semua orang tua memahami maksud skrining pendengaran bayi sehingga tidak melalukan pemeriksaan lanjutan

Untuk bayi yang lulus skrining pendengaran, dengan perkataan lain pendengarannya baik,  tetap harus dilakukan evaluasi berkala. Karena pada bayi yang lebih besar atau anak , dapat terjadi risiko lain seperti infeksi telinga tengah, trauma ataupun terpapar dengan suara keras(bising).Berdasarkan pertimbangan tersebut lakukan pemeriksaan pendengaran berkala pada usia 4, 5, 6, 8 10, 12,15 dan 18 tahun; ataupun setiap saat bila ada kecurigaan gangguan pendengaran.

Gejala gangguan pendengaran

Mengenali tanda tanda gangguan pendengaran pada bayi bukanlah hal yang mudah, namun beberapa hal berikut dapat dipergunakan sebagai pedoman;

Untuk bayi berusia kurang dari 12 bulan :

  1. Terkejut bila mendengar suara keras
  2. Mulai usia 3 bulan bayi sudah dapat mengenali suara orang tuanya
  3. Sekitar usia 6 bulan bayi sudah dapat mencari asal/ lokasi bunyi berasal, dengan cara menolehkan kepala atau mata ke arah sumber bunyi
  4. Pada usia 12 bulan bayi sudah mahir meniru suara di sekitarnya dan memproduksi beberapa kata.

Setelah usia 12 bulan gejala-gejala gangguan pendengaran dapat dikenali dengan

  1. Kemampuan wicara terbatas atau tidak ada sama sekali
  2. Perhatian kurang ( inattentive)
  3. Sulit mempelajari sesuatu
  4. Seringkali meminta suara diperkeras (misalnya volume TV)
  5. Tidak memberi respons terhadap ucapan dengan kekerasan yang normal
  6. Salah memberikan jawaban

Jenis Gangguan pendengaran pada anak :

  1. Tuli konduktif
  2. Tuli sensorineural (tuli saraf)
  3. Tuli campur (kombinasi 1 dan 2)
  4. Tuli sentral

Tuli konduktif  terjadi hambatan (peng)hantaran bunyi di liang telinga atau telinga tengah ( middle ear). Liang telinga dapat tersumbat oleh pengumpulan kotoran telinga (serumen), robekan gendang telinga. Gangguan yang terjadi pada telinga tengah misalnya terdapat cairan di tempat sebagai akibat infeksi telinga tengah.

Tuli Sensorineural atau tuli saraf  disebabkan kerusakan/ gangguan di telinga dalam. Peranan penting dari telinga dalam (inner ear) adalah mengirim/ menyampaikan sinyal bunyi ke saraf-saraf pendengaran.

Tuli sentral terjadi akibat kerusakan  pada saraf saraf pendengaran atau bagian otak.

 

  • ayah

    Dok anak saya umur 18 bulan dan setelah tes bera telinga kiri 100 db dan kanan 90 db.bagaimana solusi terbaik untuk menyembuhkan anak saya dan alat bantu dngar mana yg paling sesuai dan kualitasnya bagus.terima kasih dok….. Mohon bantuannya.

  • anha

    Anaj saya umur 18 bl, tdk pernah kaget dg suara keras apakah itu berarti ada
    kelainan pada pendengaran ? rencana bln depan dilakukan pemeriksaan ASR

    • http://www.anakku.net/ Anakku Magz

      Dear Bunda Anha, bagaimana dengan kemampuan bicaranya? sudah ada kata2 yang disebutkan? lalu apakah kepalanya menengok saat dipanggil? Selain pemeriksaan ini, memang sebaiknya harus dilakukan pemeriksaan skrining pendengaran seperti BERA atau OAE untuk memeriksaan fungsi pendengaran anak secara objektif..