Kenali Gejala Alergi Protein Susu Sapi

2

Pernahkah Anda kaget melihat bercak darah di feses anak Anda yang masih berumur tujuh bulan, atau bab-nya selalu encer atau pipinya bintik-bintik merah setelah diperkenalkan susu sapi ?

 

Mungkin saatnya Anda berpikir si kecil alergi terhadap protein susu sapi. Sekitar 5-15% bayi menunjukkan gejala reaksi simpang protein susu sapi. Dari angka tersebut, 2-5%-nya diduga merupakan alergi protein susu sapi.

 

Patut dicurigai kemungkinan alergi susu sapi jika pada keluarga atau pasangan terdapat riwayat alergi (atopi).

 

Riwayat alergi Risiko alergi pada anak
salah satu orang tua 20-40%
salah satu saudara 25-35%
kedua orang tua 40-60%
tidak ada 5-15%

 

Gejala alergi dapat bersifat ringan ataupun berat, mulai dari saluran cerna, kulit, hingga gejala sistemik. Gejala saluran cerna dari mulai gumoh, muntah, hingga buang air besar berdarah, atau terjadi gangguan kulit dari yang ringan hingga berat. Bahkan, meski angkanya jarang, bisa juga terjadi syok atau pembengkakan saluran napas yang membuat anak sesak napas.

Begitu bervariasinya gejala alergi membuat orang tua atau dokter bisa salah mendiagnosis saat pertama kali memeriksa. Gejala-gejala ini, biasanya muncul pada minggu pertama setelah pengenalan protein susu sapi. Kebanyakan gejala melibatkan setidaknya dua organ tubuh, yang paling sering saluran cerna (50-60%), kulit (50-60%), diikuti saluran napas (20-30%). Sekitar 50% anak bisa mentoleransi susu sapi pada usia 2 tahun, 60%-nya pada usia 4 tahun, dan 80%-nya usia 6 tahun.

Tabel: gejala alergi protein susu sapi yang sering muncul

Saluran cerna Sering gumoh, muntah, diare, sulit buang air besar, darah pada feses, anemia akibat kekurangan zat besi 
Kulit Dermatitis atopiPembengkakan bibir atau kelopak mata (angioedema), bentol-bentol
Pernapasan Pilek (infeksi telinga tengah), batuk kronis, mengi (napas ngik-ngik) yang tidak berhubungan dengan infeksi
Umum Kolik atau rewel yang persisten > 3 jam perhari, setidaknya 3 hari dalam satu minggu selama satu periode lebih dari 3 minggu.

 

Mengapa alergi ?

Alergi adalah reaksi simpang yang didasarkan pada sistem daya tahan tubuh (imun) di dalam tubuh. Ternyata proses pengenalan zat asing (alergen) sebagai penyebab alergi sudah mulai                                terjadi pada saat bayi dalam kandungan yang amat tergantung pada bakat alergi seorang anak. Ketika ia lahir lalu berkenalan dengan protein susu sapi, daya tahan tubuh bayi bereaksi, dan pada jumlah yang cukup dapat menimbulkan gejala.

 

Kapan harus waspada?

Alergi bisa menyebabkan berbagai komplikasi yang menjadi gejala alarm, yaitu bila anak sudah kekurangan gizi atau diare dan muntah kronis sehingga kekurangan protein, apalagi jika anak menjadi syok atau sesak napas yang membutuhkan tindakan segera.

 

Mungkinkah alergi dapat dicegah?

  1. Penundaan pengenalan susu sapi selama mungkin  dapat mencegah terjadinya alergi protein susu sapi. Air susu ibu merupakan pilihan pertama.
  2. Apabila pada pemeriksaan darah bayi, sudah terjadi respon antibodi (sensitisasi) terhadap protein susu sapi, dan ASI tidak mungkin diberikan, bisa dilakukan penghindaran susu sapi dengan cara pemberian susu sapi non alergenik atau pengganti susu sapi seperti susu kacang kedele agar tidak terjadi sensitisasi selanjutnya. Ini berguna untuk mencegah timbulnya gejala alergi.
  3. Untuk gejala alergi yang sudah muncul tetapi ringan atau sedang, tetap lanjutkan ASI, dan lakukan diet eliminasi pada ibu dengan cara menghindari susu sapi, telur, makanan laut, dan kacang selama 2 minggu ditambah suplementasi kalsium. Jika tidak ada perbaikan, maka diet ibu tetap dilanjutkan tetapi anak diperkenalkan dengan formula hidrolisat eksensif. Sedangkan jika ada perbaikan, kenalkan kembali satu jenis makanan yang tadi tidak diperbolehkan pada diet ibu setiap minggunya.
  4. Sedanggkan untuk gejala yang berat, perlu rujukan ke dokter spesialis alergi dan imunologi anak untuk diagnosis dan penatalaksanaan lebih lanjut.

 

Referensi :

  • Handsout “Updates in Pediatric Allergic and Immunologic diseases (UPAID) 2009.” Juli 4-5, 2009. Auditorium FMUI (Aula FKUI). Jl. Salemba raya No.6 Jakarta.
Share.

About Author

dr. Syawitri Siregar, SpA(K) - Divisi Alergi-Imunologi Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM Jakarta

  • vika

    dokter… setelah saya membaca artikel tentang alergi susu sapi, sptnya anak saya mengalaminya ada kesamaan dalam tanda dan gejalanya.. tapi mungkinkah anak ketahuan alergi susu sapi setelah anak berusia 1,3 bulan dan kalau langsung saya ganti susunya dengan susu kedelai apakah susu kedelai baik untuk anak usia 1,3 bulan… trimakasih

  • Faza

    salam ..
    Dok, bagaimana jika setelah minum susu sapi langsung mules mules, kadang disertai mencret atau kadang malah susah buang air besar, apa itu alergi?
    Terimakasih dok..