Konseling Pra-konsepsi, Perisai Kehamilan Sehat

Konseling Pra-konsepsi, Perisai Kehamilan Sehat
Percayakah Anda, The Centers for Disease Control and Prevention memperkirakan separuh kehamilan di dunia ini tidak terencana.

 

Yuni, 32 tahun, bersyukur melakukan konseling pra-konsepsi sebelum kehamilan keduanya. Itu pun karena ia menyadari bahwa penyakit diabetesnya mungkin dapat mempengaruhi kehamilan, “Saya diketahui punya diabetes setelah kelahiran anak pertama. Karena anak saya sudah berumur 5 tahun, sebelum hamil lagi, saya menjalani terapi agar gula darah saya terkontrol”

Selama kehamilan keduanya, dokter memintanya menjaga asupan makanan hanya 1700 kalori perhari. Ia pun menyuntikkan insulin setiap hari demi menjaga gula darahnya tetap terkontrol. Memang hal ini dirasa berat oleh Yuni. “Demi bayi saya, tidak apa-apa deh menahan nafsu makan sedikit. Tapi, hasilnya, bayi saya berat badan lahirnya tidak berlebihan, dan kenaikan berat badan saya juga tidak over.”

Konseling pra konsepsi, untuk apa?

Konseling pra konsepsi membantu ibu mengetahui risiko yang dapat mempengaruhi kehamilan dan memberi saran-saran –jika perlu terapi- untuk mengurangi risiko tersebut.  Idealnya dilakukan sebelum ibu hamil. Kebanyakan ibu menyadari kehamilannya satu minggu setelah terlambat haid, dan pada saat itu, organ saraf janin mulai terbentuk dan jantungnya telah berdenyut.

Masa-masa kritis pembentukan organ janin adalah di 3 bulan pertama kehidupannya dalam rahim. Apa pun yang terjadi mungkin saja bisa berdampak kecacatan atau bahkan keguguran. Sayangnya, sebagian kehamilan tidak direncanakan, bahkan terlambat diketahui.

  • Pemberian asam folat sebelum hamil mencegah kelainan selubung saraf janin, dan tidak akan berguna bila selubung saraf telah terbentuk.
  • Insidens kecacatan janin meningkat menjadi 8,8% pada ibu diabetes yang tidak melakukan konseling pra konsepsi, dibandingkan hanya 1% pada ibu yang melakukannya.
  • Ibu yang minum obat anti-epilepsi memiliki risiko dua-tiga kali lipat memiliki bayi dengan kecacatan. Konseling pra konsepsi dapat membantu ibu mengganti atau mengurangi jenis obat anti-epilepsi.
  • Sebanyak 80% ibu dengan penyakit kronik (asma, hipertensi, penyakit tiroid, atau jantung) yang menjalani konseling pra-konsepsi melahirkan bayi yang sehat dibandingkan hanya 40% pada kelompok yang tidak melakukannya.

Sebuah penelitian di luar negeri mengungkapkan dari 136 ibu yang secara acak melakukan konseling pra-konsepsi, diketahui 52%-nya memiliki masalah seputar organ reproduksi, 50%-nya memiliki riwayat penyakit genetik pada keluarga, 30% berisiko terkena HIV dan hepatitis B, 25% pernah menggunakan obat-obatan terlarang, dan 54% berisiko secara nutrisi.

image : simplehomemade.net

Melakukan konseling pra konsepsi

Konseling pra-konsepsi tidak sama dengan konseling pra-nikah, karena konseling ini tak hanya diberikan pada pasangan yang akan menikah tetapi pada setiap kehamilan yang akan dijalani.

Dalam konseling, akan digali berbagai faktor risiko dari mulai usia, riwayat penyakit, kebiasan merokok atau minum obat-obatan tertentu, pekerjaan, lingkungan sekitar,  pola nutrisi, hingga imunisasi yang pernah ibu lakukan. Jika diperlukan, ibu pun diminta untuk melakukan beberapa uji skrining.

Dalam konseling, kita akan mengetahui berbagai faktor yang mempengaruhi kehamilan, antara lain:

Faktor usia

  1. Remaja yang hamil. Sayangnya kelompok ini amat jarang yang merencanakan kehamilannya, lebih berisiko melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah dan prematur. Mereka lebih sering anemia dan memiliki masalah dengan asupan nutrisinya.
  2. Kehamilan di atas 35 tahun, selain mulai dihinggapi penyakit kronis (hipertensi, diabetes) juga lebih tinggi kemungkinannya mempunyai bayi kembar atau bayi dengan kelainan kongenital akibat kelainan kromosom.

Faktor kebiasaan, pekerjaan dan lingkungan

  1. Mengonsumsi ikan laut tertentu konon berhubungan dengan keracunan merkuri yang membahayakan perkembangan janin. FDA merekomendasikan ibu hamil untuk tidak mengonsumsi ikan tertentu seperti ikan hiu, ikan todak, king mackarel, ikan laut dalam, dan membatasi konsumsi makanan laut tak lebih dari 12 ons perminggu.
  2. Bekerja di lingkungan kesehatan (dokter, perawat) yang sering menangani penyakit anak dapat tertular kuman antara lain sitomegalovirus, rubella, atau parvovirus yang dapat mempengaruhi perkembangan janin.
  3. Bekerja di lingkungan berkaitan zat kimia seperti logam berat atau pelarut organik atau pestisida juga lebih mudah terpapar zat-zat yang berpotensi berbahaya untuk kehamilan.

Faktor keluarga

  • Dalam konseling, akan digali berbagai risiko kehamilan dari faktor keluarga , misalnya kemungkinan adanya kelainan genetika (antara lain talasemia, kelainan darah yang mengharuskan anak ditransfusi darah seumur hidup), dan akan diberikan berbagai alternatif untuk menghadapinya.

Riwayat imunisasi

  • Riwayat imunisasi ibu juga akan dinilai termasuk apakah ibu memerlukan imunisasi tertentu. Beberapa penyakit yang dapat membahayakan kehamilan sebenarnya dapat dicegah dengan imunisasi misalnya rubella atau hepatitis B.

Yuk, skrining pra konsepsi

  1. Status imunitas Hepatitis B
  2. Pemeriksaan darah komplet
  3. Hemoglobin elektroforesis, untuk yang berisiko mengalami kelainan darah (misalnya talasemia)
  4. Pemeriksaan spesifik tergantung kondisi ibu apakah mengidap penyakit kronis atau tidak (fungsi hati, fungsi ginjal, kardiovaskular, dan sebagainya)
  5. TORCH (Toksoplasma, Rubella, Cytomegalovirus, Herpes simpleks)

Referensi :

  1. Preconceptional Counseling. Available in:  Cunningham FG, Leveno KJ. William obstetrics. 22ed. McGrawHill publication. USA. 2005.
  2. Adams MM, Bruce FC, Shulman HB, et al: Pregnancy planning and preconception counseling. Obstet Gynecol 82:955, 1993