Kotak obat

Kotak obat

Sudah adakah kotak obat di rumah Anda ?

Sayang sekali jika jawabannya belum. Kotak obat adalah tempat khusus untuk menyimpan obat dengan baik dan benar. Penyediaan obat di rumah mempunyai fungsi vital dalam menegakkan swamedikasi.

Swamedikasi (self medication) ialah pengobatan oleh diri sendiri, baik dalam mengenali penyakit maupun menentukan obat yang tepat. Penyediaan obat swamedikasi sebaiknya menggunakan kotak obat. Pemilihan ukuran dan jenis bahan kotak obat hendaknya disesuaikan dengan kebutuhan. Kotak obat ukuran kecil berbahan plastik lebih flesksibel untuk perjalanan, sedang kotak obat ukuran besar memungkinkan untuk menyimpan obat yang lebih beragam.

Apa isi kotak obat Anda?

kotak obat | trendir.com

 

Sebelum memutuskan jenis maupun merek obat yang akan kita sediakan, kita harus tahu bahwa golongan obat bebas dan obat bebas terbatas merupakan golongan yang diperbolehkan untuk swamedikasi.

a). Analgetik-antipiretik

Pastikan analgetik masuk dalam daftar. Analgetik-antipiretik ialah obat-obat yang mampu meredakan atau mengurangi gejala nyeri serta menurunkan demam.

Menurut BPOM, analgetik-antipiretik yang paling aman ialah obat dengan komponen aktif parasetamol. Golongan asetosal dilaporkan lebih efektif, namun tidak disarankan untuk orang yang menderita tukak lambung dan ekstra hati-hati untuk anak di bawah 12 tahun.

b). P3K

Perlengkapan pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K) juga wajib ada. Di antaranya cairan antiseptik, perban gulung, dan mitela. Obat-obat batuk flu perlu disediakan lengkap sesuai jenis batuk. Batuk basah (berdahak), batuk kering, batuk disertai flu, ataukah batuk alergi perlu pengobatan yang berbeda.

c). Lain-lain

Selain itu, khusus anggota keluarga yang menderita penyakit khusus atau kronis perlu mendapat perhatian, misal aerosol antiasma, berbagai jenis antihistamin (anti alergi), dan obat maag.

Kita wajib menyiapkan obat-obatan untuk penyakit-penyakit yang bersifat epidemiologik (musiman) misal cacingan, diare, gangguan kulit, iritasi ringan pada mata dll.

Siap sedia suplemen mineral+multivitamin penting di saat daya tahan tubuh drop maupun masa penyembuhan. Penyediaan jenis obat wajib mempertimbangkan kategori umur anggota keluarga. Bila perlu, konsultasi ke apoteker untuk memilih obat yang perlu disediakan di rumah.

Kontrol kedaluwarsa

Lakukan pengontrolan tanggal kedaluwarsa obat secara berkala. Obat yang tanggal kedaluwarsa tinggal satu bulan sebaiknya dibuang. Pengotrolan kualitas fisik suatu obat dapat dilihat melalui kemasannnya, jika kemasan telah berubah semenjak dari awal pembeliannya maka obat tersebut dapat dipastikan mengalami penurunan kualitas.

Kualitas obat mungkin berubah karena suhu, kelembaban, maupun cahaya. Obat yang berubah konsistensi, bau, warna, rasa, dll sebaiknya tanyakan ke apoteker apakah masih layak digunakan. Sirup misalnya hanya bertahan selama satu bulan setelah tutup botol dibuka.

Pengaturan obat di kotak obat harus dilakukan secara profesional. Sistemasi peletakkan obat sebaiknya didasarkan dari bentuk sediaan, misal tablet disatukan dengan tablet, salep jangan didekatkan dengan sirup. Peletakan yang salah selain mengurangi kualitas obat dapat menyulitkan pengambilan.

Letakkan kotak obat di suhu kamar (25 derajat C) dan jauh dari jangkauan anak-anak. Setidaknya kotak obat berada 1,5 m dari lantai, dan jika perlu dilengkapi dengan kunci.

Kotak obat wajib dijaga kebersihannya. Buatlah kotak obat Anda menarik, misalnya dengan melengkapinya dengan informasi mengenai penyakit yang bisa di-swamedikasi, seputar indikasi, aturan pakai, peringatan, kontra indikasi, efek samping, maupun cara penyimpanan khusus.

Adanya kotak obat memposisikan kita sebagai manajer kesehatan bagi keluarga. Kita dapat menentukan obat untuk penyakit dengan tepat, mengontrol persediaan obat-obat, dan tentunya menjadi super hero bagi keluarga.

Referensi:

  1. Sukasediati, Nani dkk., 1999,  Pola Penggunaan Obat dan Obat Tradisional dalam Upaya Pengobatan Sendiri di Pedesaan, Cermin Dunia Kedokteran ISN: 0125 – 913X.
  2. Anonim, 2006, Pedoman Penggunaan Obat Bebas dan Bebas Terbatas,  Departemen Kesehatan RI, Jakarta.
  3. Özkan, Birkan Taha dkk., 2010, The Evaluation of Safety and Analgesic Efficacy of Paracetamol and Ibuprofen Followed by Impacted Third Molar Surgery, taken from European Journal of General Medicine 2010;7(3):310-316.
  4. Anonim, 2010, Responsible Self-Care andSelf-Medication A Worldwide Review of Consumer Surveys, taken from The World Self-Medication Industry, France.