Lahir Normal setelah Operasi Caesar, Mengapa Tidak?

Lahir Normal setelah Operasi Caesar, Mengapa Tidak?
cesar.jpgHasil sebuah audit di Inggris menunjukkan angka permintaan ibu untuk operasi caesar meningkat, bahkan tanpa adanya indikasi medis.

Memang ada kecenderungan angka operasi caesar meningkat.

 

Hasil sebuah audit di Inggris menunjukkan angka permintaan ibu untuk operasi caesar meningkat, bahkan tanpa adanya indikasi medis.

Memang ada kecenderungan angka operasi caesar meningkat. Misalnya di Brasil yang merupakan negara ‘operasi caesar’ tertinggi, satu dari tiga ibu melahirkan dengan cara ini. Di Norwegia dan di Selandia Baru angkanya masih 10-13 persen, sedangkan di Amerika Serikat angkanya terus meningkat 1 persen tiap tahunnya. Ditambah lagi, bila anak pertama lahir caesar, biasanya anak kedua dan seterusnya pun sama, menyebabkan angkanya makin besar.

Persalinan caesar bukannya tanpa kekurangan. Angka kematian akibat caesar kecil tetapi tetap lebih tinggi dibanding proses kelahiran normal. Demikian juga, risiko pembiusan ataupun luka operasi, infeksi, nyeri setelah melahirkan, psikologis, waktu perawatan yang lebih panjang, dan biaya yang lebih besar. Selain itu, bekas luka operasi pada rahim (uterus) dapat membuka meski kebanyakan tidak bergejala dan tidak berbahaya, yang disebut ‘window of uterus’.

Sekali caesar, tetap caesar?

Mitos bahwa sekali caesar tetap caesar muncul karena melahirkan normal setelah caesar bisa menyebabkan rahim robek (ruptur uteri). Benarkah demikian?

Seperti yang dimuat jurnal New England Journal of Medicine,  secara umum risiko rahim robek pada yang lahir normal setelah saesar adalah 4,5 persen. Data lain menunjukkan angka ‘window of uterus’ ataupun rahim robek terjadi kurang dari 2 persen pada yang lahir normal setelah caesar. Sebesar 2,8 persen per 10.000 ibu yang melahirkan normal setelah caesar berisiko meninggal, sementara angkanya 2,4 persen pada yang kembali caesar.

Penelitian  tahun 2004 di 19 rumah sakit pendidikan pada 33.000 ibu lahir normal setelah pernah caesar lebih tinggi risikonya menyebabkan rahim robek, kesehatan bayi terganggu, infeksi rahim, dan transfusi darah, meskipun angkanya tak terlalu berbeda dengan ibu yang operasi berulang. Risiko rahim robek akan bertambah signifikan bila ibu melahirkan dengan induksi memakai obat yang mengandung prostaglandin.

Jika risiko melahirkan normal setelah caesar lebih besar, mengapa masih ada yang memilihnya? Selain bila ditilik dari angka, risikonya tak jauh beda, ibu yang sukses lahir normal akan melewati masa rawat lebih pendek dan nyaman. Risiko demam juga lebih rendah daripada yang operasi caesar berulang. Juga, bagi yang ingin punya anak lagi, lahir normal setelah caesar bisa mengurangi risiko operasi berulang seperti robeknya rahim, kelainan plasenta (plasenta melekat pada rahim dan sulit dilepaskan), dan komplikasi lain akibat operasi perut yang berulang.

Memutuskan normal setelah caesar

Pada akhirnya, keputusan untuk caesar atau normal ditentukan oleh si ibu. Sekitar 30-50 persen memilih untuk operasi lagi, kebanyakan dengan alasan takut gagal lahir normal, khawatir dengan bahaya melahirkan normal, takut nyeri, dan jadwal kelahiran yang tidak pasti. Bagi yang ingin mencoba lahir normal, beberapa hal perlu dipertimbangkan:

Operasi caesar lebih dari satu kali

Melahirkan normal setelah satu kali operasi caesar sudah diterima banyak kalangan, tidak demikian bagi yang menjalani lebih dari satu kali operasi. Ditambah lagi, kemungkinan terbukanya bekas luka operasi pada rahim lebih besar. Meski demikian, belum ada cukup bukti bahwa ibu yang operasi lebih dari satu kali lebih tinggi risikonya daripada yang hanya satu kali, semua masih menunggu hasil penelitian.

Penyebab operasi caesar terdahulu

Bagi yang pernah operasi caesar karena bayi sungsang, kemungkinannya cukup besar untuk bisa lahir normal pada anak berikutnya. Sedangkan bila panggul sempit, proses persalinan yang tak maju-maju, atau bayi sulit melewati jalan lahir, punya kemungkinan paling rendah, meski bukan tidak mungkin untuk bisa lahir normal pada persalinan berikutnya.

Pernah bersalin normal

Ibu-ibu yang pernah melahirkan normal sebelum atau sesudah caesar lebih besar kemungkinannya untuk lahir normal lagi. Terutama bila persalinan normal yang terdahulu dilakukan setelah caesar.


Jenis sayatan operasi pada rahim

Dulu, sayatan operasi pada rahim amat berisiko menyebabkan rahim robek, yaitu sayatan yang berbentuk vertikal memotong otot rahim. Untungnya saat ini teknik operasi telah berkembang dan jauh lebih aman. Tak ada salahnya menanyakan jenis sayatan operasi pada dokter Anda, dan bagaimana risikonya bila Anda berencana lahir normal pada anak berikutnya.

 
Usia kehamilan saat operasi terdahulu

Umumnya, rahim belum sepenuhnya ‘siap’ bila bayi harus dikeluarkan pada kehamilan yang masih muda, misalnya saat kehamilan 7 bulan. Risikonya, sayatan operasi tak bisa dilakukan pada tempat yang seharusnya, yang secara teori, meningkatkan risiko robeknya rahim pada persalinan berikutnya. Tetapi, secara penelitian memang belum dibuktikan.
Mempersiapkan persalinan–apakah akan caesar atau normal–sebaiknya dilakukan sedini mungkin. Tanyakan selalu pada dokter, persiapan terbaik dan berbagai risikonya sesuai dengan jenis persalinan yang akan Anda pilih, sebab jenis persalinan pada anak pertama dapat memengaruhi persalinan yang berikutnya.

Referensi:

  1. E Murray, K Marc, Neilson J, Crowther C, Duley L, Hodnett E, Hofmeyr J. A guide to effective care in pregnancy and childbirth. Oxford UK: Oxford University Press, 2000.
  2. Landon MB, Hauth JC, Leveno KJ, Spong CY, Keindecker S, Varner MW, et al. Maternal and perinatal outcomes associated with a trial of labor after prior cesarean delivery. N Engl J Med 2004, 351;25. p2581-9
  3. Green MF. Vaginal delivery after cesarean section – is the risk acceptable?. N Engl J Med 2001, 345;1. p54-5