Mengapa Anak Menolak ASI?

Mengapa Anak Menolak ASI?

Mengapa Anak Menolak ASI ?

Pada keadaan tertentu, bayi Anda tampak tak antusias minum ASI. Mungkin beberapa hal ini penyebabnya.

1. ¨Aku sakit, Ma…¨
Sakit selain membuat bayi rewel juga membuat ia tak mau minum ASI. Infeksi saluran napas atas ditandai dengan gejala batuk, pilek, hidung tersumbat, disertai demam membuat ia tak nyaman saat menyusu.

Infeksi telinga tengah juga ditandai dengan anak yang rewel dan menolak minum ASI. Infeksi ini sering berawal dari batuk pilek disertai nyeri di telinga, biasanya anak rewel dan sering memegang telinganya.

Nyeri di area mulut seperti sariawan atau jamur di lidah juga bisa mempengaruhi nafsu makannya. Si kecil tampak ingin minum, tapi begitu mulutnya menyentuh puting Anda, ia menangis karena nyeri. Cobalah periksa mulutnya, apakah giginya mulai tumbuh, ada sariawan, ataupun selaput putih yang sulit hilang menandakan adanya jamur.

Infeksi saluran pencernaan dengan gejala muntah dan diare juga sering disertai tak nafsu makan. Diare dalam jumlah yang banyak mungkin saja disertai gangguan garam tubuh yang membuat anak lemas dan malas melakukan aktivitas termasuk aktivitas favoritnya, minum ASI. Biasanya pada awal diare, anak malah semakin sering minum ASI, waspadai bila kemudian ia  menolak ASI dan tampak ingin tidur terus apalagi diare terjadi lebih sering dan banyak. Itu mungkin petanda anak kekurangan cairan.

Tak mau minum ASI disertai gejala sesak napas dan demam  juga bisa menjadi tanda gawat pada penyakit radang paru-paru (pneumonia). Gerak napasnya bisa meningkat hingga mencapai lebih dari 50 kali untuk bayi dan 40 kali  per menit untuk usia satu sampai lima tahun. Apalagi bila anak kelihatan sangat sulit bernapas hingga otot-otot dadanya tampak bekerja keras atau bibir menjadi biru yang menandakan si kecil sudah kekurangan oksigen.

Penyakit lain yang jarang terjadi seperti kelainan jantung atau ginjal juga kerap disertai anak tak suka minum ASI.

Untungnya, kebanyakan penyakit hanyalah penyakit batuk pilek yang dapat sembuh dengan sendirinya. Dan begitu gejalanya mereda, minum ASI akan menjadi kegiatan kesukaannya lagi.

2. ¨Aku tidak lapar…¨
Setiap anak memiliki pola minum susu sendiri. Yang bisa dilakukan adalah membuat pola teratur untuknya karena bayi biasanya lebih senang dengan keteraturan. Perubahan jadwal atau terlambat memberi ASI hingga ia kehausan bisa membuatnya “marah” dan tak mau menyusu. Meskipun prinsip menyusui adalah on demand atau sesuai keinginan bayi, membentuk pola menyusui yang teratur membuat bayi lebih mudah menyesuaikan diri.

Proses membentuk keteraturan tak berarti ibu memaksakan memberi ASI bila anak sedang tak menginginkan, atau sebaliknya tak memberikan saat anak ingin di luar jam yang ditentukan. Aktivitas yang tinggi atau udara yang panas membuatnya lebih cepat haus dan ingin minum lebih sering. Sebaliknya, mungkin juga sebelumnya ia terlalu banyak minum ASI sehingga merasa kenyang dan belum ingin minum pada jam yang seharusnya. Jadi, bila si kecil suatu saat tak berminat dengan tawaran ASI Anda, bukan berarti ia sedang sakit atau karena penyebab menkhawatirkan lainnya.  Mungkin ia memang belum haus.

3. ¨Aku sedang ingin bermain…¨
Semakin usianya besar, semakin senang ia bereksplorasi. Lingkungan yang menarik membuatnya tampak tak berminat dengan ASI Anda. Padahal yang terjadi adalah ia makin ahli minum sehingga membutuhkan waktu lebih cepat untuk mengisap puting Anda dan mendapat jumlah lebih banyak dibanding saat ia masih bayi mungil dulu.

4. ASI mulai berkurang
Aktivitasnya yang bertambah seiring usia serta tumbuh kembangnya yang makin pesat membuat ASI tak bisa lagi menjadi satu-satunya sumber nutrisi. Lama-lama, si kecil hanya sekadar “ngempeng” dan akhirnya tak antusias lagi menyusu. Mungkin inilah saatnya Anda menyapihnya.

BOKS :

Berbagai hal lain yang mungkin membuatnya “ogah” menyusu:

  1. perubahan sabun atau pewangi ibu yang menyebabkan bau yang berbeda bagi bayi
  2. Perubahan rasa atau jumlah ASI akibat obat-obatan dan vitamin tertentu atau perubahan hormonal akibat pemberian kontrasepsi hormonal yang mengandung estrogen.
  3. Ibu dalam keadaan stres atau sakit yang membuat jumlah ASI berkurang

Referensi :

  • Behrman, Klegman, Arvin. Nelson Textbook of Pediatrics. WB Saunders. USA. 1996