Mengukur kecerdasan anak

Mengukur kecerdasan anak
Pernah mencoba :  Mendeteksi Kecerdasan Si Kecil Sejak Dini ?

 

Mira (28), terkejut campur haru manakala mendapati Kania putri kecilnya sudah bisa membaca. Ini diketahuinya menjelang hari ulang tahunnya yang ke-empat. “Ma, nanti kalau aku ulang tahun, jangan lupa pesan badut yah, ini nomor teleponnya 88725xx.” Tentu saja Mira terkejut, darimana Kania tahu cara pemesanannya? Selidik punya selidik, ternyata ia membaca selebaran yang ditempel di salah satu tiang listrik dekat rumah. “Duh, pintarnya anakku,” gumam Mira sambil tersenyum.

Dari cerita di atas, sepakatkah Anda jika Kania dikatakan cerdas? Bagaimana mengukur kecerdasan pada anak? Berbicara tentang mengukur kecerdasan pada anak, pasti banyak orang tua yang penasaran. Untuk mengetahui lebih dalam mengenai masalah ini, Roslina Verauli, MPsi membahasnya dalam acara Smart Parents Conference Frisian Flag Indonesia pada 24-26 Juli 2009 di Jakarta Convention Center.

Apa itu kecerdasan?

Mendengar kata Inteligensi atau biasa dikenal dengan kecerdasan, yang ada di benak kita adalah kecerdasan dalam arti kapasitas yang dimiliki individu, sehingga memungkinkan seseorang untuk belajar, bernalar, memecahkan masalah, dan melakukan tugas-tugas kognitif lainnya. Intelegensi yang tinggi selalu dikaitkan dengan orang yang mempunyai kemampuan seperti Albert Einstein. Sementara individu yang berada pada ekstrim satunya, dicap sebagai orang dengan inteligensi rendah atau keterbelakangan mental.

Meskipun para ahli terutama di bidang psikologi belum mampu merumuskan term inteligensi dengan tepat, sudah banyak usaha yang dilakukan untuk melakukan pengukuran terhadap inteligensi bahkan sejak awal 1900-an. Ini bermula dari sebuah sekolah di Perancis yang ingin membuat program pendidikan berdasarkan kecerdasan anak agar diperoleh manfaat yang optimal. Alfred Binet merancang alat tes yang dapat membedakan siswa yang cerdas dengan yang tidak. Hingga tercipta sebuah tolok ukur bernama IQ atau Intelligence Quotient.

IQ merupakan satuan skor yang menunjukkan taraf kemampuan skolastik seseorang. “Secara umum tes IQ hanya terbatas sebagai alat untuk mengukur kemampuan verbal, logik matematika, dan spatial, yaitu sejumlah kemampuan yang dikembangkan di dalam lingkup akademis alias di sekolah,” kata psikolog anak yang biasa dipanggil Vera ini.

“Sebagai alat untuk mengukur potensi kecerdasan akademis, IQ tepat digunakan untuk meramalkan kesuksesan seorang anak di bidang akademis kelak. Bahkan sejak dini, anak sudah dapat diukur sejumlah potensi akademisnya sehingga dapat ditentukan apakah ia siap atau tidak untuk masuk sekolah, ” tambahnya.

Dari sejumlah penelitian terhadap keluarga, anak adopsi, dan saudara kembar, dipastikan bahwa faktor genetis memiliki sumbangan atas inteligensi pada seorang anak. Diperkirakan 40-80% perbedaan inteligensi pada individu dipengaruhi oleh faktor keturunan atau faktor genetis. Namun ketiga penelitian tersebut juga menemukan bahwa faktor lingkungan juga turut memengaruhi inteligensi seseorang.

Adapun sejumlah faktor lingkungan yang turut memengaruhi perbedaan inteligensi antar individu antara lain, stimulasi dari lingkungan, terutama orangtua atau keluarga yang peka pada kemampuan yang ditampilkan anak, tempat tinggal atau lingkungan yang kaya fasilitas penunjang kecerdasan, stimulasi pendidikan dan pelatihan yang memadai.

Mendeteksi kecerdasan sejak dini

Kecerdasan dapat dideteksi sejak dini, yaitu sejak seorang anak mampu menampilkan perilaku tertentu. Tentu saja kecerdasan pada bayi tidak sama dengan kecerdasan balita dan anak. Pada bayi ranah kecerdasan masih di seputar perkembangan kemampuan motor dan bahasa. Bayi yang cerdas akan memiliki kemampuan motor dan berbahasa yang melebihi bayi seusianya. Sementara pada anak dan balita, kemampuan ini berkembang menjadi kemampuan motorik kasar, motorik halus, bahasa, hingga kemampuan personal, dan sosial.

Untuk mendeteksi tingkat kecerdasan bayi dan balita, orangtua perlu memahami perkembangan yang normal pada bayi dan balita sehingga dapat dijadikan patokan atau ukuran dalam menentukan apakah seorang anak sudah mampu mencapai tahap perkembangan seperti anak seusianya atau belum.

Merangsang kecerdasan anak sudah dapat dilakukan sejak dini. Orangtua hanya perlu memastikan sudah seberapa jauh peduli dan menghargai setiap kemampuan yang dimiliki anak.

Tips bagi orangtua untuk mengembangkan kecerdasan anak sejak dini;

  1. Pastikan kebutuhan dasar anak terpenuhi
  2. Jeli pada potensi dan bakat anak dengan memberinya berbagai rangsangan melalui kegiatan yang bervariasi dan menyuguhkan sarana atau prasarana yang mendukung.
  3. Disiplin melatih potensi kecerdasan anak
  4. Memberi model perilaku yang tepat dan menunjukkan minat pada kegiatan anak
  5. Menciptakan hubungan yang penuh kasih sayang dengan tidak membandingkan

Potensi kecerdasan hanya akan terpendam bila tidak dijadikan kemampuan melalui serangkaian stimulasi dan tak akan menjadi prestasi tanpa latihan dan disiplin. Kembangkan pola asah asih dan asuh, agar buah hati Anda tumbuh menjadi anak yang sehat dan cerdas. (RM)

Sumber:

  • Verauli, R, Mpsi. Makalah seminar “Smart Parents Conference”. Mengukur Kecerdasan Anak. 24 Juli 2009. Jakarta Convention Center