Sensori Integrasi

0

Apa Itu Gangguan Sensori Integrasi ?

Ayres (2005) menyebutkan gangguan sensori integrasi sebagai:     ¨When the brain is not processing sensory input well, it usually is not directing behavior effectively, either.”

 

Hal di atas dapat diibaratkan seperti perumpamaan radio. Apabila sedang mencari channel suatu stasiun radio tertentu, maka kita akan melewati suatu distorsi suara. Pada saat itu telinga kita akan mendengar suara tersebut, namun otak kita tidak mampu mengolah rangsang sensori. Setelah channel radio ditemukan, maka suara terdengar lebih jernih dan informasi yang disampaikan dapat diterima dengan jelas. Pada saat itu, otak kita akan mampu menerima, mengartikan dan menggunakan informasi untuk kehidupan.

 

Selanjutnya, Ayres menyebutkan bahwa individu dengan gangguan sensori integrasi sering kali salah mengartikan informasi sensorik yang masuk. Individu ini merasa seperti dihujani dengan informasi dan tidak mampu memproses informasi yang masuk.

Secara fisiologis, gangguan sensori integrasi mencerminkan adanya disfungsi neurologis sentral yang ringan, yang meliputi sistem multisensorik. Kelainan ini mempengaruhi perilaku seseorang dalam cara-cara yang sulit dipahami, kecuali diamati oleh profesional, yang secara khusus mempelajari teori sensori integrasi.

 

Miller dan kawan-kawan (2004) membagi gangguan sensori integrasi ke dalam 3 (tiga) kelompok besar:

1. Gangguan sensori modulasi (sensory modulation disorder), yaitu kesulitan dalam mengatur intensitas respon adaptif terhadap suatu stimulus tertentu. Individu yang mengalami ganguan modulasi dapat menunjukan reaksi yang tidak sesuai dengan situasi. Menunjukan reaksi berlebihan atau bahkan tidak bereaksi.

Contoh :

  • anak tidak tahan dengan suara blender, maka ia akan menangis, menutup telinga, lari ke kamar atau minta blender dimatikan.

2. Gangguan diskriminasi sensori (sensory discrimination disorder), yaitu ketidakmampuan dalam mengartikan kualitas sentuhan, gerakan dan posisi tubuh atau kesulitan dalam mempersepsikan suatu input secara tepat (Bundy, dkk, 2002).

Contoh :

  • mainan sering rusak, karena anak tidak bisa mengontrol kekuatan
  • menulis terlalu tebal atau tipis. Gangguan diskriminasi visual akan menghambat anak dalam perkembangan membaca. Sedangkan gangguan diskriminasi taktil akan mengganggu perkembangan motorik halus, seperti menulis.

 

3, Gangguan praksis (sensory based motor-disorder), yaitu ketidak mampuan dalam merencanakan suatu gerak motorik baru, sebagai manifestasi gangguan pemrosesan sensoris dari sistem vestibuler dan proprioseptif (Bundy, dkk, 2002).

Contoh : Anak lebih lama melakukan sesuatu dari anak lain, misalnya belajar naik sepeda, menalikan sepatu, menulis, dsb. Ada pula anak yang menghindari berbagai  aktivitas karena tidak dapat melakukan dengan baik.

 

Gangguan yang sering diikuti dengan gangguan sensori integrasi

  1. ADHD (Attention Deficit & Hyperactivity Disorder)
  2. DAMP (Deficits in Attention, Motor and Perception)
  3. Pervasive Developmental Disorders ( Autism, Asperger, MSDD-multi system development disorder)
  4. Developmental Language Delays : reseptif, ekspresif, campuran
  5. Regulatory disorders (Zero to Three)
  6. Gangguan belajar spesifik

 

Pemeriksaan

Apabila anak menunjukan beberapa perilaku seperti di atas, maka perlu dilakukan pemeriksaan lebih mendalam oleh seorang profesional yang mempelajari teori sensori integrasi. Beberapa hal yang perlu diungkap lebih dalam, antara lain:

  1. Pemeriksaan terhadap tahapan pertumbuhan dan perkembangan: psikomotorik, afektif (interaksi dengan anggota keluarga serta teman sebaya) dan kognitif.
  2. Wawancara mengenai program sekolah (jika menjelang bersekolah), pola pengasuhan.
  3. Pemeriksaan terhadap riwayat pemrosesan sensori (berdasarkan 8 input sensori)

 

Intervensi

Terapi dengan pendekatan sensori integrasi dilakukan oleh seorang okupasi terapis, yang telah mendapatkan pelatihan. Keberhasilannya sangat tergantung dari kerjasama tim yang terlibat (orang tua, guru, terapis, dokter, dll). Tanpa kerjasama yang baik, kemajuan yang dicapai juga tidak optimal.

Ciri dari intervensi ini adalah sensory enriched, di mana anak dapat melakukan eksplorasi bebas terhadap semua input sensori. Selain itu, dikenal pula satu pedoman, yaitu just the right challenge, di mana anak akan memulai suatu aktivitas dari yang ia sudah kuasai dan di mana ia merasa nyaman. Dengan merasakan keberhasilan ini, anak akan terdorong untuk mencoba tantangan baru (Schaefgen, 2008). Dorongan yang diperlukan untuk memunculkan respon adaptif adalah dorongan dari dalam diri anak (motivasi intrinsik).

Dalam penetapan dosis pemberian aktivitas haruslah berdasarkan hasil pemeriksaan awal. Pengetahuan akan keterkaitan antara proses pengolahan terhadap input dan dampaknya terhadap perilaku anak sangat diperlukan dalam memberikan intervensi.

Referensi :

  1. Ayres, J.A. (2005). Sensory Integration and The Child: Understanding Hidden Sensory Challenges (25th Anniversary Ed.). L.A.: Western Psychological Service.
  2. Bundy, A.C., Lane, S.J. & Murray, E.A. (2002). Sensory Integration Approach: Theory and Practice (2nd ed.).  Philadelphia: F.A. Davis Company
  3. Greenspan, S.I. (1985): First Feeling: Milestones in The Emotional Development of Your Baby and Child, New Zealand, Penguin Group.
Share.

About Author