Si Kecil Kejang ? Nggak Perlu Panik

4
[quote type=”center”]Si Kecil Kejang ? Bunda Nggak Perlu Panik ya [/quote]

 

“Tolong dok…anak saya kejang-kejang!” teriak Ibu Dini sambil berlari menggendong Ryan, putera satu-satunya yang mengalami kejang, ke ruang praktek dokter. Wajah Ibu Dini tampak sangat panik. Siapa yang tidak panik. Ryan yang sore itu berada di pangkuannya mendadak kejang-kejang. Tak hanya itu. Matanya buah hatinya yang baru berusia 2,5 tahun itu mendelik ke atas, mulutnya berbusa, sebagian tubuhnya membiru, dan tak sadarkan diri. “Sejak siang badan Ryan panas sekali. Tapi, kok…sekarang jadi begini,” isak Ibu Dini pada dokter langganannya.

 

Apa itu Kejang Demam?

Kejang demam memang kerap terjadi pada anak-anak. Penyebabnya adalah meningkatnya suhu tubuh hingga mencapai 38,5 derajat celcius. Demam timbul diakibatkan tubuh mengalami infeksi, oleh virus ataupun bakteri. Tapi,  kebanyakan anak yang mengalami kejang demam karena mempunyai riwayat demam di keluarganya. Jadi, kalau Anda ketika kecil pernah kejang demam, ada kemungkinan anak Anda juga mengalaminya. Jika anak yang satu terkena kejang demam,  besar kemungkinan anak yang lain akan mengalami hal serupa.

 

Bagi yang belum pernah melihat anak yang mengalami kejang demam, pasti akan takut bukan kepalang. Saat kejang terjadi, badan jadi kaku dan si kecil hilang kesadaran. Mata tiba-tiba melotot ke atas dan mulut berbusa. Gerakan-gerakan mengejang terjadi dari tangan sampai kaki. Saking tegangnya, kadang mengakibatkan si anak tak bisa bernapas dan badan jadi biru.

Meski begitu, kejang demam bukan penyakit berbahaya. Biasanya, kejang  berlangsung tak lebih dari 10 menit. Setelah kejang berhenti, anak akan tertidur pulas. Namun, ada pula kejang yang berlangsung hingga lebih dari setengah jam. Kejang seperti ini bisa mengakibatkan kerusakan pada otak. Jika anak mengalami kejang seperti itu dengan temperatur badan lebih dari 40 derajat celcius, artinya anak Anda perlu dirawat di rumah sakit.

 

Sebagian besar kejang demam tidak memerlukan pengobatan antikejang jangka panjang. Tapi, ada beberapa jenis kejang demam yang memerlukan pengobatan secara intensif. Oleh karena itu, diskusikan dengan dokter spesialis anak untuk mendeteksi kejang jenis apa yang dialami anak Anda.  Bukannya panik seperti Ibu Dini di atas.

 

Untuk penanganan dini dan antisipasi, maka sediakan obat penurun panas, thermometer, dan obat antikejang. Berilah obat penurun panas sejak Anda tahu  si kecil terserang demam. Oleh karenanya, Anda harus tahu persis pada suhu berapa anak Anda pertama kali terserang kejang. Khusus obat antikejang, mintalah dokter untuk mengajari cara penggunaannya mengingat obat tersebut mesti dimasukkan ke lubang dubur.

 

Oya, perlu ditegaskan di sini, bahwa kejang demam bukanlah epilepsi (ayan). Kejang demam dikarenakan tingginya suhu tubuh, sementara epilepsi terjadi tanpa demam. Kejang demam bukan penyebab epilepsi, walau memiliki risiko 10 kali lebih besar menderita epilepsi disbanding anak normal. Dikatakan kecil sekali kemungkinannya karena risiko terjadi epilepsi hanya 2-4 persen dari populasi anak normal.

 

Empat faktor kemungkinan terjadinya kejang demam lanjutan :

  1. Riwayat kejang demam di keluarga.
  2. Usia kurang dari 18 bulan.
  3. Dekatnya jarak antara demam dengan kejang
  4. Terlambatnya orangtua memberi obat penurun panas padahal suhu badan sudah meninggi.

 

Jika semua faktor di atas ada, kemungkinan kejang berulang sebesar 80 persen. Tapi, jika salah satu faktor saja, maka kemungkinan terulangnya kejang hanya 10-15 persen.

Yang Harus Dilakukan Jika si Kecil Kejang Demam :

  1. Miringkan si kecil ke salah satu sisi tubuhnya,  supaya ia tidak tersedak oleh air liurnya dan dapat bernapas dengan baik.
  2. Bersihkan mulutnya dan lepaskan kancing baju dan rostleting  celananya jika agak sempit.
  3. Jangan masukkan benda apa pun ke dalam mulutnya. Biasanya orangtua memasukkan sendok untuk mengganjal mulut agar lidah tidak tergigit. Padahal, tindakan tersebut dapat menyebabkan giginya patah akibat tekanan saat mengejang.
  4. Jangan beri minum atau obat saat sedang kejang.
  5. Jangan menahan gerakan-gerakannya ketika mengejang.
  6. Periksan dan perhatikan, lalu catat, pada suhu berapa dan berapa lama ia mengejang.
  7. Kompres badannya dengan air hangat supaya suhu tubuhnya menurun.
  8. Hubungi dokter jika kejang berlangsung lebih dari 10 menit.
  9. Apabila kejang berhenti kurang dari 10 menit, tetaplah ke dokter untuk mengetahui penyebab kejang demam.
Share.

About Author

Dr. Andriastuti, SpA - Subbagian Neurologi Anak FKUI-RSCM

  • Eva Nurpujihastuti

    kalau anak saya biasanya kejangnya terjadi di pagi hari ketika sedang tidur, tanpa panas, wajah tiba2 miring ke kiri,disertai kejang dibagian tubuh bagian kiri. kejangnya tidak pernah lebih dari 1 menit. Yang seperti itu kenapa ya Dokter? Terima Kasih.

    • http://www.anakku.net octyvani

      Bunda Eva, kejang tanpa panas bukan merupakan kejang demam. Kejang seperti yang dialami oleh anak Bunda harus diperiksakan oleh dokter spesialis anak, untuk didiagnosis lebih lanjut.

    • http://www.anakku.net/ Anakku Magz

      Bunda Eva, kejang tanpa panas bukan merupakan kejang demam. Kejang seperti yang dialami oleh anak Bunda harus diperiksakan oleh dokter spesialis anak, untuk didiagnosis lebih lanjut.

      • Eva Nurpujihastuti

        Makasih banyak sarannya,kemaren saya sdh ke dokter spesialis anak, alhamdulillah sekarang sudah tidak kejang lagi setelah diberi obat,dan katanya pengobatannya juga harus terus menerus selama se tahun agar kejang bisa berkurang dan hilang.

        Pada tanggal 19/09/12, Disqus menulis: