Vaksin usia 5 tahun, DT atau DTP? DTaP atau DTwP?

0
Umur 5 tahun orang tua sering lupa membawa anak untuk vaksinasi ulang. Kadang ada orang tua menganggap tidak perlu. Padahal, umur 5 tahun merupakan saat kritis karena kekebalan yang didapat dari vaksin sebelumnya sudah mulai berkurang.

Lalu ada yang berubah. Dahulu dokter memberikan vaksin DT saja tanpa P. pada umur 5 tahun. Ikatan Dokter Anak Indonesia sudah merubahnya menjadi DTP pada umur 5 tahun, karena ternyata pertusis masih bisa menyerang anak umur sekolah, bahkan remaja dan dewasa.

Jadi jangan lupa. umur 5 tahun merupakan saat yang tepat untuk imunisasi Polio dan DTP. Penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin 5 tahun :

I. Difteri

Penyebab difteri adalah bakteri Corynebacterium diphteriae, yang sifatnya sangat ganas. Penularan terjadi melalui percikan ludah waktu batuk, bersin atau sapu tangan yang digunakan waktu membersihkan ingus. Setelah 3-4 hari anak merasa nyeri tenggorokan, demam tidak tinggi dan tampak lemah. Kemudian terbentuk selaput putih kelabu yang mudah berdarah di tenggorokan dan kerongkongan. Selaput tersebut dapat menutup jalan napas, sehingga terdengar suara napas mengorok, anak menjadi sesak dan tidak dapat bernapas. Lebih parah lagi, bakteri melepaskan racun yang menyebabkan kerusakan jantung dan saraf. Difteri sangat ditakuti, dan sering sekali menyebabkan kematian.

II. Pertusis (batuk rejan, batuk 100 hari, whooping cough)

Pertusis disebabkan oleh Bordetella pertussis. Ditularkan melalui percikan ludah waktu batuk. Setelah masa tunas 4-21 hari mulai timbul batuk. Batuk pada mulanya ringan, lalu menjadi sering dan khas. Batuk timbul berturutan tanpa sempat menarik napas, diakhiri dengan tarikan napas panjang disertai bunyi mendesing (whoop). Inilah sebabnya pertusis disebut sebagai whooping cough. Seringkali anak sampai biru, mengeluarkan kotoran atau air seni dan mata menjadi merah. Dapat disertai muntah. Pertusis dapat menyebabkan infeksi telinga, radang paru, kerusakan susunan saraf dan kematian.

III. Tetanus

Bakteri tetanus masuk melalui luka yang dalam dan kotor, gigi berlubang atau infeksi telinga disertai ke luarnya nanah. Masa tunas 3-21 hari setelah infeksi. Gejala awal berupa kekakuan pada mulut dan leher, disusul kekakuan punggung, dada, perut dan anggota gerak. Mulut tidak dapat dibuka. Kekakuan yang hebat terlihat sebagai kejang-kejang tanpa disertai penurunan kesadaran. Seringkali terjadi kematian.

IV. Poliomielitis

Penularan terjadi bila anak makan makanan atau minuman yang tercemar virus polio. Sebagian anak dapat terjadi radang selaput otak. Sebagian lain me-ngalami kelumpuhan seumur hidup.

Vaksin polio

Vaksin polio dosis pertama diberikan saat bayi baru lahir akan pulang dari rumah sakit. Lalu umur 2, 4, dan 6 bulan, polio diberikan bersama DTP. Ulangan polio diberikan umur 18 bulan dan 5 tahun. Vaksin polio ada dalam bentuk tetes yang ditelan atau bentuk suntikan. Saat wabah polio seperti ini, bentuk tetes lebih baik dibandingkan suntikan. Bentuk tetes segera menyebabkan kekebalan di usus sehingga virus polio yang jahat tidak dapat berkembang biak. Vaksin ini aman sekali. Hanya kadang bisa menyebabkan satu kelumpuhan dalam 3 juta – 7 juta dosis. Mengenai polio sudah dibahas lengkap pada edisi yang lalu.

Vaksin DTP

Vaksin DTP (Difteri, Tetanus, Pertusis) harus disuntikkan. Komponen D dan T dibuat dari toksoid, semacam racun kuman yang sudah dirubah sifatnya sehingga dapat menimbulkan kekebalan tetapi tidak ganas. Toksoid tidak menyebabkan efek samping yang berarti. Yang menjadi masalah adalah komponen P atau pertusis. Ada 2 macam komponen P. Yang pertama dibuat dari seluruh sel mati yang disebut sebagai wP (whole-cell Pertussis), sedangkan yang kedua dibuat dari sebagian sel pertusis disebut sebagai aP (acellular Pertussis). Jadi ada 2 macam vaksin DTP yaitu DTwP atau DT-whole-cell Pertusis berisi seluruh komponen bakteri pertusis yang mati dan vaksin DTaP atau DT-acellular Pertusis karena hanya berisi sebagian komponen bakteri pertusis.

Mengapa harus ada 2 macam DTP?

Suntikan DTwP sangat murah dan efektif, tetapi sering sekali menyebabkan efek samping berupa demam. Selain itu banyak efek samping lain berupa kemerahan, bengkak dan nyeri pada tempat suntikan. Beberapa anak menjadi biru dan syok setelah disuntik. Kadang demamnya menyebabkan kejang. Untuk menghindari efek samping tersebut, dibuatlah vaksin DTaP. Efek sampingnya berkurang 75%. DTaP sangat jarang menyebabkan demam atau efek samping lainnya. Sayang harga vaksin DTaP masih relatif mahal.

Q & A :

a. Umur berapa vaksin DTP harus diberikan?

Umur 2,4,6 bulan, lalu di ulang umur 18 bulan dan umur 5 tahun. Semuanya dalam bentuk DTP, baik DTaP atau DTwP. Umur 12 tahun diulang dalam bentuk DT. Penelitian sedang berjalan untuk menentukan apakah umur 12 tahun masih memerlukan DTaP.

b. Mengapa vaksinasi ulangan DTP pada umur 5 tahun sangat penting?

Penelitian menunjukkan bahwa vaksinasi DTP yang diberikan umur 2,4,6,dan 18 bulan hanya melindungi anak sampai umur pra-sekolah. Jadi umur 5 tahun harus di ulang untuk mempertahankan dan meningkatkan kekebalan lagi.

c. Apakah umur 5 tahun hanya diberi DT atau DTP?

Dahulu memang hanya diberi DT. Tetapi ternyata pertusis masih sering menyerang anak usia sekolah, remaja bahkan dewasa. Anjuran saat ini, baik di Indonesia maupun di seluruh dunia adalah pemberian DTP. Boleh memilih antara DTaP atau DTwP.

d. Apakah jenis vaksin boleh ditukar antara DTwP dan DTaP

Boleh. Kekebalan tetap baik.

e. Kapan bayi tidak boleh diimunisasi DTwP?

Vaksin DTwP tidak boleh diberikan lagi bila pada suntikan DTwP sebelumnya bayi mengalami kejang dan penurunan kesadaran atau menjadi biru dan lemas.

f. Apakah vaksin DTaP lebih aman dibandingkan DTP?

Ya. DTaP sangat jarang menyebabkan efek samping.

g. Apakah vaksin DTaP sama efektif dengan DTwP?

Efektivitas vaksin DTwP kira-kira 85-95%, sedangkan DTaP sekitar 75-90%. Namun efektivitas bukan satu-satunya pertimbangan dalam memberikan vaksin. Efek samping, dan harga juga merupakan pertimbangan. Vaksin DTwP sangat murah tetapi sering menyebabkan efek samping, sedangkan DTaP jarang menyebabkan efek samping tetapi mahal.

Share.

About Author