[quote type=”center”]Selamat bayi yang sehat kini ada dalam gendongan Anda. Satu bulan pertama Anda perlu sedikit repot. Kulitnya mungkin bersisik, tali pusatnya berdarah, buang air besarnya encer. Wah! [/quote]
 
Artikel ini kelanjutan dari artikel : 24 hal penting di hari pertama si kecil #2
 
18. Pipi bayiku tak mulus
Beberapa bayi tak memiliki pipi yang mulus. Tampak kedua pipinya kemerahan dan berbintil-bintil, biasanya muncul pada bayi di atas usia sebulan atau dua bulan, 60% pada tahun pertama kehidupan. Orang bilang hal itu disebabkan terkena air susu. Sebenarnya bintil-bintil itu bisa menjadi petanda awal alergi pada si bayi yang disebut eksim susu. Keluhan tersebut bisa hilang dan timbul. Selain itu, bayi juga bisa amat terganggu karena rasa gatal. Biasanya dokter akan memberikan salep hidrokortison 1% untuk mengurangi gejala pada di pipinya, terkadang diberi pula obat yang diminumkan untuk mengurangi gatal.
Alergi pada bayi seringkali bersumber dari makanan, sehingga ibu perlu memperhatikan jenis susu yang diberikan. Bayi yang Minum ASI lebih kecil risikonya untuk mendapatkan eksim susu. Tapi ibu tetap harus memperhatikan makanannya karena dapat memasukkan zat penyebab alergi dalam ASI. Kalau pencetus alerginya sudah dihilangkan, keluhan di pipi pun akan menghilang dengan sendirinya.
 
19. Ruam bayi (erythema toxicum)
Tak perlu sedih bila kulit bayi Anda tidak mulus alias teraba kasar seperti digigiti nyamuk. Munculnya bintik-bintik berwarna kuning putih dengan warna kulit kemerahan, terkadang di ujung bintik terdapat nanah, terjadi pada 50% bayi normal. Jumlah bintik bisa banyak dan menyebar di seluruh tubuh atau mengumpul di beberapa tempat saja, bahkan telapak tangan dan kaki pun bisa terkena. Biasanya ruam bayi ini muncul pada minggu pertama kehidupan, dan kelamaan akan memudar. Penyebabnya tidak diketahui dan tidak dibutuhkan terapi apapun karena amat cepat menghilang.
 
20. Berat badannya tidak naik?
Pada minggu pertama kehidupannya, seorang bayi bisa menurun berat badannya. Penurunan hingga 10% dari berat badan lahir masih normal, setelah itu ia akan mengalami kenaikan berat badan dan harus kembali ke berat badan semula dalam 10-14 hari. Ibu tak perlu khawatir bayinya kekurangan susu bila berat badan bayi naik dan pada usia satu bulan, bayi sudah memiliki pola minum susu sendiri. Bila ibu merasa sudah semaksimal mungkin memberi susu bayi tetap kekurangan cairan, perlu dicurigai adanya kelainan, apakah teknik menyusui yang salah atau bayi yang sakit.
 
21. Gumoh lagi, gumoh lagi
Mengalirnya susu kembali ke mulut dalam jumlah sedikit, atau disebut regurgitasi (gumoh) umum terjadi pada bayi karena otot pencernaannya belum kuat sedangkan tekanan di lambungnya meningkat. Yang penting bagi ibu adalah membedakan apakah ini gumoh atau muntah. Muntah terjadi akibat tekanan dinding diafragma dan kontraksi otot perut hingga isi lambung keluar, jadi ada usaha dari bayi untuk mengeluarkan makanannya yang dilihat dari dorongan perut dan diafragma. Namun, ibu tak perlu khawatir selama anak tetap sehat dan berat badannya naik sesuai umurnya.
Bila muntahnya berwarna hijau atau disertai feses berdarah, ibu perlu segera membawa bayi ke dokternya untuk dicari penyebabnya. Muntah juga bisa menjadi gejala beberapa penyakit seperti radang selaput otak, radang telinga, radang pencernaan, infeksi saluran kemih, atau akibat tekanan otak meningkat. Bila hal ini terjadi, anak akan tampak sakit.
Untuk mengurangi gumoh, bisa dengan cara meninggikan posisi kepala bayi setelah makan, membuat formula lebih kental dengan menambahkan bubur, atau menyendawakannya. Bila hal itu tak juga mengurangi gumoh, ibu bisa mengkonsultasikannya ke ahli pencernaan anak.

22. Pup-nya kok cair ya
Setiap ibu perlu mengetahui pola buang air besar bayinya karena ada bayi yang pup setiap kali habis diberi susu. Jadi, bila bayi pup lebih encer, berair, atau lebih sering, ibu bisa mencurigainya terkena diare. Hitunglah berapa kali ia harus berganti popok, berapa kali pup, seperti apa fesesnya, bagaimana pola makannya, apakah minum antibiotik sebelumnya, ada muntah, demam, atau bayi tampak lemas. Dengan demikian, dokter akan mendapatkan gambaran yang jelas dan lebih tepat dalam mendiagnosis penyakitnya.
 
23. waduh, ada darah dalam pup-nya
Waspadai pula bila feses bayi Anda berdarah, mungkin disebabkan radang usus, alergi susu, diare akibat antibiotik, atau ususnya terpilin (intususepsi). Curigai adanya alergi susu bila perut bayi tampak kembung, diare disertai darah, dan feses keluar disertai kentut atau menyemprot.
Pada hari-hari pertama setelah lahir, feses bayi dapat pula mengandung darah berasal dari darah ibu yang tertelan saat persalinan, namun tentunya hal ini terjadi sebentar dan pup akan menjadi normal.
 
24. Kok pup-nya jarang ya?
Seringkali orang tua khawatir bila anak tidak buang air besar. Terkadang bisa satu minggu si kecil tidak pup. Bayi yang minum ASI cenderung lebih sedikit jumlah fesesnya daripada bayi yang minum susu formula dan bisa jadi lebih jarang pup. Bila anak jarang pup sejak lahir apalagi terlambat mengeluarkan feses pertamanya (mekonium), curigai adanya penyakit Hirschsprung, kekurangan hormon tiroid, atau ada kelainan pada anusnya. Penyakit Hischprung terjadi lebih sering pada bayi laki-laki dan harus dicurigai bila bayi tak juga mengeluarkan mekonium dalam 1-2 hari setelah lahir, umumnya disertai muntah dan perutnya kembung. Kekurangan hormon tiroid harus dicurigai bila bayi jarang pup, suhu badannya selalu dingin, ototnya lembek, sulit makan, dan suara tangisnya parau. Namun orang tua tak perlu khawatir bila bayinya jarang pup selama bayi tampak sehat.
 
Seputar tali pusat, perawatan dan komplikasinya
Umumnya tali pusat puput dalam 2 minggu, tapi masih dianggap normal bila belum puput sampai 45 hari setelah bayi lahir. Bila lebih lama dari itu, tanyakan pada dokter apakah ada kelainan daya tahan tubuh atau infeksi bakteri.
Setelah lahir, bayi tak lagi mendapat aliran darah dari ibunya melalui tali pusat, ibaratnya tali pusat menjadi tak ada gunanya lagi. Sel-sel darah putih bayi akan ”memakan” sendiri jaringan tali pusat tersebut hingga ia akan putus dengan sendirinya, disebut autodigesti. Sehingga bila tali pusat tak puput juga, perlu dicurigai apakah ada kelainan sel darah putih pada bayi.
Ibu juga perlu mengamati area tali pusat, apakah ada cairan jernih yang keluar seolah tali pusat bocor. Mungkin hal itu gejala dari kelainan urachus persisten disebabkan penutupan kandung kemih tidak sempurna hingga urin menetes ke pusar.
Terkadang penyembuhan tali pusat tidak sempurna sehingga meninggalkan jaringan sisa yang lembek dan berwarna merah. Dalam keadaan ini, ibu perlu memberikan tetesan obat silver nitrat tiap beberapa hari untuk mempercepat penyembuhan, namun tak bolehmengenai kulit normal di sekitarnya.
Perhatikan pula apakah ada tanda-tanda infeksi tali pusat, seperti kemerahan di kulit sekitar pusat atau tali pusat bernanah. Infeksi tali pusat dapat cepat menyebar ke aliran darah bayi, ke liver, atau jaringan perut. Dalam keadaan ini, bayi harus disuntik antibiotik. Bila ada nanah yang mengumpul, nanah itu pun harus dikeluarkan.
TIPS : Merawat tali pusat

  1. Sebaiknya jangan rendam bayi dalam air sabun sampai tali pusatnya kering.
  2. Tidak ada metode khusus merawat tali pusat. Salep antimikroba bisa pula digunakan, namun tidak ada data yang membuktikan salep tersebut lebih menguntungkan, bahkan dapat memperlambat pemutusan tali pusat. Alkohol dapat dipakai untuk membersihkan tali pusat dan mempercepat pengeringannya, tetapi tak terbukti mengurangi risiko infeksi. Yang terpenting adalah menjaga tali pusat tetap kering dan bersih.

 
Referensi :

  1. McCollough M, Sharieff GQ. Common Complaints in the first 30 days of life. Pediatric Emergency Medicine: Current Concept and Controversies. Feb 2002;20:1. P27-35Pediatric secrets
  2. Nelson Textbook of Pediatric, 17th ed.
  3. Renie MJ, Roberton NRC., editors. Textbook of Neonatology, 3rd ed.
Share.

Leave A Reply

Exit mobile version