[quote type=”center”]Jangan buru-buru memarahi anak ketika Anda mendapatinya berbohong. Coba lakukan pendekatan sesuai usianya…[/quote]
 
[dropcap style=”font-size: 60px; color: #83D358;”]C[/dropcap]oba tanyakan diri sendiri, pernahkah Anda berbohong? Semua orang pasti pernah berbohong—entah demi alasan apapun. Tetapi ketika ini kita temukan pada buah hati kita, timbul kekhawatiran. Apalagi bila kebohongan tersebut menyudutkan pihak lain.
“Mbak Sum yang pecahin vas Ibu,” kata Sissy, ketika ibunya bertanya siapa yang memecahkan vas bunga di ruang tamu. Lain waktu, gadis berusia 5 tahun ini juga berbohong di sekolah ketika ia tidak membawa boks makanannya. “Ibu tidak masak di rumah.”
Mengapa berbohong?
Runutan kejadian ini membuat orang tuanya mengkhawatirkan putri kecilnya. Apa sih yang membuat anak berbohong?
1. Takut disalahkan
Mungkin anak memiliki pengalaman buruk tentang bagaimana menghadapi kesalahan. Jika anak pernah dipojokkan dan merasa “terhukum” ketika bersalah, anak akan memilih berbohong untuk menghindari hukuman, tanggung jawab, atau takut disalahkan.
2. Ingin terlihat lebih hebat
Ego anak Alasan lain ketika anak berbohong, ia ingin terlihat lebih hebat dari yang sebenarnya dan ini terjadi pada anak yang sering dibandingkan dengan anak yang lain.
Rasa kurang percaya diri membuat anak bereaksi ingin mengesankan bahwa dirinya lebih dari yang sekarang. Apalagi saat  berada di lingkungan kelompok sosial yang hebat.
3. Merasa tidak punya pilihan
Anak-anak yang berada dalam pola asuh yang kontrolnya terlalu kuat atau orangtua bersifat otoriter, selalu berpikir kesalahan adalah sesuatu yang tidak terampuni. Ketika melakukan kesalahan, anak akan merasa selalu dibayangi ketakutan akan risiko kesalahan.
4. Tidak ingin mengecewakan
Orang tua biasanya selalu berharap anaknya mencapai kemampuan yang optimal, berprestasi di sekolah, dan sebagainya. Kondisi di mana orangtua senantiasa menanamkan ekspektasi yang tinggi ini dapat membuat anak berbohong. “Dari pada ayah/ibu kecewa, lebih baik berbohong.”
5. Merasa tidak dihargai
Tanpa kita sadari, sebagai orang tua kita seringkali hanya memperdulikan hasil, tanpa mempertimbangkan proses. Sikap orang tua yang seperti ini membuat anak memilih berbohong, karena anak merasa tidak dihargai.
6. Kurang memiliki ruang
Anak menginginkan keleluasaan aktivitas, yang kadang dianggap orang tua sebagai tidak disiplin. Misalnya saja saat ia ingin bermain, justru pada waktu yang sama ia diharuskan tidur siang.

Bagaimana menghadapinya?

  • Ketika mendapati anak berbohong, ajak anak bicara dari hati ke hati, sediakan waktu lebih banyak untuk menjalin komunikasi dengan anak. Katakan bahwa Anda sangat mempercayainya, dan sebaiknya kepercayaan ini dapat dipegang oleh anak.
  • Beri pengertian kepada anak tentang akibat dari berbohong. Ajak mereka melihat sesuatu masalah dari sisi orang lain. Katakan kepada mereka bahwa tindakan bohong tidak dapat diterima apalagi jika dilakukan untuk menyembunyikan kesalahan.
  • Menghukum boleh-boleh saja, tetapi harus disesuaikan dengan usia anak. Untuk anak usia sekolah, hukumannya tidak boleh menonton filem kesayangannya. Namun hati-hati, jangan sampai hukuman tersebut malah menekannya.
  • Jika anak mengakui kebohongannya, Anda patut menghargai kejujurannya. Ajak ia berdiskusi, karena sesungguhnya mereka tengah belajar menapaki hidup. Tugas orang tua membimbing mereka.
  • Pada anak usia tertentu, yang anak lakukan sesungguhnya bukanlah berbohong melainkan berimaginasi. Anda mesti bisa membedakannya.
  • Ajari anak tentang makna kejujuran. Dan ini harus dimulai dari diri sendiri. Tanpa sadar Anda lah ‘guru’ nya, misalnya saja saat ada telepon untuk Anda, dan dengan berbisik Anda mengatakan “Sstt…bilang Mama sedang mandi.” Nah!

Memang kelihatannya sepele, namun saat itulah memori anak merekam ‘pelajaran’ berbohong dari orang tuanya.

  1. Tempatkan anak sebagai sosok yang dihargai, jadilah pendengar yang baik. Cari jalan tengah dengan memecahkan masalah bersama-sama anak.
  2. Ketika anak berbohong, peluk dia dan katakana “Sayang, Mama tidak marah tapi kecewa dan sedih karena anak Mama berbohong. Allah tidak suka dengan anak yang suka membohongi mama dan papanya.”
  3.  Jika anak masih berbohong ketika usianya sudah remaja, Anda mesti mewaspadainya, karena menurut Dr Michael Lewis, psikolog dari Rutgers Medical School  akan berpotensi berlanjut hingga dewasa. Jika perlu Anda mesti minta pertolongan psikolog.
Share.

Leave A Reply

Exit mobile version