[pullquote]Mencegah jauh lebih baik daripada mengobati, hal ini pun sangat penting diterapkan dalam menghadapi penyakit kanker serviks. Berikut adalah fakta lainnya yang perlu diketahui mengenai kanker serviks alias kanker leher rahim.[/pullquote]
Momen 4 Februari yang diperingati sebagai Hari Kanker Dunia sebaiknya menjadi pengingat bagi kaum perempuan untuk lebih waspada terhadap bahaya kanker serviks
Ketahui 8 fakta tentang kanker serviks yang wajib kita ketahui.
1. Apa itu kanker serviks?
Kanker serviks adalah penyakit kanker yang menyerang daerah leher rahim, yaitu organ reproduksi wanita yang merupakan pintu masuk ke arah rahim. Letaknya antara rahim (uterus) dengan vagina.
Kanker ini 99,7% disebabkan oleh human papilloma virus (HPV) onkogenik yang menyerang leher rahim. Berawal dari leher rahim, dan apabila telah memasuki tahap lanjut, kanker menyebar ke organ-organ lain di seluruh tubuh penderita.
2. Seberapa bahaya penyakit ini?
Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan saat ini penyakit kanker serviks menempati peringkat teratas di antara berbagai jenis kanker yang menyebabkan kematian pada perempuan di dunia. Di Indonesia, setiap tahun terdeteksi lebih dari 15.000 kasus kanker serviks.
Sekitar 8000 kasus di antaranya berakhir dengan kematian. Menurut WHO, Indonesia merupakan negara dengan jumlah penderita kanker serviks yang tertinggi di dunia. Kanker serviks sulit sekali dideteksi hingga penyakit telah mencapai stadium lanjut.
3. Apa sebenarnya penyebab kanker serviks ini?
Pertama, kanker serviks disebabkan oleh virus HPV (Human Papilloma Virus). Virus ini memiliki lebih dari 100 tipe, di mana sebagian besar di antaranya tidak berbahaya dan akan lenyap dengan sendirinya. Jenis virus HPV yang menyebabkan kanker serviks dan paling fatal akibatnya adalah virus HPV tipe 16 dan 18.
Kedua, selain disebabkan oleh virus HPV, sel-sel abnormal pada leher rahim juga bisa tumbuh akibat paparan radiasi atau pencemaran bahan kimia yang terjadi dalam jangka waktu cukup lama.
4. Bagaimana cara penularan kanker serviks?
Penularan virus HPV bisa terjadi melalui hubungan seksual, terutama yang dilakukan dengan berganti-ganti pasangan. Penularan virus ini dapat terjadi baik dengan cara transmisi melalui organ genital ke organ genital, oral ke genital, maupun secara manual ke genital.
Karenanya, penggunaan kondom saat melakukan hubungan intim tidak terlalu berpengaruh mencegah penularan virus HPV. Sebab, tak hanya menular melalui cairan, virus ini bisa berpindah melalui sentuhan kulit.

5. Apa saja gejala yang dirasakan?
Pada tahap awal, penyakit ini tidak menimbulkan gejala yang mudah diamati. Itu sebabnya, Anda yang sudah aktif secara seksual amat dianjurkan untuk melakukan tes pap smear setiap dua tahun sekali. Gejala fisik serangan penyakit ini pada umumnya hanya dirasakan oleh penderita kanker stadium lanjut.
Gejala kanker serviks tingkat lanjut:

  • munculnya rasa sakit dan perdarahan saat berhubungan intim (contact bleeding).
  • keputihan yang berlebihan dan tidak normal.
  • perdarahan di luar siklus menstruasi.
  • penurunan berat badan drastis.
  • apabila kanker sudah menyebar ke panggul, maka pasien akan menderita keluhan nyeri punggung
  • hambatan dalam berkemih serta pembesaran ginjal.

6. Siapa saja yang berisiko terinfeksi?
Ada beberapa golongan perempuan yang memiliki risiko lebih besar menderita kanker serviks, yaitu:

  • berusia antara 35-50 tahun, terutama yang telah aktif secara seksual sebelum usia 16 tahun.
  • memiliki lawan seksual lebih dari satu, semakin banyak lawan seksual Anda maka semakin meningkat pula risiko terkena kanker leher rahim.
  • perokok
  • imunitasnya rendah seperti para penderita HIV atau yang mengalami gizi buruk.
  • memiliki hasil uji pap smear yang abnormal.
  • Menjalalankan diet ketat sehingga konsumsi vitamin A, C dan E juga berkurang.

7. Bagaimana cara mendeteksinya?
Pap smear adalah metode pemeriksaan standar untuk mendeteksi kanker leher rahim. Namun, pap smear bukanlah satu-satunya cara yang bisa dilakukan untuk mendeteksi penyakit ini. Ada pula jenis pemeriksaan dengan menggunakan asam asetat (cuka).
Menggunakan asam asetat cuka adalah yang relatif lebih mudah dan lebih murah dilakukan. Jika menginginkan hasil yang lebih akurat, kini ada teknik pemeriksaan terbaru untuk deteksi dini kanker leher rahim, yang dinamakan teknologi Hybrid Capture II System (HCII).
8. Bagaimana cara mencegah kanker serviks?
Meski menempati peringkat tertinggi di antara berbagai jenis penyakit kanker yang menyebabkan kematian, kanker serviks merupakan satu-satunya jenis kanker yang telah diketahui penyebabnya. Karena itu, upaya pencegahannya pun sangat mungkin dilakukan. Yaitu dengan cara :

  • tidak berhubungan intim dengan pasangan yang berganti-ganti.
  • rajin melakukan pap smear setiap dua tahun sekali bagi yang sudah aktif secara seksual.
  • dan melakukan vaksinasi HPV bagi yang belum pernah melakukan kontak secara seksual. Vaksin ini bekerja dengan cara meningkatkan kekebalan tubuh dan menangkap virus (HPV tipe 16 dan 18) sebelum memasuki sel-sel serviks.
  • dan tentunya memelihara kesehatan tubuh.

Pada penderita kanker serviks yang sudah mencapai stadium 2 hingga 4, selain dibutuhkan operasi, penderita masih harus mendapatkan terapi tambahan, seperti radiasi dan kemoterapi. Langkah tersebut sekalipun tidak dapat menjamin 100% kesembuhan.
Tingginya biaya pengobatan kanker serviks juga menyebabkan tindakan pencegahan sebagai langkah terbaik.

Share.

Comments are closed.

Exit mobile version