[quote type=”center”]Meminta maaf sebaiknya tidak hanya dilakukan pada momen tertentu saja, misalnya menjelang Bulan Ramadan atau saat Hari Raya saja. Namun, maaf-memaafkan harusnya menjadi suatu kegiatan yang melekat dalam kehidupan sehari-hari dan menjadi bagian dari pribadi anak.[/quote]
 
[dropcap style=”font-size: 60px; color: #83D358;”]A[/dropcap]nak yang sejak dini tidak pernah dikenalkan orangtuanya mengenai makna maaf-memaafkan cenderung tumbuh menjadi pribadi yang kurang memiliki empati, egois, memaksakan kehendaknya sendiri, kurang mampu menerima kritik atau saran, arogan (sombong), dan sulit dipercaya oleh orang lain. Sebaliknya, anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan yang konsisten dalam mengajarkan makna maaf, umumnya akan menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan disukai oleh kelompoknya.
Menurut penelitian Craig Smith dan Paul Harris dari Harvard Graduate School of Education, pada konferensi Association for Psychological Science menyimpulkan bahwa maaf-memaafkan membuat seorang anak merasa dirinya lebih nyaman dan lebih baik secara emosi. Sebanyak 87% dari responden menyatakan bahwa dengan maaf memaafkan mereka merasa lebih baik karena mengetahui bagaimana perasaan orang lain yang sudah disakiti (sedih atau marah) dan kemudian berusaha tidak mengulangi kesalahan yang dilakukan.
Nah, jika mengacu pada teori perkembangan psikologis, seorang anak dapat dikenalkan dengan hal-hal yang terkait dengan norma dan moralitas sejak usia 4 tahun karena perkembangan bahasa anak sudah berkembang pesat. Ia mulai bisa memahami instruksi atau perintah dalam bentuk kalimat yang kompleks. Selain itu, ia juga sudah mulai mengenal lingkungan lain di luar dirinya seperti orangtua, saudara atau teman-teman sebayanya. Di saat itu pula lingkungan perlu mengenalkan anak pada makna kata-kata normatif yang memiliki pesan moral seperti: terima kasih, tolong, permisi, dan maaf.
Menurut teori Penalaran Moral yang dikemukakan Kohlberg pada tahun 1982, ada beberapa tahapan sampai anak mengerti dan memahami pesan moral yaitu :
Level 1. Preconventional morality (usia 4-10 tahun)
Pada tahap ini penekanannya pada kontrol lingkungan, sehingga standar yang dibuat mengikuti tuntutan atau aturan yang ada di lingkungan. Pada tahap ini, anak memang diajarkan untuk mematuhi aturan. Misalnya ketika berbuat salah atau melanggar aturan yang telah disepakati bersama, maka orangtua atau figur dewasa lainnya sangat perlu untuk memberikan arahan, salah satunya adalah melatih anak untuk mengakui kesalahannya dan meminta maaf pada pihak yang dirugikan. Secara umum, anak pada tahap ini memang belum akan mengerti sepenuhnya mengenai arti kata maaf yang sebenarnya.
Level 2. Conventional morality (usia 10-13 tahun)
Anak mulai memahami pesan-pesan moral yang diajarkan orangtuanya atau lingkungan. Anak di usia ini mulai melakukan sesuatu hal untuk menyenangkan hati orang lain atau mengikuti standar yang dituntut oleh lingkungan. Oleh karenanya, pada tahapan ini, anak mulai bisa mengerti kenapa dirinya perlu meminta maaf pada orang lain dan memaafkan orang lain yang melakukan kesalahan.
Level 3. Postconventional morality (usia 13 tahun ke atas)
Pemahaman moral anak mulai diinternalisasi atau menjadi bagian dari dirinya. Ia mulai mengenali antara standar atau tuntutan yang ada di lingkungan. Di usia ini, anak seharusnya telah mengerti secara utuh mengenai makna maaf yang seutuhnya
Untuk membentuk anak menjadi pribadi yang memahami dan mengerti makna memaafkan maka dukungan dan peran orangtua sangatlah penting.
bermaafan
Ini dia yang bisa dilakukan!
Beberapa hal yang perlu dilakukan orangtua untuk melatih anak memahami makna maaf antara lain :
1. Menjadi role model dan contoh bagi anak.  Anak-anak merupakan peniru ulung. Mereka dapat dengan cepat menyeraffdsa2p apa yang ia lihat, dengar, dan alami sendiri serta cenderung meniru apa yang dilakukan oleh lingkungan sekitarnya, terutama orangtuanya. Ayah dan Ibu harus saling memaafkan jika salah satunya membuat kekeliruan atau kesalahan. Saat orangtua melakukan kesalahan kepada anak, sebaiknya juga segera meminta maaf. Memberikan contoh dalam hidup sehari-hari akan mempermudah anak untuk meniru sikap memaafkan.
2. Berikan alasan mengapa ia harus meminta maaf
Alasan mengapa harus memaafkan, perlu orangtua utarakan kepada anak. Berikan penjelasan mengapa ia harus memaafkan dengan cara sesederhana mungkin, seperti bagaimana ia melihat bahwa teman atau saudaranya tidak sengaja melakukan kesalahan. Dengan melihat alasan yang masuk akal, tentunya anak akan cepat belajar memaafkan orang lain juga. Jika ia belum paham, tidak mengapa karena anak perlu proses untuk bisa memahami makna maaf seutuhnya
3. Jika anak tidak segera minta maaf, berikan ia waktu
Setiap orang pasti membutuhkan waktu untuk meminta maaf atau memaafkan. Begitupun dengan anak-anak, karena kebanyakan dari mereka biasanya tidak segera meminta maaf jika bersalah. Hindari memaksa anak untuk langsung meminta maaf atau memaafkan pada saat itu juga. Semakin dipaksa, semakin ia sulit melakukannya. Karena paksaan itu tidak menyenangkan. Kalaupun mau, anak akan meminta maaf dengan terpaksa, tidak tulus. Untuk itu sebaiknya orangtua memberi waktu anak untuk berpikir dan meminta maaf, namun jangan sampai ia lupa pada kesalahannya.
4. Berikan pujian
Memberi pujian merupakan motivasi bagi anak mengulangi tindakan yang diharapkan orangtuanya. Bila si kecil belum berhasil melakukannya, Anda tetap bisa memberi pujian yang sifatnya mendorong anak untuk melakukannya. Misalnya, ”Tidak apa-apa, Sayang. Bunda bangga, kok. Tapi lebih membanggakan kalau besok kamu sudah memaafkan temanmu, ya.” Jangan lupa beri senyuman buat si kecil.
5. Menumbuhkan empati anak
Mengembangkan kemampuan anak dalam berempati merupakan salah satu cara yang tepat. Misalnya, “Abang mendorong adik sampai jatuh, coba Abang bayangkan kalau Abang yang didorong, bagaimana?” Ini akan membuat anak berpikir, jika ia berada di posisi tersebut. Memang kita tidak akan segera mendapat jawaban, tapi paling tidak ia mengetahui perbuatannya tersebut telah mengganggu orang lain.
Minta maaf yuk, Nak!
Mengajarkan anak meminta maaf bisa dilakukan dengan beberapa cara.

  1. Bermain peran (role playing). Agar anak bisa merasakan makna dan esensi dari makna maaf dan memaafkan.
  2. Mengajarkan melalui buku-buku bacaan atau film-film anak yang berisi tentang moralitas.

Mengenalkan anak tentang berbagai cara untuk meminta maaf juga dapat merangsang pemahaman anak, misalnya dengan menuliskan kata-kata maaf pada lembar kertas, menelepon teman yang ia sakiti atau bertatap muka langsung.

Share.

Leave A Reply

Exit mobile version