Keinginan untuk menyehatkan kulit bayi terkadang justru membuat orang tua lalai memilih produk perawatan yang sesuai kulit si kecil
[dropcap style=”font-size: 60px; color: #83D358;”]K[/dropcap]ulit merupakan organ tubuh terluas manusia. Tak hanya menjadi organ pelindung tubuh dari pajanan fisik, kulit juga berperan dalam penyerapan (absorbsi), pengeluaran sisa-sisa metabolisme (ekskresi), indera perasa (persepsi), pengaturan suhu, pembentukan warna kulit (pigmentasi), dan produksi vitamin D. Semua fungsi kulit kita akan optimal bila kulit dalam keadaan sehat terawat.
Kulit anak vs dewasa
Anak bukanlah dewasa kecil. Adanya proses tumbuh kembang pada anak membuatnya begitu istimewa, sehingga perlu mendapatkan perhatian khusus. Demikian juga dengan kulit mereka.
Secara struktural tidak terdapat perbedaan antara lapisan kulit luar (epidermis) anak dan bayi cukup bulan (aterm) dengan kulit orang dewasa. Hal ini terjadi karena proses pembentukan dan perkembangan kulit telah dimulai saat awal kehamilan. Perbedaan secara klinis baru terjadi pada bayi prematur, yang memiliki epidermis lebih tipis dengan ikatan antar sel yang lebih lemah.
Perbedaan yang bermakna antara kulit dewasa dan anak, khususnya bayi ialah pada lapisan kulit dalam (dermis) dan jaringan penunjang dan kelenjar di dalamnya. Serat elastin (berperan dalam elastisitas dan kepadatan kulit) pada anak akan baru menyerupai dewasa pada usia + 3 tahun.
Begitu juga kelenjar (minyak dan keringat) yang ada pada bayi yang justru lebih tinggi dibandingkan dewasa, namun belum berfungsi sempurna hingga usia + 40 minggu. Selain itu, pada bayi belum dapat memproduksi Natural Moisturizing Factor (NMF) yang mampu ‘mengikat’ cairan. Adanya perbedaan tersebut mengakibatkan kulit bayi dan anak menjadi rentan terjadi kehilangan cairan, iritasi, dan mudah terkena infeksi.
Perawatan

Perawatan kulit diperlukan tidak hanya untuk menjaganya agar tetap sehat, bersih, dan sedap dipandang mata, melainkan juga agar tetap berfungsi dengan optimal. Salah satu faktor yang mempengaruhi kondisi kulit seseorang ialah usianya.
Kulit bayi dan anak dikenal juga dengan istilah kulit asuhan ibu. Berbeda dengan kelompok usia lainnya, secara alami anak khususnya bayi mempunyai tipe kulit yang halus, tidak kering, dan tidak berminyak. Secara umum, dalam hal pembersihan kulit anak maupun bayi tidak berbeda jauh dengan dewasa. Hanya saja perlu diperhatikan bahan atau produk pembersih yang tepat untuk kulit mereka.
Untuk perawatan kulit ini perlu pula diingat

  • Indonesia merupakan daerah tropis dengan variasi temperatur udara dan kelembaban sepanjang tahun yang relaltif kecil. Iklim panas dan lembab, curah hujan yang cukup tinggi, sinar matahari yang banyak, dan kecepatan angin yang tinggi
  • Mandi merupakan perawatan kulit yang aman bagi bayi. Mandi (cemplung) dinilai lebih baik dibandingkan mandi dengan waslap.
  • Mandi di sore hari dapat meningkatkan kualitas tidur anak sehingga dapat mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak.

Apa itu kosmetika?
Dalam perawatan tubuh ini digunakan berbagai bahan yang sebetulnya termasuk dalam kelompok kosmetika. Definisi kosmetika telah mengalami penyempurnaan oleh Permenkes RI No. 445/Menkes/Permenkes/1998, “Kosmetika adalah sediaan atau paduan bahan yang siap untuk digunakan pada bagian luar tubuh (epidermis, rambut, kuku, bibir dan organ kelamin luar), gigi, dan rongga mulut untuk membersihkan, menambah daya tarik, mengubah penampakan, melindungi supaya tetap dalam keadaan baik, memperbaiki bau badan tetapi tidak dimaksudkan untuk mengobati atau menyembuhkan suatu penyakit”.
Berdasarkan definisi di atas, maka jelas bahwa sabun, sampo, bedak, krim pelembab, krim pelindung, atau pewangi yang sering dipakaikan pada anak dan bayi juga merupakan kosmetika. Hanya saja, bahan yang digunakan berbeda dari bahan yang biasa digunakan pada kosmetika dewasa.
Jumlah kosmetika yang terserap oleh kulit juga dipengaruhi kondisi kulit serta jenis kosmetika yang akan dipakai (krim, salep, tabur, pasta, dsb). Oleh karena itu, jangan dilupakan bahwa pemakaian kosmetika pada anak dan bayi kita dalam keadaan tertentu dapat saja terjadi dampak negatif atau efek samping. Efek samping dapat berupa reaksi iritasi, alergi maupun efek yang lebih serius serta berdampak secara jangka panjang.
Gunakan dengan tepat
Dari sekian banyak kosmetika, bedak merupakan yang paling sering bersentuhan dengan kulit bayi. Bedak merupakan bubuk higroskopis (sifat menyerap) yang sangat halus dan bermanfaat khususnya untuk mengurangi gesekan pada kulit khususnya pada daerah lipatan. Dengan sifatnya itu bedak akan menyerap sebagian keringat dan minyak kemudian akan mengeringkannya. Bedak bayi umumnya berbahan utama talkum (bedak mineral/anorganik) yang sebagian besar dalam bentuk sediaan bedak tabur.
Untuk sediaan bedak kocok, umumnya diberi tambahan bahan aktif seperti gliserin yang berfungsi sebagai bahan perekat. Ada beberapa produk bedak kocok yang menambahkan alkohol yang berguna untuk mendinginkan serta antiseptik ringan. Namun perlu diperhatikan bahwa pemakaian berlebih akan menimbulkan iritasi pada kulit anak. Bedak anak dan bayi biasanya tidak mengandung pewangi dan pewarna, karena fungsinya bukanlah untuk dekorasi, melainkan untuk higienis.
Dalam penggunaannya, bedak sebaiknya diletakkan dahulu pada telapak tangan kita, kemudian usapkan tipis dan merata pada daerah lipatan kulit yang telah kering dan bersih. Jangan membedaki anak kita layaknya melumuri kue donat dengan gula halus. Bedak bukanlah pengganti cara pembersihan kulit anak dan bayi dari sisa urin ataupun keringat. Jauhkan bedak dari jangkauan anak sehingga tidak dijadikan mainan atau terhirup tanpa sengaja. Perlu diperhatikan juga bahwa bedak tidak boleh digunakan pada kulit yang luka  karena dapat menimbulkan reaksi radang menahun.
Jangan sampai tergiur promosi iklan, perhatikan kandungan kosmetika serta keadaan kulit anak kita. Sehingga kita tidak hanya menjadi orang tua yang baik, melainkan juga konsumen yang bijak.
 

Share.

Leave A Reply

Exit mobile version