[pullquote]Ada anak yang menganggap semua hal adalah “ring” pertandingan yang harus dimenangkan, bahkan sampai urusan kecil. Anak begitu kelihatan sangat ambisius. Ini bisa meresahkan orangtua, terutama jika anak harus menghadapi kenyataan bahwa ia tak selalu bisa menjadi si nomor satu.[/pullquote]
Bolehkah menjadi ambisius ?
Ketahui dulu, ada ambisi positif, ada pula ambisi negatif. Ambisi positif adalah ketika anak jadi bersemangat untuk mengikuti kegiatannya, berusaha keras terlibat dalam aktivitas, atau serius sekali melakukan hal yang dianggapnya penting. Tentu saja ambisi model seperti ini sangat dibutuhkan anak.
Di sisi lain, ada lho ambisi negatif, yaitu ketika anak sampai lupa bahwa ada pula orang-orang lain yang ikut dalam kegiatan itu, seperti Brian yang lupa bahwa anak lain juga ingin hadiah dari pembawa acara. Gaby juga rentan mengalami ambisi negatif, misalnya ketika ia lupa waktu saat bermain, dan terus-terusan memikirkan game saja dalam kesehariannya.
Berita baiknya, ambisi negatif merupakan bagian dari proses belajar anak untuk dapat mengalami ambisi positif. Tak perlu terlalu khawatir ketika anak menunjukkan perilaku berambisi negatif. Banyak cara kok yang bisa dilakukan untuk mengasah mereka agar ambisinya semakin positif.
Ambisi, baik yang positif maupun negatif, merupakan salah satu indikator kepemimpinan pada anak. Ketika dilakukan dengan tetap memperhatikan aturan dan keberadaan orang lain, tentunya akan jadi baik. Masalahnya, anak-anak memang belum sepenuhnya mampu mengikuti aturan dan bersosialisasi. Kemampuan atensi dan konsentrasi juga belum sepenuhnya berkembang. Itulah mengapa ambisi anak sering terlihat ‘kurang pas.’
Anak-ambisius
Do this, parents
Apa sih yang bisa dilakukan orangtua untuk membuat ambisi anak jadi lebih positif?

  • Bantu anak belajar mengikuti aturan, artinya perlu diperkenalkan disiplin dengan cara yang konsisten dan positif di rumah.
  • Anak juga perlu banyak kesempatan bersosialisasi, baik dengan anak lain yang berusia lebih tua, lebih muda, ataupun seusia. Perbedaan usia teman akan menstimulasi perkembangan sosialnya, mulai dari berbagi, mengantri, memikirkan orang lain, ataupun menyelesaikan masalah dengan orang lain.
  • Bergaul dengan banyak teman juga membantu anak belajar mengatur kemampuan atensi dan konsentrasinya, tak hanya fokus pada dirinya sendiri, namun juga berusaha fokus pada orang lain.

Berbagai penelitian membuktikan bahwa pengasuhan yang konsisten dan sabar akan membuat anak lebih mampu mengatur dirinya, juga lebih mampu bersosialisasi, sehingga mampu menampilkan ambisinya secara lebih positif dalam lingkungannya. Sementara itu, apabila orangtua cenderung mengasuh dengan menggunakan ancaman, mempermalukan anak, memaksa, banyak menghukum, atau sebaliknya terlalu mudah menyerah kepada tangisan, anak justru kurang belajar ambisi positif.
Sudah siap kan membantu anak belajar ambisi yang positif ?

Share.

Leave A Reply

Exit mobile version