[pullquote]Kalimat “anak bukan orang dewasa mini” memang sudah cukup terkenal. Namun apakah pemahamannya sudah benar-benar diaplikasikan ?[/pullquote]
Pernah menonton acara Toddler and Tiaras di TV TLC ? Acara tersebut menayangkan anak-anak perempuan yang dipercantik seperti boneka Barbie. Tidak hanya menggunakan lipstik tebal, anak-anak ini didandani super lengkap sampai memakai bulu mata palsu, kulit dipercoklat dengan teknik tanning, memakai cat kuku. Singkatnya anak-anak itu berdandan ala model perempuan dewasa.
Jangan salah, di Indonesia juga ada acara serupa, yaitu Little Miss Indonesia. Anak-anak diajari menggunakan bahasa tubuh seperti orang dewasa, termasuk mendesah dan berjoget dengan gaya yang kurang pantas untuk usianya.
Tak usah jauh-jauh di TV, di lingkungan sekitar kita, mungkin sering terlihat anak-anak bernyanyi riang dengan lagu orang dewasa. Banyak pula yang dengan santai menonton sinetron yang isinya sama sekali bukan untuk anak, atau memainkan game untuk dewasa.
Ada juga sih anak yang melakukan kegiatan-kegiatan anak, namun dalam waktu yang amat panjang, seakan ia punya energi sebanyak itu. Misalnya anak yang harus ikut orangtuanya berangkat ke kantor, bermain di kantor seharian tanpa ada anak lain, nanti ikut pulang bersama orangtuanya. Ada pula yang setelah pulang sekolah diikutkan dalam les ini dan itu, bahkan bisa 2-3 les sehari, sehingga pulang ke rumah di waktu yang sama dengan orangtuanya pulang bekerja.
Apa yang tertulis di atas adalah contoh-contoh ketika anak diperlakukan sebagai orang dewasa. Padahal sudah jadi rahasia umum bahwa anak bukanlah orang dewasa berukuran mini. Anak adalah anak, yang memiliki pertumbuhan dan perkembangan yang khas, berbeda dari orang dewasa.
Menurut UU no 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, anak punya beberapa hak dan kewajiban, tertulis dalam Bab III. Coba kita cermati beberapa hak anak: hidup, tumbuh, dan berkembang sesuai harkat dan martabat kemanusiaan; mendapat perlindungan dari kekerasan, diskriminasi, dan eksploitasi; menyatakan dan didengar pendapatnya; beristirahat, bergaul, dan berkreasi; dan untuk semua hak anak selalu ditambahkan ‘sesuai usia’ atau ‘sesuai kondisinya’ (minat dan bakat, kecerdasan, atau kebutuhan lain).
UU tersebut menegaskan bahwa orangtua memiliki kewajiban untuk memberikan lingkungan yang aman dan nyaman untuk anaknya, juga menstimulasi anak agar anak berkembang seoptimal mungkin. Tujuan yang bagus, bukan? Namun sudahkah kita melakukannya?
Sebagian besar orang sudah paham bahwa anak bukanlah orang dewasa mini. Namun berbagai perilaku yang disebutkan di atas menunjukkan bahwa kita masih tetap memperlakukan anak sebagai orang dewasa mini. Mulai dari cara kita mendandani, memberikan tuntutan dan menggunakan waktu anak, sampai pemberian informasi yang kurang pas buat anak, ataupun melakukan pembiaran ketika informasi yang tak pantas buat anak tetap hadir di sekitar anak.
Terkadang perlakuan yang kurang tepat buat anak bukanlah karena ketidakpahaman terhadap kondisi anak saja, namun karena kesulitan orangtua dalam meregulasi alias mengatur emosinya. Bukankah terkadang kita masih mementingkan kenyamanan diri sendiri daripada memberikan yang terbaik buat anak ?
orang-dewasa-mini-web
Banyak sekali ibu yang bertanya tentang cara menangani perilaku anaknya. Sering sekali ibu dan ayah bertanya cara menangani anak yang tantrum dan anak yang membanting barang, juga mengaku bahwa ketika anak mengamuk, maka orangtua cenderung mudah terpancing ikut marah.
Memang ketika ada orang lain marah, emosi negatif kita cenderung ikut terpancing. Kita mungkin sedih, merasa bersalah, bisa juga ikut marah. Termasuk ketika yang marah adalah anak kita. Padahal ketika anak kita marah dan mengamuk, sering kali yang dilakukannya adalah ‘cry for help’ alias membutuhkan pertolongan dari orangtuanya. Anak marah bukan untuk menyakiti hati orangtuanya, namun karena butuh bantuan untuk mengambil sesuatu, untuk melakukan sesuatu, untuk mendapatkan perhatian, atau untuk menenangkan diri. Kalau orangtua menangkap kemarahan anak sebagai usaha anak untuk menyusahkan atau mengganggu orangtua, maka sangat mungkin orangtua memberikan respon yang salah, misalnya jadi terpancing marah.
Orangtua yang terpancing marah seringkali kesulitan mengatur perilakunya. Tak jarang orangtua jadi melakukan kekerasan terhadap anak, mulai dari mencubit, memukul, menampar, ataupun mengurung di ruang tertentu. Adapula kekerasan emosional yang dilakukan seperti mengancam, menakut-nakuti, meneriaki anak dengan suara menggelegar, ataupun ‘memamerkan’ pertengkaran orangtua di depan anak.
Bayangkan, anak yang sebetulnya membutuhkan pertolongan, namun justru mendapatkan kekerasan, karena orangtuanya kurang mampu mengatur emosinya. Tidakkah akhirnya anak justru mendapat kerugian dari orangtuanya?
Untuk mema stikan anak-anak kita mendapat perlakuan yang sesuai dengan usianya, apa saja yang bisa kita lakukan ?

  1. Selalu perbarui informasi tentang tumbuh kembang anak, agar paham apa yang dapat diharapkan dari anak seusia anak kita. Dengan demikian kita terhindar dari perilaku menuntut anak berlebihan.
  2. Cari informasi tentang pengasuhan anak sesuai usia, supaya bisa mengasuh dengan cara yang paling tepat.
  3. Atur emosi. Pada saat marah, tenangkan diri dulu, baru setelah tenang silahkan mengasuh anak kembali.
  4. Perbaiki hubungan dengan semua orang dewasa yang berinteraksi dengan anak, agar bersama-sama dapat mengasuh anak dengan sebaik mungkin. Ingat, “It takes a village to raise a child.”
  5. Apabila melihat ada perlakuan terhadap anak lain yang kurang sesuai, usahakan menegur orangtuanya dengan baik.

Apabila ini semua dilakukan, semoga kita dapat mengasuh anak-anak kita sesuai dengan kebutuhannya, dan bukannya menjadikan mereka sebagai orang dewasa mini.

Share.

No Comments

Leave A Reply

Exit mobile version