[quote type=”center”]Anak sakit tak selalu memerlukan antibiotik. Sayangnya, kadang justru orang tua yang meminta dokter untuk meresepkannya, supaya anaknya lekas sembuh. Lho![/quote]
 
[dropcap style=”font-size: 60px; color: #83D358;”]O[/dropcap]rangtua mana yang tak khawatir ketika si kecil sakit dan menjadi rewel karena panas, diare, atau pilek? Dokter pun didatangi demi kesembuhan sang anak. Pernahkah Anda memperhatikan obat-obat apa saja yang diberikan dokter untuk anak Anda? Seringkali dokter memberikan antibiotik bila si kecil batuk, pilek, atau mungkin diare. Tak jarang pula ada orangtua yang justru minta diresepkan antibiotik oleh dokter agar anaknya cepat sembuh.
issuu-maret-2013_Page_1
Bilamana anak perlu diberi antibiotik ?
Antibiotik merupakan obat khusus untuk membunuh bakteri. Antibiotik tidak dapat membunuh virus atau penyebab penyakit yang bukan bakteri. Karena tujuan pemberian antibiotik untuk membunuh bakteri tertentu, maka jika penyakit anak bukan disebabkan oleh bakteri, antibiotik tidak diperlukan. Penggunaan antibiotik irasional dapat memperburuk kondisi anak, misalnya merusak organ-organ tubuh yang belum sempurna, membunuh bakteri-bakteri baik dalam tubuh, dan juga membuat bakteri-bakteri yang belum terbunuh bermutasi dan menjadi resisten (kebal) terhadap antibiotik, sehingga antibiotik menjadi tidak mempan lagi.
Bakteri-bakteri yang bermutasi tadi biasa disebut superbugs. Selain itu, mungkin juga antibiotik dapat menimbulkan reaksi alergi pada beberapa anak. Alergi bersifat individual, mungkin muncul, mungkin juga tidak dan gejalanya berbeda-beda tiap anak. Jika anak Anda mengalami alergi akibat antibiotik, segera hentikan pengobatan dan hubungi dokter.
Sebagian besar infeksi yang terjadi pada anak adalah karena virus, bukan bakteri. Demam akibat virus biasanya mendadak dan cepat turun, sedangkan demam akibat bakteri dapat bertahan hingga beberapa hari. Jika anak panas, sebaiknya berikan penurun panas saja. Jika dua hari tidak turun panasnya, maka baru dipertimbangkan untuk diberi antibiotik.
Namun, jika penyakit anak diakibatkan oleh infeksi bakteri, seperti TBC, pneumonia, meningitis (radang selapu otak), radang tenggorokan akibat streptokokus, tifus, infeksi saluran kemih, dan lain-lain, maka sebaiknya diberi antibiotik spektrum sempit, yaitu antibiotik yang bekerja hanya membunuh suatu bakteri tertentu.

Perhatikan dosisnya
Jika anak Anda mendapat antibiotik, maka tepatilah aturan pakainya. Antibiotik harus diminum sampai habis untuk menghindari terjadinya resistensi bakteri. Ada beberapa faktor yang menyebabkan antibiotik tidak efektif, yaitu obatnya salah, bakterinya telah resisten, atau pasien tidak patuh dalam meminum antibiotik sesuai dengan dosis yang ditentukan.
Untuk anak-anak, dosis antibiotik didasarkan pada berat badan dan apakah organ tubuhnya telah berkembang sempurna. Hal-hal yang perlu diwaspadai jika anak mengonsumsi antibiotik adalah gangguan akibat efek samping antibiotik seperti demam, gangguan darah di mana salah satu antibiotik seperti kloramfenikol dapat menekan sumsum tulang sehingga produksi sel-sel darah menurun, kelainan hati, alergi hepatitis, dan gangguan ginjal.
Maka dari itu, sebagai orangtua, sebaiknya kita mengetahui obat apa saja yang dikonsumsi anak dan apakah obat tersebut tepat bagi anak, termasuk penggunaan antibiotik. Jangan segan untuk menanyakan pada dokter mengenai antibiotik yang diresepkan pada anak.
Referensi :

  1. Anonim.2005. Pharmaceutical Care untuk Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan. Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik, Departemen Kesehatan RI.
  2. Wilianti, Novi Pratikta. 2009. Rasionalitas Penggunaan antibiotik pada Pasien  Infeksi Saluran Kemih pada bangsal Penyakit Dalam di  DR. Kariadi Semarang tahun 2008. Fakultas Kedokteran Universitas Dipenogoro.
  3. Dr  Judarwanto, Widodo SpA.2006. Penggunaan Antibiotika Irasional Pada Anak. Inovasi Online Edisi Vol.8/XVIII/November 2006.
Share.

Leave A Reply

Exit mobile version