[dropcap style=”font-size: 60px; color: #83D358;”]I[/dropcap]ngat kisah sejati Bilqis? Bocah penderita atresia bilier yang menarik perhatian masyarakat sampai adanya “koin untuk Bilqis” Banyak yang tidak paham apa sebenarnya yang terjadi pada bocah kecil ini? Yuk, kita kenal lebih dekat apa itu atresia bilier…
Atresia bilier adalah penyakit yang timbul akibat rusaknya saluran empedu di luar hati, sehingga tidak ada aliran empedu dari hati ke dalam usus 12 jari yang normalnya terjadi. Akibatnya empedu menumpuk di hati. Asam empedu bila tertumpuk dapat merusak hati dan bila tersebar ke dalam darah dan kulit akan menyebabkan rasa gatal. Selain itu dalam empedu juga terdapat bilirubin. Bilirubin yang tertahan dalam hati akan dikeluarkan ke darah dan dapat mewarnai kulit serta bagian putih mata (konjungtiva) sehingga berwarna kuning. Bila berlangsung lama kerusakan hati dapat menyebabkan kerusakan hati lanjut yg disebut sirosis hati. Bila terus berlanjut akan dapat menyebabkan perdarahan di saluran cerna karena peningkatan tekanan darah yang masuk ke dalam hati. Atresia bilier adalah penyebab transplantasi hati tersering pada bayi/anak.
Bayi dengan atresia bilier selalu kuning, tanda yang khas adalah warna tinjanya dempul (putih pucat) karena bilirubin dalam empedu yang mewarnai tinja tidak masuk dalam usus. Bayi berusia lebih dari 2 minggu masih kuning apalagi tinjanya berwarna dempul perlu dicurigai dengan kelainan atresia bilier. Bayi dengan kecurigaan atresia bilier akan dilakukan pemeriksaan darah dan USG, biopsi hati dan kolangiografi intraoperatif bila perlu.
Bayi yang sudah ditegakkan diagnosis atresia bilier, bila usianya kurang dari 2 bulan akan dianjurkan untuk dilakukan operasi yang disebut prosedur Kasai. Bila usianya lebih dari 2 bulan, akan dilihat dahulu beratnya kerusakan hati yang sudah terjadi. Bila masih belum terlalu berat orang tua ditawarkan untuk melanjutkan Prosedur Kasai, tetapi tentu dengan kemungkinan keberhasilan yang lebih rendah daripada bila dilakukan sebelum usia 2 bulan. Bila terlalu lanjut kelainan hatinya, satu-satunya pilihan adalah dilakukan transplantasi hati nantinya.
Atresia bilier bila tidak terlambat dilakukan Prosedur Kasai memiliki kemungkinan dapat mengalirkan empedu dan memperbaiki keadaan kuningnya kurang lebih sampai 80% pasien. Tentu saja keberhasilan ini bergantung pada berbagai hal seperti beratnya penyakitnya itu sendiri, faktor pembedahan dan faktor perawatan setelah pembedahan. Walaupun telah dilakukan prosedur Kasai, bukan berarti telah sembuh. Proses kerusakan hati biasanya terus berlangsung, bisa cepat bila pula lambat. Ada laporan setelah dioperasi Kasai, penderita masih dapat menggunakan hatinya sendiri sampai usia 25 tahun dan belum ditransplantasi hati. Pada banyak penderita umumnya lebih cepat dari itu sudah harus dilakukan transplantasi hati. Jadi prosedur Kasai bukan jawaban akhir untuk penyembuhan, itu adalah operasi sementara untuk menunda transplantasi pada usia dini.

Share.

Leave A Reply

Exit mobile version