[pullquote]Suami lebih asyik dengan hobinya, yang seolah bak ‘isteri kedua’. Kadang ini memicu perselisihan. Lalu, mesti bagaimana ?[/pullquote]
Yati mempermasalahkan kegemaran Doni mengutak-atik motor besarnya. Menurut Yati, sebetulnya Doni masih cukup tahu waktu, Doni tak keberatan membantu Yati mengurus Edward, anak mereka. Namun tiap bulan, Doni menghabiskan uang dalam jumlah sangat besar untuk membeli perlengkapan untuk motor besarnya, mulai dari suku cadang sampai aksesoris pakaian bertemakan si motor besar. Uang yang dihabiskan bahkan lebih besar daripada uang yang digunakan untuk keperluan rumah sehari-hari setiap bulannya. Menurut Yati, harusnya mereka bisa menabung jauh lebih banyak untuk keperluan masa depan keluarga.
[dropcap style=”color: #83d358;”]C[/dropcap]ontoh di atas mewakili banyak kasus yang muncul di masyarakat akhir-akhir ini. Banyak suami-istri yang terlibat dalam pertengkaran intens karena hobi salah satu dari mereka. Bukan hanya hobi bermain game dan utak-atik motor besar yang menjadi masalah. Ada lagi jenis hobi lain yang juga sering meresahkan pasangan seperti hobi belanja (biasanya oleh istri), makan, buka media sosial, chatting, berjudi, olahraga, bahkan hobi bekerja (workaholic).
Kapan perlu diwaspadai ?
Hobi pasangan menjadi masalah bila dilakukan berlebihan, sampai mengganggu waktu bersama keluarga. Cermati apakah hobi pasangan telah berubah menjadi ketergantungan. Coba cek beberapa hal berikut:

  1. Apakah ia menghabiskan amat sangat banyak waktu terlibat dalam hobi ini?
  2. Apakah ia terlihat kesulitan menyetop hobinya?
  3. Apakah ia lebih suka melakukan hobinya dibanding berkumpul dengan Anda dan anak-anak?
  4. Apakah ia terlihat sangat menikmati hobinya, sampai-sampai terus mencari hal baru tentang hobi tersebut?
  5. Apakah ketika ia tak melakukan hobinya, mood-nya menjadi tak beraturan (mood swing)?
  6. Apakah pengeluaran untuk hobinya menjadi berlebihan?
  7. Apakah semakin lama hobi menjadi semakin sering dilakukan untuk mendapatkan tingkat kepuasan yang sama? Misal, awalnya puas dengan menonton film di DVD saja, lama-kelamaan harus menonton di hari pertama film muncul, dan harus di bioskop kelas tertentu.
  8. Apakah pekerjaan atau kegiatan hariannya menjadi terganggu karena terus melakukan hobi? Contoh, tidur jadi berkurang karena menghabiskan waktu untuk hobi tersebut.

Jika sebagian besar jawaban untuk pertanyaan di atas adalah ‘tidak’, cobalah lebih membuka diri terhadap hobi pasangan. Mungkin saja hobi pasangan justru menguntungkan. Anda dapat memberikan lebih banyak toleransi agar pasangan dapat menjalankan hobinya. Bagaimanapun menjalankan hobi membuat pasangan bisa mendapat kesenangan, yang berfungsi sebagai ‘batere’ tambahan untuk meningkatkan semangat hidup.
Sebaliknya, apabila banyak jawaban ‘ya’ untuk pertanyaan-pertanyaan di atas, maka sangat mungkin hobi tersebut sudah berubah menjadi adiksi. Biasanya Andapun sebagai pasangan juga sudah terpengaruh, misalnya menjadi lebih mudah marah ketika pasangan menjalankan hobinya. Adiksi menjadi tak sehat buat Anda berdua, dan tentunya dapat berpengaruh kepada anak, sehingga harus ditangani.

Apa yang dapat dilakukan?
Apabila yang dilakukan pasangan masih dalam taraf hobi dan memang sifatnya positif, perlu sekali Anda dan anak-anak mengijinkan si pasangan melakukan hobinya, atau justru terlibat di dalamnya. Dengan demikian kebersamaan keluarga tetap dapat tercipta walaupun pasangan menjalankan hobinya.
Jika pasangan sudah mengalami adiksi, maka ada beberapa hal yang perlu Anda lakukan. Penting sekali komunikasi tetap dilakukan dengan baik. Hubungan Anda dengan pasangan tetap perlu lembut, berusaha peduli, namun tegas ketika perlu mengonfrontasi adiksinya.
Pasangan yang sudah sampai mengalami adiksi sangat mungkin berbohong untuk menutupi hobinya. Ia mungkin juga menyangkal dan bersikap defensif. Ketika diajak bicara tentang adiksinya, sangat mungkin ia berusaha menghindar, dan mencoba mengalihkan ke topik lain. Walaupun demikian, Anda sebagai pasangan tetap perlu menyampaikan fakta-fakta dengan tegas dan lembut, dengan mengedepankan kepedulian dan penghargaan Anda kepadanya.
Ketika mendiskusikan adiksinya, pilih waktu yang paling nyaman. Jangan sampai salah satu dari Anda sedang terburu-buru atau sedang sangat lelah. Baik sekali kalau Anda bisa janjian dulu, namun karena sangat mungkin ia menghindar, jauh lebih baik kalau Anda memintanya bicara berdua dengan senyum manis.
Pikirkan apa yang ingin Anda bicarakan, dan bagaimana Anda akan membicarakannya. Usahakan Anda menyampaikan maksud Anda dengan nada rendah. Usahakan dia merasa nyaman dengan pembicaraan tak nyaman ini, agar setidaknya ia bertahan untuk bicara berulangkali tentang topik ini. Jika ia merasa tak nyaman, maka ia akan lebih berusaha untuk menghindar pembicaraan apapun dengan Anda.
Kata-kata Anda tetap perlu jujur, namun tetap perlu memberikan harapan, dan tetap menunjukkan dukungan Anda. Agar ia bisa mengubah diri, maka daripada sekadar menyalahkannya, lebih baik Anda memikirkan perubahan seperti apa yang diinginkan. Contoh, daripada sekadar mengeluhkan dia terlalu banyak main game, lebih baik Anda sampaikan keinginan Anda agar hari Minggu pagi bisa berjalan kaki bersama keluarga berkeliling komplek. Sampaikan keyakinan Anda bahwa pasangan pasti bisa melakukannya, karena Anda percaya pasangan sayang kepada keluarga.
Memang memiliki pasangan yang mengalami adiksi antara mudah dan sulit. Selain tetap mendukung, Anda juga harus tegas. Justru kalau Anda terlalu lembut, perbaikan diri pasangan menjadi lebih sulit. Simpati berlebihan dari Anda seakan memberikan ijin bagi pasangan untuk menyesali saja perbuatannya, dan melihat penyembuhan menjadi hal sulit. Padahal bukan demikian. Keluarga harus dapat meyakinkan bahwa perbaikan diri atau penyembuhan adiksi mungkin sulit, namun mungkin dilakukan, dan bahwa keluarga berada di sana untuk membantu.

Share.

Leave A Reply

Exit mobile version