Mungkin Anda pernah mendengar istilah kuretase atau kuret, misalnya pada ibu yang keguguran atau mengalami perdarahan terus menerus. Kuretase adalah proses pengeluaran isi rongga rahim untuk membersihkan sisa kehamilan atau jaringan yang tak normal.

 



Kapan Ibu perlu kuret?

  1. Bila terjadi keguguran (abortus). Dilakukan untuk mengeluarkan jaringan yang masih tersisa atau janin yang telah gugur tetapi masih utuh dalam rahim.

  2. Bila masih terdapat sisa plasenta pada ibu yang habis melahirkan. Tindakan kuretase merupakan cara untuk mencegah perdarahan yang disebabkan sisa plasenta yang tertinggal dalam rahim.

  3. Bila terjadi perdarahan rahim yang tak normal. Gejalanya perdarahan tidak teratur, banyak, atau perdarahan pada ibu yang sudah menopause. Bisa disebabkan gangguan hormonal, mioma uteri (tumor jinak otot rahim), polip endometrium (tumor jinak selaput lendir rahim), pertumbuhan endometrium yang berlebihan, dan kanker endometrium. Kuretase pada gangguan hormonal hanya dilakukan bila obat-obatan tak dapat mengatasi perdarahan atau bila ibu tidak diperbolehkan mengonsumsinya. Pada kasus ini, kuretase dilakukan untuk mengambil contoh jaringan (biopsi) agar Ibu dapat segera diobati sedini mungkin.

Risiko kuret

Kuretase sebenarnya merupakan tindakan yang cukup aman, tetapi tetap memiliki risiko. Pada ibu hamil, kuretase akan lebih tinggi risikonya bila dilakukan pada kehamilan ibu lebih dari 12 minggu dibandingkan sebelum 12 minggu. Inilah risiko yang perlu dipertimbangkan:

Perdarahan

Pada beberapa kasus, dapat terjadi sedikit perdarahan terutama bila dinding rahim sudah sangat rapuh hingga terjadi robekan saat kuretase. Perdarahan yang lebih banyak bisa terjadi bila  memiliki mioma uteri yang tidak terdeteksi dan terpotong saat kuretase. 

Infeksi

Infeksi ringan akan terjadi bila ada alat yang dimasukkan ke dalam rongga rahim, infeksi jenis ini mudah diobati dengan antibiotika. Tetapi ibu tetap perlu waspada kemungkinan infeksi yang lebih serius.

Robekan rahim

Jarang terjadi. Biasanya terjadi pada ibu yang sebelumnya memiliki infeksi rahim  atau bila ibu sudah menopause.

Sindrom Asherman

Sindrom Asherman adalah kelainan rahim yang ditandai adanya jaringan parut yang menyebabkan permukaan dinding rahim melekat satu sama lain. Risiko ini  terjadi karena kerokan pada saat kuretase terlalu berlebihan atau reaksi badan yang tak normal terhadap kerokan kuretase. Ibu bisa tidak menstruasi lagi dan dapat terjadi kemandulan. Untungnya, risiko ini jarang terjadi.

Untuk Anda yang akan kuret

  • Hindari obat obatan seperti aspirin beberapa hari sebelum kuret karena akan mengganggu proses pembekuan darah yang dapat mengakibatkan banyak perdarahan setelah kuretase.

  • Jauhi alkohol dan rokok.

  • Hindari obat-obatan herbal 2 minggu sebelum dilakukan kuret.

  • Bagi ibu yang memiliki penyakit kronis seperti diabetes melitus dan hipertensi, usahakan agar penyakit tersebut terkontrol sebelum kuretase dilakukan.

  • Puasa 12 jam sebelum tindakan jika akan dilakukan anestesi umum atau 8 jam sebelum anestesi lokal.

  • Lakukan pemeriksaan darah dan air kencing 1hari sebelum dilakukan tindakan untuk mengetahui apakah ada kelainan atau tidak.

Referensi

  1. Dilation And Curettage. Last Updated: April 26, 2001

    Synonyms and related keywords:
    D&C, suction curettage, uterine curettage, fractional D&C

    Author:
    Carmine E Williams, MD, Consulting Staff, Department of Emergency Medicine, Quincy Medical Center

    Coauthor(s):
    Robert M McNamara, MD, FAAEM, Professor of Emergency Medicine, Temple University; Chief, Department of Internal Medicine, Section of Emergency Medicine, Temple University Hospital; Raymond Brown, MD, Assistant Director, Assistant Professor, Department of Obstetrics, Gynecology and Reproductive Sciences, Division of Gynecology and General Practice, Temple University

  2. Novak’s Gynaecology, 13th edition, 2002, Lippincott Williams & Wilkins
Share.

No Comments

Leave A Reply

Exit mobile version