“Punya aku!” teriak Dino keras. Ranti ibunya dibuat geleng-geleng kepala dengan sikap Dino, putranya yang berusia 4 tahun. Dino sulit sekali diajak berbagi, apapun itu. Mainan, makanan bahkan sekadar tempat duduk.
 
[dropcap style=”font-size: 60px; color: #83D358;”]S[/dropcap]eperti halnya Dino, kebanyakan anak memang tidak senang berbagi, kapanpun itu. Baik berbagi dengan saudaranya maupun dengan teman baiknya. Perilaku ini bukan saja tidak dimiliki anak, tetapi seringkali juga tidak diinginkannya.
Tidak mau berbagi sebenarnya insting bertahan hidup (survival instinct). Insting ini membuat anak mempertahankan miliknya. Anak mempertahankan ibu, mainan, atau makanannya, dan akan marah jika diminta untuk berbagi kepemilikan.
 
Selain itu, membolehkan teman bermain dengan mainannya membuat anak panik, karena ia belum memahami konsep meminjam. Bagi anak, sebuah benda yang “beralih tangan”, sama artinya dengan beralih kepemilikan. Jadi sebaiknya Anda tidak berusaha membujuk anak untuk meminjamkan mainan pada temannya. Ia akan berpikiran, bahwa Anda merelakan mainan kesayangan menjadi milik temannya.
Jadi, bagaimana cara membuat si kecil memahami nilai di balik perlunya berbagi? Berikut beberapa cara menanamkan anak sifat berbagi:
1. Contohkan pada anak
Cara efektif mengajarkan anak berbagi adalah dengan memberikan contoh langsung. Misalnya bagikan kue atau permen kita secara merata kepada semua anggota keluarga di hadapan si kecil, agar dia melihat dan mengikuti perilaku tersebut.
 
2. Bermain bersama teman sebaya
Beri kesempatan anak bersosialisasi dengan anak-anak seusianya. Masukkan si kecil ke playgroup atau undang anak tetangga untuk bermain di rumah.
 
3. Setumpuk mainan untuk bersama
Berikan mainan yang bisa dimainkan bersama. Misalnya puzzle, lego, pancingan atau balok-balok. Anak-anak bisa bermain bersama tanpa khawatir tidak kebagian.

4. Berikan perintah dengan jelas
Anak-anak memahami perintah secara harfiah. Beri perintah yang jelas apa yang harus dilakukannya saat bermain. Hindari mengatakan, “Mainnya yang manis ya.” Tapi jelaskan pada anak, “Kalau main ayunan gantian ya.”
 
5. Pujilah perbuatan baiknya
Berikan pujian jika ia berbagi dengan temannya atas kemauan sendiri. Mendorong tingkah laku yang baik akan memotivasi anak untuk mencari perhatian Anda dengan melakukan tindakan positif, bukan negatif.
 
6. Simpan mainan kesayangan
Biarkan anak menyembunyikan beberapa mainan yang paling disukainya. Letakkan di lemari yang tidak dapat dijangkau anak lain. Jelaskan pada anak bahwa mainan itu tidak boleh dimainkan di depan teman-temannya. Dengan memberi pengertian semacam itu, mungkin dapat membuatnya tergerak berbagi mainan kesayangannya.
 
7. Bantu anak memahami akibat perbuatannya
Jika anak merebut mainan dari temannya, bantu dia memahami akibat perbuatannya itu. Daripada memarahinya, lebih baik dekati anak dan katakan, “Bagaimana perasaanmu jika sekarang ibu mengambil mainan itu dari tanganmu?” Lalu lakukanlah. Anak akan terkejut ketika Anda merebut mainannya dan akan berpikir ulang jika hendak melakukannya. Ajak dia mengembalikan mainan itu dan meminta maaf.
 
8. Kadang, anak tidak perlu berbagi
Anak sebaiknya tahu, ada saatnya ia tidak perlu berbagi. Misal, si kecil baru dibelikan sepeda baru dan Anda mengajaknya di taman. Seorang anak yang tidak pernah Anda lihat sebelumnya mendekat dan ingin meminjam sepedanya. Untuk kasus seperti ini ajarkan anak untuk mengatakan “tidak” atau “lain kali” dengan sopan dan beranjak pergi. Dukunglah anak dan biarkan ia mengetahui bahwa terkadang kita tida perlu berbagi, terutama dengan orang yang tidak dikenal.
Referensi :

  1. Kennedy, Michelle. 2004. Jealousy : 99 Tips to Bring You Back from the End of Your Rope, Paperback
  2. Roberta M. Berns.2006. Child, Family, School, Community: Socialization and Support Wadsworth Pub Co
Share.

Leave A Reply

Exit mobile version