Buah hati Anda keras kepala, susah dikasih tahu. Melakukan apa yang ia suka. Perlu tindakan yang tepat dari orang, daripada sekadar teguran?

Bertambahnya usia terkadang memberi perubahan pada sikap dan perilaku anak. Anak yang semula tak banyak tingkah, bukan tak mungkin dapat berubah menjadi anak yang keras kepala ketika menginjak usia tiga tahun.
Sikap demikian tentu kurang menyenangkan karena terkesan membangkang namun untuk menegur keras orang tua khawatir akan membuat anak semakin keukeuh. Salah satu alternatif yang kerap ditempuh orangtua adalah menerapkan sistem hadiah dan hukuman untuk meminimalisir sikap anak. Tapi benarkah hal tersebut efektif? Apakah sikap keras kepala selalu buruk?
Tak berarti buruk
Sikap keras kepala pada anak merupakan suatu bentuk dari sikap tidak menuruti arahan orangtua. Dalam menghadapi sikap anak orangtua karena terlalu emosi lupa melihat alasan lain dibalik sikap anak tersebut. Beberapa ahli perkembangan menjelaskan bahwa sikap anak yang tidak menuruti arahan orangtua sebagai bentuk inisiatif anak.
Erikson, salah seorang ahli perkembangan menyebutkan bahwa pada usia 3-6 tahun, anak-anak mengalami perkembangan psikososial yang lebih komplek dari tahap yang sebelumnya. Pada tahapan ini anak belajar menampilkan apa yang ia rasa benar atau sesuai untuk dilakukan. Ketika anak berhasil melalui tahapan ini, ia diharapkan dapat memahami tujuan dari sebuah perilaku yang dianggap baik.
Pada beberapa anak cepat lambatnya anak dalam melalui tahapan ini sangat dipengaruhi perkembangan psikososial sangat dipengaruhi oleh stimulasi, nilai yang diterapkan orangtua, dan kebebasan anak dalam bereksplorasi. Dalam merespon sikap anak. Orangtua juga perlu memahami bahwa hukuman tidak selalu perlu untuk alasan terkait perilaku demikian pula hadiah.
Sikap orangtua
Pada usia 3-6 tahun anak akan banyak bereksplorasi dengan lingkungan. Pada tahap ini anak akan sangat sering melakukan hal-hal yang mungkin tidak sesuai dengan kehendak orangtua atau aturan / nilai yang berlaku.  Anak biasanya melakukan hal tersebut secara spontan  dan berusaha mengamati respon lingkungan terhadap perilaku yang ia kerjakan.
Sebagai orangtua tak perlu heran ketika anak dengan sikap keras kepala apabila ditegur beberapa saat kemudian ia akan mengulang perilaku yang tidak diharapkan. Dari sudut pandang anak apabila dengan perilakunya ia berhasil merubah intonasi suara dan perilaku orangtua. Maka inisiatifnya untuk mengontrol lingkungan dengan perilakunya berhasil dan ia akan mengulanginya lagi. Dalam hal ini pengawasan dan pengarahan orangtua sangat diperlukan anak. Beberapa cara yang dapat dilakukan orangtua saat mendampingi anak yang sedang berada dalam tahapan perkembangan  ini antara lain :

  • Tetap konsisten menghadapi perilaku anak dengan senyuman.
  • Memberi kegiatan rutin yang produktif bagi anak, misalnya berenang bersama setiap hari Sabtu dan/atau Minggu, rutin membacakan buku cerita setiap mau tidur, atau mengikutsertakan anak di playgroup dekat rumah.
  • Memberikan kesempatan anak untuk melakukan kesalahan. Jika anak melakukan sebuah kesalahan, berikan kesempatan yang kurang lebih sama dan contohkan apa yang seharusnya ia lakukan.
  • Konsisten memberikan contoh-contoh perilaku yang diterima di keluarga. Jika orangtua ingin anak bisa makan rapi di meja makan, biasakan seluruh anggota keluarga makan di meja makan bersama anak.
  • Kenalkan perilaku yang diharapkan muncul dari anak melalui permainan pura-pura atau melalui buku cerita yang rutin dibacakan pada anak. Pengenalan konsep Tuhan dan norma agama/sosial seringkali dapat membantu anak memahami apa yang baik dan tidak baik untuk dilakukan.
  • Sediakan mainan yang menggugah imajinasi dan kreasinya, misalnya alat gambar atau lego. Permainan ini akan memudahkan anak mengeksplorasi idea dan kreativitasnya.
  • Buat ayah atau ibu, lakukan “Me Time” dengan cara menjauh dari anak untuk melakukan hal-hal yang ibu sukai. Ini penting untuk tetap menjaga kondisi emosi ibu/ayah/keduanya, dalam posisi stabil dan siap menghadapi segala bentuk inisiatif anak dengan senyuman.

Referensi:

  • Newman, B.M. & Newman, P.R. (2008). Development Through Life : A Psychosocial Approach. Wadsworth Cengage Learning : California, USA.
Share.

Comments are closed.

Exit mobile version