[pullquote]Selain dapat mengubah karakter seseorang, memiliki anak juga membuat kita menjadi supporter nomor satu dalam mendukung kemajuan anak. Cisca Becker membuktikannya…[/pullquote]
Perempuan berdarah Manado dan Jerman ini mengakui bahwa sifat keibuannya muncul ketika telah memiliki buah hati. “Dulu aku termasuk tipe orang yang nggak sabaran. Suamiku untungnya selalu mengingatkan aku untuk bicara lembut dan tidak emosional menghadapi anak. Akhirnya sekarang aku sudah bisa lebih sabar, hahaha…,” ungkap istri dari Marlon Marandi ini sambil tergelak.
Kuncinya: penyesuaian jadwal
Mengawali karir sebagai penyiar radio, Cisca kini sering muncul sebagai MC dan presenter di salah satu TV swasta. Meski ia sibuk bekerja sebagai penyiar radio Cosmopolitan FM, sebagai MC, blogger maupun presenter di O’Channel TV, ibu yang satu ini merasa tak merasa kehabisan waktu dengan anak.
“Puji Tuhan, aku masih bisa menyesuaikan jadwal kerja serta waktu untuk anak-anak. Biasanya pagi hari hingga siang, aku isi dengan mengurus dan bermain bersama anak. Jika mendapat job sebagai MC di tempat yang nyaman, mereka dan pengasuhnya aku boyong juga ke tempat kerja. Kalau tidak ada pilihan membawa mereka dan suami juga sibuk, biasanya aku titipkan ke opungnya,” ujar Ibu dari Loli (3 tahun) dan Fipa (9 bulan) ini.
Bagi perempuan yang senang membaca ini, menjadi ibu dari dua anak adalah sebuah berkah dari Yang Maha Kuasa yang perlu ia syukuri dan jalankan sebaik-baiknya. “Buatku, anak dan suami adalah segalanya. Aku bahkan sempat merawat anak pertamaku sendiri tanpa bantuan pengasuh selama dua tahun. Baru setelah punya dua anak aku pakai jasa pengasuh. Bahagia sekali rasanya menjadi full time mom, bonding dengan anak sangat terasa,” tutur pengagum The Beatles ini.
Stimulasi bakat anak
Sadar setiap anak memiliki kecerdasan dan bakat yang berbeda, perempuan berzodiak Aries yang senang traveling ini pun tak ingin menyia-nyiakan bakat putrinya. Cisca selalu memperhatikan perkembangan kedua putrinya. Ia melihat putri pertamanya sangat mudah bersosialisasi. ”Loli mudah bergaul dan punya empati tinggi. Mungkin karena sejak kecil selalu saya bawa kalau kerja, jadi mudah dekat dengan orang. Beda dengan si kecil, Fipa, yang agak pemalu,” terang Cisca sambil memeluk kedua putrinya.
Selain pandai bersosialisasi, putri pertama Cisca ini juga senang bergerak (kecerdasan kinstetik), dan senang mendengarkan musik. Cisca kemudian memasukkan Loli ke sekolah yang banyak mengenalkan aktivitas bergerak dengan iringan music. “Loli senang menyanyi dan menari, jadi aku memasukkan  dia ke Rock Star Gym seminggu tiga kali. Ia bisa belajar menyanyi, balet dan berolahraga juga di sana,” kata Cisca bangga pada putrinya.
Guna menstimulasi bakat Loli, tahun depan Cisca berencana memasukkan Si Sulung untuk kursus piano, walaupun sebenarnya sang buah hati lebih suka main drum. ”Bukannya mau memaksakan kehendak, tapi aku dan suami melihat kalau Loli kursus drum, nanti rumah bakal bising dan pastinya heboh, jadi aku sarankan dia untuk belajar piano saja. Syukurlah anaknya tetap bersemangat,” ujar Cisca.
Mengajari arti perbedaan
Di dunia yang begitu diverse ini,  Cisca dan suaminya merasa perlu untuk mengajari anak-anak bagaimana memahami dan menghargai perbedaan tersebut. Mereka ingin Loli dan Fipa mampu berinteraksi dan menghormati orang lain dari berbagai kalangan sejak mereka kecil. Mereka berusaha memberikan contoh dari berbagai hal yang dialami sehari-hari untuk memperkuat skill ini.
“Kami tidak memasukkan anak ke sekolah yang berbasis agama karena kedua buat hatiku harus tahu bahwa di dunia ini banyak sekali perbedaan. Mereka akan belajar untuk memahami karakter teman-temannya, bahwa ada suku dan agama yang berbeda, begitu juga kondisi keluarga teman-temannya yang pasti berbeda-beda. Jika ada pertanyaan dari mereka tentunya akan aku jelaskan dengan bahasa anak, tapi aku juga akan memberikan penekanan bahwa perbedaan itu bukan sesuatu yang aneh, justru harus dihargai,” demikian jelas Cisca.
Pasangan muda ini pun mengajarkan anak untuk memiliki empati dan mengutamakan sopan santun. “Banyak hal yang bisa diajarkan dari kejadian sehari-hari. Misalnya kala ada adik sepupunya yang menangis, aku dorong Loli untuk bertanya apa yang membuatnya menangis. Atau kalau bertemu dengan orang yang lebih tua, bagaimana ia harus bersikap. Berbicara dengan orang lain pun tidak boleh dengan nada memerintah atau merendahkan. Puji Tuhan, Loli cepat menangkap, bahkan dari gurunya aku sering dapat laporan bahwa anakku ini memiliki rasa empati yang tinggi di sekolah,” tuturnya bangga.
Bagi Cisca, anak-anak merupakan hasil bentukan orangtuanya sejak mereka kecil. Jadi, karakter anak saat dewasa nanti sangat ditentukan oleh apa yang diajarkan oleh orangtuanya kini.

Share.

Leave A Reply

Exit mobile version