Setiap anak memiliki kesiapan yang berbeda dalam mempelajari sesuatu. Lakukan stimulasi sesuai usia dan porsinya, agar tak terjadi overstimulasi

Stimulasi diberikan untuk memberi rangsangan kepada anak agar anak mampu melakukan sesuatu. Misalnya agar anak cepat bisa merangkak, kita meletakkan mainan di depannya. Bila sudah sesuai perkembangannya, anak mampu melakukannya. Namun hati-hati jangan sampai terjadi overstimulasi. Misalnya saja anak sudah tidak mau merangkak, namun kita tetap saja memaksakannya untuk belajar merangkak. Overstimulasi dapat berdampak negatif buat perkembangan karakter anak, dan juga fisik dan psikologisnya.
Jangan memaksa
Orangtua sebaiknya memberi stimulasi sesuai dengan tahapan perkembangan anak dan kesiapan anak menerima stimulasi tersebut. Amati, bagaimana respons dan minat si kecil. Berikan waktu kepada si kecil untuk mengeksplorasi lingkungannya secara mandiri.
Pemberian stimulasi yang tidak sesuai dengan tahap perkembangan bayi tergolong overstimulasi. Misalnya menstimulasi bayi untuk berjalan padahal tulangnya belum kuat. Jika bayi mengalami overstimulasi ia akan cenderung rewel, menangis atau memalingkan wajah dari objek stimulasi yang diberikan.
Selain mengamati kemampuan dan tahap perkembangannya, stimulasi sebaiknya diminati anak. Jika ia kelihatan tidak berminat, coba ganti dengan cara lain. Kadang orangtua tidak menyadari telah melakukan overstimulasi pada anak. Misalnya karena memberi seabrek mainan, rentang stimulasi terlalu lama, atau memaksakan aktivitas bermain yang tak disukai anak.
Awas over stimulasi!
Over stimulasi tidak baik bagi anak karena dapat memengaruhi perkembangannya. Perhatikan beberapa aspek berikut:
Motorik
Jika anak yang belum berada pada tahap belajar berjalan, namun dipaksa untuk berdiri dan dititah, struktur kakinya dapat terganggu. Begitu pula dengan anak yang belum waktunya duduk namun dipaksa duduk sendiri, struktur tulang punggungnya bisa terganggu.
Bahasa
Jika kita mengajak anak menyanyi, bersenandung, atau mengobrol lalu ia merespons dengan senyum dan mengoceh, berarti stimulasi itu tepat untuknya. Sebaliknya, jika ia seakan tak peduli, coba cari tahu penyebabnya. Bisa jadi ia sakit, mengantuk, atau memang tidak tertarik pada rangsangan tersebut pada saat itu.
Sosial
Over stimulasi membuat anak merasa tak nyaman dan tak aman. Aspek sosialnya terganggu. Efeknya, anak jadi mudah marah, sulit bergaul dengan teman sebaya, atau butuh waktu beradaptasi yang cukup lama. Contoh paling sering adalah memaksa anak yang enggan bersalaman dengan orang yang baru dikenalnya. Mungkin niat Anda adalah agar ia belajar bersosialisasi, sesuatu yang sesungguhnya bagus. Namun jika anak memperlihatkan reaksi yang enggan, lakukan saja di lain waktu. Sebaiknya orangtua mampu menciptakan kondisi alamiah yang memungkinkan si kecil memperoleh basic trust. Hal ini terkait erat dengan kelekatan orangtua dan anak.
Apa akibat over stimulasi?

  • Emosi negatif. Mudah marah, sering menangis, dan susah ditenangkan karena ia merasa bosan. Merasa tak dipahami orangtua.
  • Kemampuan belajar menurun. Mengajari bayi bertubi-tubi berbagai permainan sederhana, justru membuatnya sulit mencerna dan memahami stimulasi yang diberikan.
  • Menolak stimulasi secara konsisten/ terus menerus, bukan hanya sesaat. Ia jadi kurang responsif terhadap lingkungan.
  • Efek lain dari overstimulasi adalah waktu istirahat anak terganggu.

Orangtua sebaiknya memilah dan memilih mana stimulasi yang cocok untuk buah hati Anda. Gempuran informasi yang luar biasa dari media massa dan medsos sebaiknya disaring kembali.

Share.

Comments are closed.

Exit mobile version