[quote type=”center”]Ada sekian banyak alasan mengapa ibu bekerja, mulai dari memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga sampai sebagai suatu bentuk aktualisasi diri.[/quote]
 
[dropcap style=”font-size: 60px; color: #83D358;”]A[/dropcap]papun alasannya, sudah tidak aneh lagi bagi seorang ibu untuk berperan ganda, menjadi ibu di rumah sekaligus bekerja di luar rumah.
Pro dan kontra fenomena ibu bekerja terus berlanjut. Ada pihak yang mengatakan ibu sebaiknya di rumah agar perkembangan anak lebih baik, tapi ada yang berpendapat bahwa dengan diam di rumah belum menjamin perkembangan anak menjadi lebih baik. Seiring dengan pro kontra ini banyak bermunculan hasil-hasil penelitian baik yang menentang maupun mendukung ibu bekerja. Beberapa di antaranya:
Yang kontra….

  • Suatu penelitian yang dilakukan Bio-medical Library di Universitas Minnesota pada tahun 2001, menunjukkan bahwa anak-anak dari ibu yang bekerja di luar rumah selama 30 jam atau lebih dalam seminggu mengalami keterlambatan perkembangan kognitif.
  • Sebuah penelitian yang diterbitkan di Boston Globe, Juli 2002, mengungkapkan bahwa anak-anak yang ibunya kembali bekerja sebelum mereka berusia 9 bulan, memiliki kemampuan mental dan verbal yang lebih rendah di usia 3 tahun dibanding anak yang ibunya tinggal di rumah dan mengasuh langsung anak-anaknya.

 
Yang pro….

  • Studi penelitian yang dilakukan Elizabeth Harvey, seorang psikolog peneliti di Universitas Massachusetts, di tahun 1999, mengungkapkan bahwa tidak ada dampak merugikan bagi anak-anak yang ibunya bekerja.
  • Penelitian yang dilakukan oleh sebuah tim dari Universitas Texas tahun 2005, tidak menemukan adanya masalah perkembangan pada anak-anak yang ibunya bekerja di luar rumah. Penelitian ini mengungkapkan bahwa ibu memang sumber penting dari pengasuhan anak tapi dia tidak harus tinggal di rumah selama 24 jam penuh untuk membangun kedekatan dengan anak.

Memang segala sesuatunya bisa dipandang dari dua sisi. Sekarang mari kita coba jabarkan apa sisi positif dan sisi negatif dari ibu bekerja terhadap anak-anaknya:

Positif

Negatif

Anak belajar mandiri dalam melakukan aktivitas di rumah tanpa bantuan atau ditemani ibu.
Ibu tidak punya banyak peluang intervensi dalam aktivitas anak karena anak sudah mengembangkan kemandirian atau berpegangan pada apa yang ia dapat dari pengasuh pengganti ibu selama ibu bekerja.
Anak belajar mengembangkan kedekatan dengan orang lain.
Anak mungkin menjadi lebih dekat dengan pengasuh, nenek atau siapapun yang berada di rumah ketika ibu bekerja.
Anak menantikan dan menghargai kebersamaan dengan ibu.
Peran ibu berkurang di mata anak karena sedikitnya waktu yang ibu punya untuk dihabiskan bersama anak.
Anak belajar tentang nilai peran orang dewasa bagaimana ibu juga bertanggung jawab atas kehidupan keluarga.
Anak mungkin punya keinginan lain akan peran ibunya, seperti ingin ibu di rumah saja selayaknya ibu dari teman sekolahnya.

 

rosiehuntingtonwhiteley.net

Melihat berbagai hasil penelitian baik yang pro maupun kontra dan dampak positif serta negatifnya, semuanya serba mungkin terjadi pada setiap keluarga di mana sang ibu bekerja. Bagaimana agar dampak yang terjadi bisa positif dan dampak negatifnya bisa ditekan seminimal mungkin? Semuanya terpulang pada sang ibu sendiri serta dukungan dari keluarga besar: suami, kakek-nenek, dan lainnya.
Figur ibu seringkali diumpamakan ibarat dewi Durga yang punya sepuluh tangan agar bisa melakukan banyak tugas sekaligus. Begitulah ibu. Nah, bekerja di luar rumah bukanlah suatu pantangan tapi melainkan suatu tantangan bagi ibu. Berikut sedikit tip yang dapat bermanfaat bagi ibu bekerja :

  1. Sadari dan terimalah peran ganda berikut tugas-tugas yang menyertai, baik sebagai ibu maupun sebagai pekerja. Penerimaan ini penting bagi kelancaran keseharian selanjutnya.
  2. Jika di kantor, ibu bekerja terbiasa denga jadwal pertemuan, deadline, dan sebagainya, maka buatlah pula jadwal untuk aktivitas di rumah. Dengan demikian waktu bersama anak menjadi agenda yang sudah terjadwal, bukan lagi diambil dari waktu yang tersisa.
  3. Ketika pulang ke rumah, sebelum masuk ke dalam rumah, ibaratkan ada tombol pembalik peran dari peran wanita pekerja menjadi peran ibu. Begitu masuk rumah, tinggalkan semua tugas kantor dan keruwetannya. Sadari bahwa anak-anak butuh ibunya.
  4. Meskipun tidak di rumah, usahakan anak tetap merasakan kehadiran ibunya, misalnya meninggalkan note kecil di kulkas, telpon di jeda makan siang, dan lainnya.
  5. Segala peraturan di rumah meski ibu tidak di rumah, haruslah melibatkan intervensi dari ibu. Anak-anak perlu tahu tentang hal ini supaya mereka lihat ibu tetap punya andil dalam aturan rumah.

Referensi :

  1. www.associatedcontent.com
  2. www. workingmothers.suite101.com/
  3. Elizabeth B. Hurlock, Developmental Psychology, 5th ed., McGraw-Hill Publishing Company.
  4. Elizabeth B. Hurlock, Child Development, 6th ed., McGraw-Hill International Editions.

 

Share.

No Comments

  1. Stanley I. Greenspan :”Early childhood is both the most critical and the most vulnerable time in any child’s development. Our research, and that of others, demonstrates that in the first few years, the ingredients of intellectual, emotional, and moral growth are laid down. If they are not, it is true that a
    developing child can still acquire them, but the price rises and the chances of success decrease with each subsequent year. We cannot fail children in these early years.”

Leave A Reply

Exit mobile version