Disiplin memang sebaiknya diajarkan sejak dini, namun ingat bahwa penerapannya tak harus disertai dengan adanya hukuman.

Pernah lihat anak balita membuang sampah di tempat sampah atau anak sekolah dasar yang mengerjakan pekerjaan rumah (PR) tanpa disuruh? Ini adalah bentuk sikap disiplin sederhana yang mungkin langka Anda temukan. Bagaimana mendidik anak agar memahami makna disiplin?
Anak-anak membutuhkan asah, asih, dan asuh dalam bertumbuh kembang. Orangtua pasti akan memberikan kasih sayang, perhatian dan cinta kasih kepada buah hatinya. Namun jangan lupa dalam keseharian, orang tua juga perlu menanamkan arti disiplin kepada anak. Disiplin dan kasih sayang terkadang bak dua hal yang bertolak belakang, padahal semestinya keduanya bisa seiring sejalan.
Dengan mengajari makna disiplin berarti orangtua memaknai disiplin sebagai cara belajar agar anak  berperilaku sesuai. Tujuan jangka panjangnya mengajarkan anak cara mendisiplikan dirinya sendiri. Anak diharapkan mampu memiliki kontrol diri, bukan hanya sekadar patuh kepada orang/institusi yang lebih besar atau kuat dari dirinya.
Mengontrol perilaku
Disiplin akan mengajarkan anak untuk mengontrol perilakunya. Diharapkan anak akan berperilaku sesuai dengan pemahaman atas yang benar dan salah, bukan karena takut mendapat hukuman. Sebagai contoh, anak akan meminta ijin saat meminjam alat tulis teman karena mereka percaya bahwa itu harus dilakukan untuk menjaga kejujuran.
Diharapkan orangtua tidak memberikan sanksi berupa hukuman ketika anak melanggar disiplin. Hukuman fisik (corporal punishment) secara signifikan justru gagal membentuk disiplin diri. Sebaliknya, jangan juga menghujani anak dengan hadiah (reward) karena ia berlaku disiplin. Pemberian hadiah akan melahirkan disiplin yang semu, karena anak berharap hadiah. Selain itu, hadiah akan semakin bertambah nilainya.
Tinggalkan konsep menghukum anak
Hukuman sudah tidak layak lagi digunakan, lebih baik anak diperkenalkan dengan konsekuensi atas perilakunya. Melalui sistem ini, anak akan belajar dari pengalamannya sendiri. Misalnya ketika anak memilih bermain game dan mengabaikan makan malam. Anda dapat memberikan pilihan: Berhenti bermain game dan makan malam bersama atau menahan lapar sampai sarapan tiba. Ketika anak memilih yang kedua, ia kelaparan di malam hari. Dengan konsekuensi seperti ini, diharapkan anak tidak mengulangi perilakunya.
Prinsip dasar penerapan konsekuensi
Jelaskan kepada anak tentang perilaku dan konsekuensinya bila dilanggar, sampaikan dengan tegas dan ramah.

  • Orangtua berkewajiban menjelaskan alasan obyektif dan masuk akal dari konsekuensi yang akan terjadi.
  • Orangtua berkewajiban menyampaikan beberapa pilihan dan konsekuensi sesuai dengan kemampuan orangtua dan kondisi.
  • Anak berhak menyampaikan pilihannya berdasarkan kemampuan berpikirnya.
  • Orangtua berkewajiban menerima pilihan anak meski tidak sesuai dengan harapan.
  • Anak dan orangtua diharapkan konsisten menjalani konsekuensi yang ada.
Share.

Comments are closed.

Exit mobile version