Hati-hati Bila Anak Sering Ngorok

[pullquote]Ngorok bukan berarti pertanda tidur nyenyak, justru sebaliknya, ada sesuatu yang harus diwaspadai.[/pullquote]
[dropcap]D[/dropcap]alam dunia medis mendengkur atau ngorok disebut dengan obstructive sleep apneu syndrom (OSAS), yakni gangguan pada saluran pernapasan berupa kesulitan bernapas. Ini lebih sering terjadi pada orang dewasa dibanding anak-anak, namun bukan berarti anak-anak terbebas dari OSAS. Kebiasaan mendengkur dapat terjadi pada 7-9% anak pra sekolah dan usia sekolah. Kejadian tersering pada usia 3-6 tahun, karena di usia ini sering terjadi pembesaran amandel. Konon, faktor keturunan punya andil dalam menyebabkan OSAS.
Gejala dan pertanda OSAS
Anak mengalami sulit bernapas saat tidur yang biasanya ditandai dengan mendengkur sebagai gejala awal. Anak mendengkur bisa terjadi terus menerus setiap tidur atau hanya pada posisi tertentu. Umumnya anak mendengkur tiap tidur dengan dengkuran keras disertai napas terhenti sejenak (apneu), yang diakhiri gerakan badan atau terbangun.
Ada pula yang tidak mendengkur, tetapi memperlihatkan dengusan atau hembusan bunyi (noisy breathing). Anak berusaha bernapas, terlihat dari gerakan dinding dada. Gejala lain, biasanya anak bernapas lewat mulut.
Bahaya di balik mengorok
Anak sering mengalami gangguan pernapasan. Menghirup cairan dari saluran napas atas menganggu saluran napas bawah dan rentan terjadi infeksi pernapasan. Sedangkan pada anak dengan tonsil besar, akan mengalami kesulitan menelan atau sering merasa tercekik, serta rentan mengalami radang paru-paru.
Berkurangnya oksigen ke otak secara kronis, tidur tidak nyenyak, dan darah yang menjadi asam akibat OSAS menimbulkan efek buruk pada tubuh. Selain itu anak menjadi sering mengantuk secara berlebihan. Perkembangan anak menjadi terlambat, konsentrasi di sekolah kurang baik. Anak menjadi hiperaktif dan agresif, serta menarik diri dari lingkungan sosial.
Efek buruk yang lain, anak gagal tumbuh disebabkan tidak mau makan, sulit menelan karena pembesaran amandel yang letaknya di belakang rongga hidung dan tonsil (amandel di belakang rongga mulut) dan otak kekurangan oksigen.
Kenali faktor risiko
Pembesaran amandel menjadi penyebab terbanyak di balik anak yang mengorok. Ada anak yang amandelnya amat besar tapi derajat OSAS-nya masih ringan. Sebagian besar sembuh bila amandel diangkat, sebagian kecil tidak.
Kelainan tulang wajah seperti rahang yang kecil (midface hypoplasia) juga dapat menyebabkan saluran napas menyempit dan menimbulkan OSAS.
Kegemukan menjadi penyebab utama OSAS pada orang dewasa tetapi tidak pada anak-anak
Perlu pemeriksaan lebih lanjut
Anak OSAS agak sulit didiagnosis, tidak cukup hanya berdasarkan keluhan mendengkur atau sering terbangun pada malam hari. Perlu pemeriksaan lebih lanjut seperti polisomnografi yang merupakan pilihan utama pemeriksaan.
Anak dicurigai OSAS dengan menghitung skor, yang dinilai dari seringnya anak kesulitan bernapas dan seringnya mendengkur. Makin tinggi skornya, makin besar kemungkinan OSAS. Selain itu perlu dilakukan observasi melalui video atau penilaian kadar oksigen darah saat anak tidur. Pemeriksaan laboratorium diperlukan untuk menilai adanya kekurangan oksigen.
Referensi :

  1. Schechter MS, Technical report.. Diagnosis and management of childhood obstructive sleep apneu syndrome. Pediatrics 2002. 109:1-20
  2. Deegan PC, McNichbolas WT. Pathophysiology of obstructive sleep apnoea. Dalam: McNicholas WT. Penyunting Respiratory disorders during sleep. UK, Ers J Ltd: 1998.h63-74
  3. Levy P, BettegaG, Pepin JL. Surgical management options for snoring and sleep apnoe. Dalam: McNicholas WT, penyunting. Respiratory disorders during sleep. UK, Ers J Ltd: 1998. h205-6

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *