[quote type=”center”]Ibu menyusui sebaiknya menghindari stres, pasalnya stres bisa memengaruhi kelancaran pemberian ASI. Wah kok bisa?[/quote]
 
[dropcap style=”font-size: 60px; color: #83D358;”]A[/dropcap]SI adalah makanan yang paling sempurna untuk bayi kita; dan untuk keberhasilan proses laktasi, bukan hanya posisi bayi yang tepat, pelekatan yang benar, tetapi juga dari pihak ibu sendiri tidak kalah penting peranannya. ASI diproduksi sebagai hasil kerja gabungan antara hormon yang terdapat dalam tubuh ibu dan refleks yang dirangsang oleh hormon tersebut.
Mekanisme keluarnya ASI
Pada payudara, terutama pada puting susu terdapat banyak ujung saraf sensoris. Perangsangan pada payudara akibat hisapan bayi saat menyusu akan menimbulkan impuls yang menuju hipotalamus, salah satu organ dalam otak kita. Impuls dari hipotalamus selanjutnya akan diteruskan ke hipofisis bagian depan yang mengeluarkan hormon prolaktin dan ke hipofisis bagian belakang yang berfungsi mengeluarkan hormon oksitosin. Hormon prolaktin dialirkan oleh darah ke kelenjar payudara, maka terjadilah refleks pembentukan ASI.
Pengosongan payudara merupakan perangsangan diproduksinya ASI kembali. Jadi bila bayi lebih sering menghisap atau ASI lebih sering dikeluarkan, maka ASI akan diproduksi lebih banyak; sebaliknya bila bayi berhenti menghisap atau payudara tidak sering dikosongkan, maka payudara akan berhenti memproduksi ASI.
Hormon oksitosin berperan pada refleks pengeluaran ASI (let down refleks) yang akan mengerutkan sel-sel otot disekitar kelenjar payudara sehingga ASI terperas keluar. Walaupun produksi ASI cukup banyak, apabila refleks ini tidak bekerja maka bayi tidak akan mendapatkan ASI yang memadai.
Mood dan ASI
Refleks pengeluaran ASI lebih rumit dibandingkan refleks pembentukan ASI. Pikiran maupun perasaan ibu akan sangat memengaruhi refleks ini. Dengan melihat bayinya, memikirkan bayi dengan perasaan penuh kasih dan sayang, mendengar tangisan bayi, mencium bayi dan perasaan ibu yang tenang dan bahagia; semuai ini dapat meningkatkan refleks pengeluaran ASI. Sebaliknya stres merupakan hal yang  dapat menghambat refleks oksitosin.
Seorang ibu yang sedang menyusui mengalami stres, akan menbuat bayinya merasa tidak nyaman dengan suasana hati ibu. Seringkali bayi menolak menyusu sehingga perangsangan payudara tidak terjadi, dan produksi berhenti. Bila bayi dapat mentolerir suasana hati ibu, adanya stres mengakibatkan refleks oksitosin terhambat sehingga ASI yang  diproduksi tidak bisa keluar dengan cukup, yang lama kelamaan akan terhenti produksinya. Hindari stres antara lain dengan menikmati kebersamaan dengan  bayi Anda dan mencoba untuk menerima perubahan-perubahan ritme hidup anda saat ini sebagai seorang ibu.
Referensi :

  1. Lawrence RA, Lawrence RM. Breasfeeding. A guide for the medical profession. Edisi ke-6. Philadelphia; Mosby,2005
  2. Newman J, Pitman T. The ultimate breasfeeding book of answer. Roosville: Prima,2000

 

Share.

No Comments

Leave A Reply

Exit mobile version