[pullquote]“Ayo Nak sudah jam sepuluh malam, cepat tidur, besok sekolah…!” Si kecil masih saja asyik dengan gamenya dan tidak bergeming sama sekali. Duh, sulitnya menegakkan disiplin…[/pullquote]
Disiplin pada hakikatnya merupakan pembentukan ketekunan, nilai hidup dan pada akhirnya sikap bangsa. Beberapa contoh bangsa yang memiliki disiplin tinggi seperti Jepang, Singapura dan beberapa lainnya memiliki “nilai”tinggi di mata dunia.
Banyak sekali contoh ketidaksiplinan sehari-hari yang dilakukan baik oleh anak maupun orang dewasa. Contoh di atas, akan bertambah banyak bila dan tidak cukup satu hari untuk mengumpulkan ketidakdisiplinan yang ada di sekitar kita.
“Disiplin” adalah suatu kondisi/sikap seseorang yang sangat ideal, betapa indahnya apabila setiap pagi ketika kita bangun sudah ada segelas susu hangat, roti bakar dan jus buah. Namun itu semua tidak akan ada tanpa aturan yang berlaku. “Aturan”, kata inilah yang menjadi kunci pembentukan sikap disiplin seseorang.
Kapan saat tepat mengajarkan disiplin?
Pengenalan disiplin sudah bisa dilaksanakan semenjak anak lahir bahkan ketika masih dalam kandungan. Seorang ibu yang sedang mengandung akan tertib dalam mengatur pola makan, istirahat dan emosinya agar anak yang akan dilahirkan kelak menjadi anak yang ‘cool’ dan tidak bermasalah.
Begitu lahir biasanya bayi akan disusui setiap 3 jam sekali. Semakin besar anak ia akan dilatih untuk melakukan buang air (toilet training) di tempat khusus dan dengan cara yang khusus pula. Masuk di usia balita, ia juga telah mengenal banyak pola disiplin, misalnya menjaga kebersihan diri sendiri sampai bagaimanan harus bersikap ketika berada di lingkungan luar keluarga.
Kohlberg menceritakan bahwa pembentukan disiplin berlangsung dengan diawali dari rasa takut terhadap hukuman, berusaha mengembangkan sikap yang diterima lingkungan sampai akhirnya dapat memiliki nilai-nilai pada diri sendiri.
Apa yang harus dilakukan?
Sebagai orangtua, pendidik maupun pengasuh si buah hati hendaklah memiliki kesabaran ekstra dan rasa kasih sayang dalam mengajarkan disiplin. Sesuaikanlah dengan usia dan kemampuan yang dimiliki.
I. Usia balita
Kenalkan disiplin sehari-hari pada anak. Seorang anak belajar memahami kejadian di lingkungan dengan menjadi pengamat dan peniru. Dia banyak melakukan eksplorasi lingkungan dan reaksi yang diterimanya dari hasil perbuatannya serta pembentukan kebiasaan oleh orangtua.
Misalnya :
saat bayi, anak memiliki ‘jam’ minum susu, makan sehingga tubuh seolah memiliki jam biologis untuk lapar pengaturan jam tidur, yang akan mempengaruhi kesehatan anak, mengajarkan kebersihan ketika buang air (toilet training).  Semua itu akan mendidik anak untuk memiliki kontrol diri untuk kebersihan dirinya
II. Menginjak usia lebih besar (2 tahun ke atas)
Di usia ini, anak akan lebih banyak bereksplorasi. Kenalkan mereka akan bahaya di sekitarnya. Seperti listrik, air yang tergenang agar tidak terpeleset, kaca, pisau yang tajam. Hal ini tentunya dilakukan dengan bahasa yang dimengerti oleh mereka. Orangtua sebaiknya memiliki pola hidup yang teratur, misalnya bangun pagi lalu beribadah, mandi pagi, merapikan rumah, makan makanan sehat, dan berkomunikasi dengan bahasa yang baik. Dengan mengamati keteraturan yang ada setiap hari, seorang anak pada usia ini akan lebih mudah memiliki disiplin diri.
III. Usia sekolah – remaja (7-14 tahun)
Anak sudah mulai dapat membedakan nilai-nilai kehidupan dan sudah mulai dapat bertanggungjawab terhadap perilakunya. Tingkatkan disiplin, misalnya tanggung jawab terhadap kebersihan diri, pola belajar hingga membantu orangtua. Penghargaan dan ‘hukuman’ (reward dan punishment) cukup efektif untuk pembentukan disiplin. Misalnya, bila anak merawat mainannya, barulah dibelikan lagi mainan baru (reward) namun bila sebaliknya, mungkin orangtua bisa meminta anak lebih tanggung jawab dengan menyuruhnya membersihkan mainannya atau mengurangi waktu bermainnya (punishment).
TIPS Untuk membantu pembentukan disiplin anak, banyak hal yang dapat dilakukan, antara lain :

  1. Kenalkan semenjak dini keteraturan dan disiplin keluarga pada anak.
  2. Buatlah suasana menyenangkan ketika mengajarkan disiplin pada anak, sehingga anak memiliki kesan yang indah ketika melakukan tugasnya.
  3. Aturan yang diberlakukan hendaknya disesuaikan dengan usia anak. Sebaiknya orangtua tidak menuntut anak diluar batas usianya.
  4. Berikan penghargaan (reward) dan hukuman (punishment) yang tepat. Jangan ragu untuk memberikan pujian ketika anak melakukan kebaikan. Hargai setiap keberhasilan yang ditunjukkan.
  5. Segeralah memberikan tindakan ketika anak melakukan kesalahan, sehingga anak dapat memahami pada saat itu juga. Misalnya ketika ia melakukan kesalahan yang membahayakan dirinya atau oranglain.
  6. Janganlah melakukan hukuman fisik ketika anak melanggar aturan. Kebiasaan melakukan hukuman fisik membuat anak kebal terhadap ‘peringatan’ dari orangtua.
  7. Terakhir namun merupakan yang terpenting, berilah contoh yang baik kepada anak. Jagalah konsistensi antara orangtua dan pengasuh atau lingkungan sekitarnya, misalnya anak harus tidur siang, tetapi ternyata pengasuh atau nenek kakek malah mengajaknya bermain. Tidak sulit melakukan hal di atas, yang dibutuhkan adalah kesabaran dan kasih sayang. Semoga kita sukses menjadi orangtua yang berhasil menanamkan disiplin pada anak-anak kita.

Referensi:

  1. Hurlock, Elizabeth B. Perkembangan Anak,1978. edisi ke-6. Penerbit : Erlangga. Jakarta
  2. Papalia. Diane E. 1998. Human Development. Mc Graw Hill. USA
  3. Schaefer, Charles E. and Howard Milman. How To Help Children With Common Problems. 1981. VNR Company.
  4. USA Vasta, Ross etc. Child Psychology 4th Edition. John Willey and Sons. USA
  5. Artikel-artikel terkait dari internet.
Share.

Leave A Reply

Exit mobile version