[quote type=”center”]Duh, si kecil sering menggigit kukunya sampai-sampai bentuk kukunya aneh. Ada apa ya ?[/quote]
[dropcap style=”font-size: 60px; color: #83D358;”]K[/dropcap]ebiasaan kuku adalah kebiasaan yang paling sering muncul di usia kanak-kanak bahkan akan terus berlanjut mereka beranjak dewasa. Umumnya kebiasaan ini muncul pada usia 4-6 tahun.
Apa penyebabnya ?

  1. Faktor genetika. Dalam beberapa penelitian ditemukan fakta bahwa peran genetika cukup berpengaruh pada munculnya intensitas kebiasaan menggit kuku. Salah satu atau kedua orangtua memiliki kebiasaan menggigit kuku, maka kemungkinan anak akan memiliki kebiasaan yang sama saat dewasa.
  2. Faktor imitasi. Semakin sering anak melihat lingkungannya melakukan kebiasaan tersebut, kemungkinan munculnya perilaku yang sama juga semakin besar.
  3. Anak dalam keadaan stress. dimana membutuhkan pengalihan untuk meluapkan rasa tertekannya. Dengan menggigit kuku, anak mendapatkan kesempatan untuk melepaskan ketegangannya. Kondisi yang membuat anak stress antara lain perceraian orangtua, anak yang kurang percaya diri, bullying dan sebagainya.
  4. Kebiasaan yang diawali karena sekedar “iseng,” kemudian secara tidak disadari anak menemukan rasa nyaman dengan menggigit kuku. Akibatnya saat anak dalam keadaan yang sedang bosa atau tidak memiliki aktivitas yang berarti maka kebiasaan ini akan muncul.

Normalkah ?
Secara psikologis kebiasaan tersebut masih dapat dikatakan normal jika tidak menghambat fungsi kehidupannya sehari-hari. Anak masih dapat melakukan aktivitasnya dan tetap produktif. Misalnya saat anak terlihat menggigit kuku ketika menonton TV atau saat ia kaget dengan situasi baru.
Tetapi  jika kebiasaan menggigit kuku sampai melukai dirinya sendiri, misalnya berdarah di bagian ujung-ujung kuku maka hal itu dapat dikategorikan sebagai suatu yang abnormal.

Please do this…

  1. Berikan pengertian kepada anak mengenai dampak buruk dari menggigit kuku, misalnya akan menyebabkan luka pada jari-jemarinya.
  2. Memberi batasa akan lebih baik dibandingkan dengan memberikan hukuman. Misalnya dengan mengingatkan “tidak menggigit kuku di meja makan.” Dengan ini akan memahami bahwa menggigit kuku tidak boleh dilakukan.
  3. Membantu anak untuk menyadari bahwa kebiasaannya adalah sesuatu yang kurang baik. Alihkan kebiasaan tersebut dengan kegiatan lain seperti berolahraga, bermain lego, menggambar bersama dan sebagainya.
  4. Mengidentifikasi kecemasannya. Cobalah untuk menggali keresahan anak. Misalnya saja karena anak merasa kurang percaya diri maka orangtua dapat memberikan dorongan atau motivasi secara konsisten untuk membangun kepercayaan dirinya.
Share.

Leave A Reply

Exit mobile version