Dear Dr. Tjhin,
Dok, anak tunggal saya lelaki usia 11 tahun, setahun belakangan ini menjadi pribadi yang “sulit.” Setahun lalu ayahnya meninggal karena sakit jantung. Kepergian ini begitu mendadak, tanpa sempat menjalani perawatan yang lama.
Semasa hidup, almarhum suami amat sangat memanjakan anak. Hubungan mereka begitu dekatnya dan sangat kompak. Beberapa kali saya sempat mengingatkan soal ini, namun almarhum selalu menjawab: “Masa memanjakan anak sendiri tidak boleh.” Saat ayahnya pergi, putra saya ini hanya terdiam, tidak menangis namun matanya terus memandang jasad ayahnya.
Kini, ia begitu susah diatur, dan tidak mau bicara terbuka dengan saya. Dia hanya mau bicara banyak dengan pamannya (kakak lelaki saya). Dokter, saya amat kuatir dengan kesehatan putra saya, mohon saran langkah apa yang harus saya lakukan?
Binaswati – Jakarta Selatan
====================================================================================
Dear Ibu Binaswati, ijinkan saya mengucapkan turut berduka cita atas kembalinya suami tercinta satu tahun yang lalu.
Kematian orang terdekat seringkali menimbulkan guncangan mental, apalagi jika orang tersebut sangat bermakna dalam kehidupan kita. Dalam kasus anak Ibu, tampaknya kondisi kehilangan ayah, yang merupakan tokoh yang sangat dekat dengan dirinya membuat anak menjadi kehilangan pegangan seperti layang-layang yang terputus saat dinaikan dan terbang melayang sebelum akhirnya tersangkut sehingga koyak.
Putra ibu menjadi bingung dan kehilangan arah, ia seperti tidak percaya namun fakta berbicara lain. Hal ini tercermin dari sikap anak Ibu yang mengalami dukacita yang terlambat, yaitu ia tidak menangisi jasad ayahnya walaupun merasa sedih akibat kehilangan tersebut, melainkan menjadi diam membatu seperti es yang membeku. Duka cita yang terlambat inilah yang menimbulkan masalah mental yang harus ditangani secara serius, oleh karena kondisi tersebut membuat perubahan perilaku dan reaksi emosi anak cenderung menjadi labil. Ia cenderung menentang dan selalu mencari figur ayah melalui pamannya.
Perasaan ini perlu dikelola dengan baik karena dalam persepsi saya, anak Ibu mengalami suatu gangguan depresi yang bersifat kronik dengan latar belakang duka cita yang tidak terselesaikan. Ia perlu berkompromi dengan dirinya sendiri bahwa ayah yang sangat disayangi dan dicintai tersebut telah tiada, dan menyadari bahwa ia perlu melanjutkan hidupnya dengan kondisinya saat ini serta bersikap lebih rasional. Untuk itu saya sarankan agar ibu membawa putra ibu berkonsultasi untuk menyelesaikan konflik tersebut agar tumbuh kembang di masa remaja ini dapat berlangsung lebih optimal.

Share.

Leave A Reply

Exit mobile version