[pullquote]Ketika sepasang suami isteri tak lagi sejalan. Haruskah bertahan atau memilih berpisah? Bagaimana menyingkapi situasi tersebut agar tak berpengaruh pada anak?[/pullquote]
Widi dan Bram telah menjalani biduk rumah tangga dalam rentang waktu tujuh tahun dan dikarunia seorang anak berusia lima tahun. Namun Widi merasa tak lagi seiring sejalan dengan suaminya. Perbedaan terus bermunculan dan ia mulai bertanya-tanya tentang upaya yang harus ia lakukan bersama suaminya untuk menyatukan perbedaan tersebut.
Mengapa tak sejalan lagi?
[dropcap]M[/dropcap]anusia bukanlah benda mati yang statis, manusia bersifat dinamis sehingga kemungkinan mengalami perubahan dari waktu ke waktu itu selalu ada. Selain itu masing-masing pasangan memiliki minat, bakat dan hobi yang berbeda. Bisa saja sepasang suami istri dulunya memiliki minat sama namun seiring berjalannya waktu salah satu berubah minat dan satunya tetap bertahan. Permasalahannya, apakah satu sama lain bisa memahami dan mengkompromikan perubahan tersebut?
Kompromi terhadap perubahan pasangan
Ketika pasangan kita berubah, pandanglah ini sebagai suatu proses, sepanjang perubahan itu tidak menyangkut hal yang prinsip. Jika merasa terganggu, bicarakan dengan pasangan. Selama kita dapat mengikuti perubahan-perubahan tersebut maka tidak pernah terjadi permasalahan. Tetapi akan beda cerita kalau salah satu tidak bisa menerima perubahan tersebut.
Faktor yang mempengaruhi manusia berubah sangat banyak. Manusia memiliki kepribadian, yang bergantung dengan lingkungan tempat dia berinteraksi selama ini. Ada lingkungan rumah, lingkungan pekerjaan, dan sebagainya. Adanya berbagai stimulus dari luar akan memengaruhi seseorang. Itu sebabnya, pasangan suami istri perlu memahami kondisi lingkungan pasangannya. Misalnya, “Suami saya memiliki minat yang besar di dunia traveling, maka tidak heran bila suatu hari ia memutuskan travelling ke tempat yang sangat jauh.” Begitu pula sebaliknya ketika istri berkeinginan melanjutkan studi, maka kalau suaminya dari awal sudah memahami  istrinya tipikal orang yang suka belajar. Maka ia akan memahami dan menerima hal tersebut.
Pada dasarnya melalui proses pengenalan kita bisa melihat calon pasangan hidup kita berdasarkan kebiasaannya, prinsip hidup maupun nilai-nilai yang penting dari diri seseorang. Ketika kita memutuskan menikah dengan seseorang, itu karena kita merasa yakin dapat menyesuaikan dengan pribadi dan kebiasannya.
Tak sejalan, haruskah berpisah?
tidak-sejalan-fullframe
Perlu pemikiran dan usaha yang panjang untuk sampai pada suatu keputusan besar. Kita harus mempertimbangkan batas-batas yang kita bisa tolerir. Hal yang bisa dilakukan melihat sisi positif dan negatif. Bukan hanya memilih berpisah demi kepentingan masing-masing, tetapi juga untuk mempertimbangkan keluarga—dalam hal ini anak. Ingat, terkadang perpisahan justru akan menyisakan permasalahan baru. Kaji lebih dalam mengenai hubungan Anda berdua dan kompromikan secara bersama, tentang baik buruknya.
Agar tak mempengaruhi kejiwaan anak
Ketika tak lagi sejalan dan terlalu sukar berkompromi, saatnya mempersiapkan untuk mengajak bicara anak. Jelaskan pula bahwa meski ayah dan ibu tak serumah lagi, mereka tak akan kehilangan kasih sayang. Ingat, jangan sampai Anda berdua melukai perasaan anak yang berimbas pada kejiwaaan anak.
Siap tidaknya anak dengan perpisahan orangtua perlu menjadi pertimbangan karena terkadang justru orangtua sendiri yang tidak siap untuk memberitahukan hal tersebut  kepada anak. Orangtua berpikir bahwa  anak tidak bisa mengerti atau khawatir anak menganggap perpisahan sebagai suatu hal yang buruk. Padahal semakin diinformasikan, akan jauh lebih baik dibanding menutupi masalah atau membiarkan anak berada di tengah konflik kedua orangtuanya.
Orangtua berdua harus duduk bersama memberitahukan kondisinya. Mengajak bicara anak tentang masalah yang sedang dihadapi dan mengarahkan anak agar tidak berpihak. Dalam proses memahami makna perpisahan, usia anak juga memengaruhi. Maka hendaknya proses penyampaian juga mempertimbangkan aspek usia dan kematangan emosi serta mental anak.
Tetap menjaga hubungan baik

  1. Harus dipikirkan apakah perpisahan itu memberikan kebaikan untuk semua pihak termasuk anak.
  2. Meminimalkan masalah yang muncul akibat perpisahan.
  3. Tanamkan bahwa dalam setiap hubungan kemungkinan untuk berakhir selalu ada. Tidak perlu menyangkal bahwa segala sesuatu tidak selamanya harus bisa bersama kalau hubungan tidak membahagiakan.
  4. Sebelum memutuskan berpisah, tanamkan bahwa manusia bersifat dinamis dan berubah. Kita tidak bisa terus berharap bahwa hubungan suami istri akan selalu sama pada saat awal pernikahan, saat memiliki anak hingga perkawinan berjalan sekian tahun.

Banyak hal yang akan terjadi selama perjalanan pernikahan, dan kata kunci yang paling penting dari semua ini adalah komunikasi. Bila komunikasi suami istri berjalan dengan baik, semua hal, bahkan situasi atau perubahan yang paling ekstrim pun akan dapat dihadapi bersama.
Konsultan: Melia Christia, M.Si, M,Phil., Psikolog – Bidang studi Psikologi Klinis Fakultas Psikologi Universitas Indonesia

Share.

Leave A Reply

Exit mobile version