Ada masanya anak sulit makan, sehingga membuat orangtua khawatir anak akan mengalami kurang gizi. Masalahnya kadang bukan hanya menyoal anak kurang selera dengan makanannya. Nah.

Proses makan merupakan rangkaian proses kegiatan motorik, meliputi proses mengunyah dan menelan. Keduanya membutuhkan koordinasi otot-otot di mulut dan tenggorokan. Semua proses bergantung pada input sensorik yang diteruskan koordinasinya ke pusat menelan di otak.
Bicara tentang permasalahan makan pada anak, berkenaan dengan perkembangan keterampilan makannya. Pada waktu lahir, bayi dibekali dengan refleks untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya, antara lain refleks mengisap, rooting reflex, extrution reflex, dan refleks menelan. Keterampilan menyusu diawali dengan arah gerakan berupa gerakan lidah/mulut ke depan dan ke belakang, serta gerakan mandibula ke atas dan ke bawah. Setelah sekitar usia enam bulan, timbul keterampilan mengunyah yang membutuhkan gerakan lidah ke arah lateral dan memutar. Inilah saat bayi mulai memperoleh makanan padat pendamping air susu ibu (ASI).
Keterampilan makan pada bayi perlu dibina atau dilatih.

  • Berikan makanan secara bertahap, mulai dari ASI, lalu beralih ke makanan bertekstur lembut.
  • Secara bertahap, tambahkan konsistensinya, tekstur dan juga jumlahnya.
  • Usia enam sampai sembilan bulan merupakan periode kritis fase pemberian makan pada bayi.

Banyak orangtua merasakan bahwa memberi makan pada bayi dan balita tidaklah mudah. Berbagai perilaku makan balita seringkali menjadi hambatan, misalnya:

  • menolak makan,
  • melepeh atau memuntahkan,
  • mengemut makanan,
  • picky eater alias pilih-pilih makanan.

Ternyata proses makan pada anak tidak sesederhana yang kita pikirkan, karena di dalamnya terkait dengan kematangan saluran cerna, ada tidaknya gangguan dalam struktur organ yang berkenaan dengan proses makan, dan faktor psikologis. Jika ada kecurigaan adanya gangguan di atas, orangtua sebaiknya berkonsultasi dengan ahlinya.
Secara umum yang dapat dilakukan oleh orangtua adalah melakukan upaya nutrisi dengan:

  • Mengupayakan variasi menu yang beragam.
  • Penyajian yang menarik.
  • Menu bergizi seimbang, yang dalam porsi kecil pun mencakup kebutuhan gizi anak.
  • Berikan makan pada anak saat ia merasa lapar, biasakan anak makan dengan teratur.
  • Hindari memberi makanan ringan terlalu sering, terutama mendekati waktu makan.
  • Ciptakan suasana makan yang menyenangkan.
Share.

Comments are closed.

Exit mobile version