Mengatur keuangan keluarga berasama pasangan memang bukan perkara yang mudah. Bagaimana cara tepat mengatur keuangan keluarga agar tak menimbulkan perselisihan? Simak komentar para ahli.

Menurut sebuah survei yang dilakukan oleh SunTrust Bank, perselisihan mengenai uang adalah alasan yang paling sering muncul dalam sebuah perceraian. Sebaliknya, dalam sebuah penelitian terpisah yang dilakukan oleh Kansas State University, pasangan yang saling percaya mengenai masalah keuangan keluarga akan merasa lebih aman, lebih sedikit mengalami perselisihan dan memiliki hubungan seksual yang memuaskan.
Di mana letak permasalahannya?
“Kita merasa sudah sangat memahami pasangan kita sebelum menikah, namun sering kali topik mengenai uang jarang atau bahkan tak pernah diangkat. Inilah titik yang menjadi masalah utamanya,” ujar Paula Levy, seorang terapis pernikahan dan keluarga dari Westport, Connecticut, Amerika Serikat. Kekompakan finansial dimulai dengan adanya komunikasi yang baik sejak awal.
Di awal pernikahan Anda, jangan menunda-nunda untuk melakukan obrolan mengenai keuangan keluarga. Inilah saat yang tepat untuk menyampaikan semua yang Anda miliki, mulai dari penghasilan (jika Anda bekerja) hingga masalah utang piutang. “Setiap orang yang baru menikah perlu membuka mata lebar-lebar. Ketahuilah kondisi keuangan pasangan, jangan sampai menimbulkan perselisihan di kemudian hari,” ujar Damian Dunn, seorang perencana keuangan dari Auburn, Indiana, Amerika Serikat.
Memikul tanggung jawab bersama
Setelah komunikasi dengan pasangan dilakukan dan masing-masing menjalankan prinsip keterbukaan, mulailah untuk menerapkan konsep keuangan bersama yang sesuai untuk kedua belah pihak. Berikut tipnya:

  1. Membuka rekening keluarga. Setiap pasangan punya cara masing-masing untuk menerapkan konsep keuangan bersama. Namun yang paling banyak diadopsi adalah membuka rekening keluarga untuk pengeluaran rumah tangga. Masing-masing menyisihkan sejumlah uang yang sudah disetujui bersama ke dalam rekening tersebut, sedangkan pengeluaran pribadi seperti transportasi, konsumsi sehari-hari atau untuk hobi diambil dari rekening pribadi masing-masing. Jika salah satu pasangan memiliki penghasilan yang lebih kecil atau bahkan tidak memiliki penghasilan, pasangan dengan penghasilan yang lebih besar perlu memberikan ‘uang saku’ untuk keperluan pribadi pasangannya.
  1. Membuat catatan pengeluaran. Hal ini dilakukan bukan untuk ‘mematai-matai’ satu sama lain, namun untuk saling mengecek apakah pengeluaran sudah sesuai dengan pemasukan, atau butuh penyesuaian kembali.
  1. Tentukan prioritas bersama-sama. Sampaikan apa yang menjadi prioritas utama Anda maupun pasangan, mungkin Anda ingin segera membeli rumah sedangkan pasangan ingin membayar semua utang terlebih dahulu. Dalam hal ini, menggunakan jasa perencana keuangan dapat membantu.
  1. Diskusikan keuangan keluarga secara berkala. Jangan hanya mengangkat topik mengenai keuangan ini di awal pernikahan saja, namun jadikan topik yang dapat didiskusikan secara berkala. Terutama jika harus membayar pengeluaran yang cukup besar. Jika Anda sulit membicarakanya dengan suami, mintalah masukan dari penasihat keuangan.
  1. Menabung 10% dari pemasukan bersama. Menabung adalah hal yang dapat membantu Anda di saat-saat sulit. Cobalah untuk berkomitmen dengan menabung 10% dari pemasukan Anda dan pasangan setiap bulannya. Anggaplah tabungan ini sebagai persiapan masa pensiun Anda.
  1. Membayar utang. Buatlah rencana yang terperinci untuk membayar segala utang dan cicilan. Jangan membuat batasan mana utang suami dan mana utang istri karena tetap saja hal ini akan mempengaruhi keuangan keluarga. Jadi, buatlah rencana bersama-sama dan berkomitmenlah untuk menjalaninya.
  1. Hidup tanpa utang. Membeli barang dengan mencicil juga dapat membebani keuangan keluarga. Usahakan menabung terlebih dahulu sebelum membeli sesuatu. Jika memang sangat diperlukan, sebaiknya memiliki 1 kartu kredit saja dan dipergunakan hanya dalam kondisi darurat.
  1. Persiapkan diri untuk masa-masa sulit. Sebaik dan seaman apapun keuangan keluarga Anda saat ini, tetap masih ada kemungkinan terjadinya kejatuhan finansial. Misalnya jika salah satu dari pasangan mengalami PHK atau kebangkrutan bisnis. Dalam hal ini, berarti Anda harus membuat plan B, C atau bahkan D untuk mengatasinya tanpa harus jatuh ke lubang utang yang lebih dalam lagi.

Jadi, inti dari terbentuknya kekompakan finansial ini adalah komunikasi yang baik, kejujuran, serta kerelaan untuk berkomitmen demi keluarga. Bagaimana pun juga, Anda sekarang adalah satu kesatuan yang harus saling membantu satu sama lain.
Referensi:

  • http://time.com/money/4776640/money-tips-married-couples/
  • https://www.thespruce.com/financial-advice-for-married-couples-2302874
Share.

Comments are closed.

Exit mobile version