Kontrasepsi “Pas” untuk Pasangan Cerdas

[quote type=”center”]Memilih kontrasepsi bukan hanya masalah aman dan mampu membatasi kehamilan, tapi juga pas dan cocok untuk Anda dan pasangan.[/quote]
 
[dropcap style=”font-size: 60px; color: #83D358;”]A[/dropcap]da tip tertentu bagi Anda yang ingin memilih kontrasepsi, mulai dari mereka yang baru menikah hingga yang tak ingin memiliki anak lagi.
A. Pasangan muda atau baru menikah
Selamat sebelumnya bagi Anda yang baru menikah. Beberapa pasangan memilih untuk menunda kehamilan, tetapi kontrasepsi apa yang paling tepat? Bagi mereka yang belum berencana hamil, kontrasepsi hormonal kombinasi bisa menjadi alternatif, terutama bagi yang disiplin minum obat. Jenis kontrasepsi ini memiliki kemampuan kembali subur yang lebih cepat dibanding kontrasepsi lain. Anda bisa mudah menyetop penggunaan kemudian kembali subur begitu Anda menginginkannya.
B. Pil atau suntik?
Bagi yang tak ingin repot repot minum pil setiap hari, terdapat sediaan kontrasepsi hormonal kombinasi dalam bentuk suntik satu bulan sekali. Namun bagi yang sibuk pun hingga tak sempat minum obat, atau yang tak ingin terkena efek samping obat hormonal dapat mencoba sistem sawar alias kondom atau diafragma untuk mencegah kehamilan sementara. Dengan catatan, mereka dapat menggunakannya secara benar karena efektivitas sistem sawar menurun drastis bila si pemakai tak benar menggunakannya.
Alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) seperti Copper T juga bisa menjadi alternatif meski sebagian pasangan muda merasa tak yakin kesuburan akan kembali cepat atau tak nyaman dalam pemasangan. Padahal, selama tak ada infeksi, alat yang hanya memerlukan sekali pemasangan ini tidak memengaruhi cepat tidaknya kembali kesuburan. Pada prinsipnya, begitu alat diambil dari rahim Anda, kesuburan telah kembali.
Saat ini AKDR dapat menjadi alternatif kontrasepsi darurat, yaitu jika Anda terlanjur berhubungan intim dan merasa tak yakin apakah kehamilan dapat dicegah. AKDR dapat segera dipasang selama 72 jam setelah hubungan intim untuk mencegah kehamilan
Pilihan bagi si pengantin baru :

  1. Kontrasepsi hormonal kombinasi
  2. IUD
  3. Suntikan
  4. Sawar kondom ataupun diafragma

kiara-mia-harjoni
C. Pasangan yang ingin membatasi kehamilan
Bagi Anda yang telah memiliki putra/putri dan tak ingin buru-buru hamil lagi, menjaga jarak kehamilan mungkin menjadi tujuan utama Anda. Beberapa pasangan ingin menunda sampai si kecil cukup siap untuk punya adik lagi. Pada masa-masa seperti ini, ibu biasanya direpotkan dengan berbagai aktivitas mengasuh dan bekerja sehingga sedikit waktu disediakan untuk memikirkan perihal kontrasepsi. Minum pil setiap hari mungkin cukup merepotkan dan seringkali terlupa sehingga pil kombinasi atau minipil bukanlah pilihan yang cocok bagi sebagian ibu.
 
Bila memilih AKDR
Pada usia aktif ketika hubungan intim menjadi hal rutin dan kesuburan masih tinggi, AKDR bisa menjadi alternatif terbaik, terutama bagi ibu yang tak ingin repot minum pil atau ke dokter untuk suntik.
AKDR merupakan pilihan aman dan dapat diberikan pada mereka segera setelah persalinan, setelah keguguran, setiap saat setelah melahirkan, saat menyusui, bahkan pada usia muda yang tidak dapat menggunakan metode hormonal.  Keluhan yang paling sering muncul saat penggunaan AKDR adalah perdarahan dari kemaluan bisa berupa haid lebih lama atau flek-flek. AKDR yang dilapisi hormon levonorgestrel dapat menjadi pilihan untuk mereka yang mengalami efek samping ini.
AKDR hormonal ini selain dapat membatasi kehamilan dengan cara seperti AKDR biasa, juga mencegah pertumbuhan dinding endometrium, penebalan mukosa mulut rahim, dan pergerakan serta fungsi sperma. Yang terpenting, perdarahan yang sering jadi keluhan pada para pengguna AKDR berkurang hingga 75% dalam tiga bulan pertama setelah pemasangan.  Bahkan setelah satu tahun, 70-90% wanita yang menggunakan AKDR berhormon ini  akan mengurangi jumlah darah haid, dan 20-30% tidak haid sama sekali.
 
Bagaimana dengan Implant?
Alternatif lain adalah dengan metode implant atau suntik hormonal. Sesuai namanya, implant dipakai dengan memasukkan selongsong berisi hormon di bawah kulit, bisa bertahan tiga sampai lima tahun tergantung pilihan pengguna. Metode ini cukup nyaman karena Anda cukup memasang satu kali dan kembali kontrol tiga tahun kemudian. Umumnya waktu yang dipilih sesuai dengan keinginan Anda dalam membatasi kehamilan.  Karena metode ini termasuk metode hormonal, efek samping tersering adalah gangguan hormonal, paling sering pengguna tidak lagi haid karena tertekannya pertumbuhan endometrium di rahim.
 
Norplant adalah implant yang berisi enam selongsong dan bisa bertahan hingga tujuh tahun, namun saat ini implant yang beredar di pasaran internasional adalah Jadelle untuk pemakaian 5 tahun dan Implanon untuk tiga tahun.  Jadelle dan Implanon dibandingkan norplant lebih praktis karena hanya mengandung dua selongsong. Metode implant memiliki efektivitas tinggi, dengan angka kegagalan 0,1% sampai 0,2% terutama pada tahun pertama penggunaan.
 
D.  Pasangan usia lebih dari 40 tahun
Usia 40 tahun merupakan usia yang kurang subur dan lebih konsisten dalam pemakaian kontrasepsi, dengan berbagai keluhan menjelang menopause, serta hubungan intim yang lebih jarang. Hal-hal ini ikut dipertimbangkan dalam memilih kontrasepsi.
 
Hati-hati gagal
Berdasarkan tabel di atas, untuk usia di atas 40 tahun, metode alami seperti menghitung kalender atau senggama terputus paling sering mengalami kegagalan diikuti dengan metode sawar (diafragma) dan kondom. Sehingga, bila kontrasepsi jatuh pada pilihan diafragma, ibu juga harus dibekali dengan teknik kontrasepsi darurat. Sedangkan metode kondom lebih efektif dibandingkan diafragma namun masih kalah dengan kontrasepsi pil, kontrasepsi progestin, AKDR, ataupun sterilisasi. Namun,  kondom memiliki keuntungan yaitu dapat mencegah penularan infeksi menular seksual. Untuk risiko kegagalan terkecil, agaknya alat kontrasepsi dalam rahim memiliki risiko yang sama kecilnya dengan sterilisasi.
Pil kontrasepsi bisa diminum sampai mendekati menopause pada ibu yang tidak memiliki gangguan tekanan darah, gangguan pembekuan darah, dan tidak merokok. Untuk mereka yang tidak diperbolehkan menggunakan estrogen, misalnya karena ada risiko kanker payudara, dapat menggunakan jenis kontrasepsi lain, termasuk kontrasepsi progesteron.
Alat kontrasepsi dalam rahim memiliki efektivitas yang tinggi dan dapat digunakan secara jangka panjang. Karena kesuburan yang berkurang, penggunaan AKDR ini bisa berlanjut hingga satu sampai dua tahun setelah menopause tanpa perlu buru-buru melepasnya. Alat kontrasepsi dalam rahim dengan hormon progestin (IUS) memiliki keuntungan dapat mengurangi perdarahan haid. Keuntungan lain menggunakan AKDR adalah menurunnya risiko kanker endometrium hingga 46%.
Sterilisasi tentu saja masih menjadi pilihan utama bagi mereka yang memang tak ingin lagi memiliki anak dengan risiko kegagalan paling kecil dibanding metode lainnya. WHO menjamin tak ada kondisi kesehatan yang dapat menjadi halangan sterilisasi. Teknik sterilisasi ini dilakukan dengan cara mengikat tuba melalui operasi dan pembiusan.
Sterilisasi lewat mulut rahim
Pada tahun 2002, telah diresmikan suatu alat sterilisasi yang cukup dimasukkan lewat mulut rahim yang disebut Essure. Alat ini didisain khusus untuk dapat masuk rahim melalui vagina (tanpa operasi) dan “menyumbat” tuba dengan cara menstimulasi pertumbuhan jaringan sehingga sperma tidak dapat masuk. Karena cara kerjanya baru sempurna setelah tiga bulan, kontrasepsi cadangan perlu tetap terpasang untuk mencegah terjadinya kegagalan.
Tips pilih kontrasepsi untuk usia lebih dari 40 tahun :

  1. Kenali masing-masing kontrasepsi yang ada dan sesuaikan dengan kondisi kesehatan Anda. Bila Anda memiliki tekanan darah tinggi, gangguan pembekuan darah, atau risiko kanker payudara, pilihlah alat kontrasepsi non hormonal.
  2. Tanyakan untung rugi setiap metode kontrasepsi dan informasi mengenai metode yang terbaru, efektif, kemungkinan kembali subur atau pilihan sterilisasi.
  3. Tanyakan kapan sebaiknya Anda menghentikan kontrasepsi. Misalnya, kontrasepsi non hormonal seperti AKDR dapat dipertimbangkan dikeluarkan dari rahim dua tahun setelah haid berhenti pada mereka yang berusia di bawah 50 tahun, dan satu tahun pada usia di atas 50 tahun. Sedangkan kontrasepsi tetap perlu dipertimbangkan meskipun Anda telah menggunakan HRT (hormone replacement therapy) yaitu pil yang mengandung hormon estrogen untuk menggantikan estrogen tubuh yang mulai menurun pada usia menopause yaitu sampai Anda memasuki usia tak subur alami.

Referensi :

  • The ESHRE Capri Workshop Group. Female contraception over 40.   Hum. Reprod. Update (2009) 15 (6): 599-612. doi: 10.1093/humupd/dmp020

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *