Istilah Children Comforter mungkin masih awam bagi para orangtua. Tetapi jika Anda perhatikan sebenarnya sejak anak-anak masih di usia dini, Anda secara tidak sadar seringkali menemukannya pada anak Anda. Mereka mengembangkan kebiasaan yang unik pada diri masing-masing seperti menghisap jempol, menarik-narik rambut, membawa bantal kemanapun harus pergi atau memegang ujung kain sebelum tidur.
Comforter dapat diartikan sebagai aktivitas ataupun objek tertentu yang sangat lekat dengan diri anak misalnya boneka yang lembut, bantal, selimut, kain, kegiatan menghisap jempol dan lain-lain yang akan membuat anak merasa nyaman. Sebagai orangtua, menghadapi kebiasaan anak tersebut terkadang membuat orangtua merasa khawatir, terganggu bahkan merasa malu jika terjadi di depan umum. Jadi, simak artikel ini sehingga Anda akan lebih memahami perilaku  si buah hati.
Mengapa Si Kecil Butuh Comforters?

Pada anak usia balita, comforters memiliki arti khusus bagi mereka sebab dengan memeluk atau memegang benda kesayangannya mereka akan merasa aman dan nyaman. Apalagi di usia balita kemampuan sosalisasi mereka belum berkembang dengan sangat baik, sehingga comforters juga dapat mengalihkan perasaan kesepian pada anak terutama ketika orangtua ataupun figure yang dekat dengannya tidak berada di dekatnya.
Pada awalnya balita menanamkan kebiasaan sejak dini dari lingkungannya. Misalnya sejak bayi sebelum tidur ia terbiasa untuk memeluk bantal atau bonekanya. Kebiasaan tersebut secara perlahan membuat mereka merasa aman dan nyaman, Sehingga umumnya comforters lebih banyak dilakukan pada anak-anak ketika ia melakukan rutinitas tidur. Comforters dilakukan pula sebagai usaha anak untuk menghilangkan perasaan cemas, tertekan, kuatir ketika anak akan berpisah dari orangtua misalnya di sekolah ataupun tempat-tempat yang baru dimana kehadiran orangtua tidak diperlukan.
Selain itu, comforters juga merupakan salah satu cara bagi balita untuk mengungkapkan perasaan mereka. Hal ini dapat terjadi karena perkembangan bahasa yang terbatas sehingga ia dapat menggunakan sarana comforters untuk mengarahkan emosinya seperti memukuli bantal, bercanda dengan boneka atau bisa juga memarahi bonekanya.
Wajarkah Perkembangannya?

Memiliki comforters di usia balita merupakan hal yang umum dan wajar terjadi. Saat bayi berusia 6 bulan ia sudah merasa memiliki kelekatan dengan beberapa obyek kesayangannya seperti boneka atau bola. Kemudian comforters akan semakin menguat di usia sekitar 8 bulan terutama ketika waktu tidur. Selanjutnya akan berlangsung sampai diusia 1-3 tahun. Ketika anak memasuki pra sekolah beberapa anak masih memiliki ketergantungan pada comforters, tetapi ia tidak ingin teman-teman di sekolahnya tahu tentang aktivitasnya tersebut karena ia sudah mengembangkan perasaan malu terhadap orang lain.
Biasanya  comforters akan di sembunyikan di suatu tempat yang tidak diketahui temannya misalnya jika ia senang dengan selimutnya, umumnya ia akan minta guntingan ujung selimut untuk ia simpan dalam tas atau dalam kantong pakaiannya. Namun demikian, dengan semakin bertambahnya usia anak umumnya ketergantungan mereka pada comforters akan berkurang dan teralih pada kegiatan lain yang lebih menyenangkan dan membuat mereka nyaman.
Tetapi, jika sampai usia sekolah sekitar usia 6 tahun keatas ia masih memiliki ketergantungan yang kuat pada comforters sebaiknya orangtua perlu bertanya kepada anak mengenai kelekatannya pada obyek tertentu, mungkin ia mengalami masalah emosional lainnya yang perlu dicari pemecahannya misalnya pola asuh yang kurang konsisten ataupun pobia sekolah.
Memahami Beberapa Objek Comforters
1. Boneka, Selimut atau Bantal
Apabila balita Anda memiliki objek comforters berupa boneka, selimut atau bantal maka ada baiknya Anda memiliki beberapa model yang sama sehingga Anda dapat mencucinya ketika sudah kotor. Jika memiliki beberapa model yang sama, Anda juga tidak perlu kerepotan ketika salah satunya rusak ataupun hilang karena sudah memiliki penggantinya.
2. Botol
Beberapa anak memilih botol sebagai objek comfortersnya. Namun sebaiknya sejak dini ia dilatih untuk minum dari cangkir atau gelas diantara kegiatan minum susunya. Sebab kebiasaan minum susu atau jus dengan botol akan mengganggu perkembangan organ mulutnya.
3. Ibu Jari
Selain kedua benda diatas, beberapa anak tidak memiliki objek comforters yang biasa digunakan anak lainnya. Ia lebih nyaman menggunakan jari jemarinya sebagai objek comfortersnya. Ibu jari merupakan comforters yang cukup sulit untuk dialihkan karena secara fisik ada pada dirinya. Perlu usaha dan kesabaran untuk mengalihkan perhatiannya pada jari jemarinya, tetapi dengan bertambahnya usia dan kegiatan maka kegiatannya menghisap ibu jari akan berkurang.

Tips bagi Orangtua
Bagaimanapun juga comforters merupakan hal yang wajar terjadi pada anak-anak terutama bagi mereka yang mudah merasa cemas. Untuk itu beberapa hal perlu diperhatikan orangtua, antara lain :

  1. Sejak anak usia dini, bentuklah kedekatan emosional dengan anak Anda sehingga rasa aman dan nyaman akan terbentuk sekalipun orangtua tidak berada di dekatnya. Walaupun aktivitas orangtua sangat padat tetapi kualitas waktu bersama si buah hati perlu dijaga misalnya bangun tidur menyempatkan diri bermain atau sebelum tidur malam menyempatkan diri membacakan cerita.
  1. Hindari memberikan kritik atau memarahi anak karena selalu mencari-cari benda kesayangannya atau menghisap ibu jarinya, sebab hal ini akan memperkuat perilaku anak untuk mengulang kebiasannya. Semakin anak merasa cemas dan tertekan maka intensitas munculnya perilaku tersebut akan menguat.
  1. Jika anak terlihat sedang menikmati kegiatannya, maka pelan-pelan Anda dapat menyimpan benda kesayangannya untuk mengurangi ketergantungan anak pada objek comfortersnya. Jika nantinya ia mencari, berikan kembali kepadanya disertai pujian bahwa ia dapat bermain dengan gembira tanpa harus bergantung pada benda kesayangannya.
  1. Hindari memaksa anak melepaskan objek comfortersnya, sebaliknya pahami bahwa perilaku tersebut akan menghilang sendirinya sejalan dengan bertambahnya usia dan kegiatan anak umumnya usia 3-5 tahun.
  1. Meningkatkan frekuensi berkomunikasi dengan anak untuk memahami perasaan yang ia rasakan misalnya rasa marahnya, rasa kesal atau perasaan bahagia. Jika ia seringkali memukuli bonekanya, hal ini dapat menunjukkan bahwa anak memiliki perasaan marah terhadap sesuatu hal yang belum dapat ia komunikasi dengan bahasa yang baik dan benar. Caranya? Bertanyalah pada anak mengapa ia memukuli boneka kesayangannya? Tuntunlah anak agar ia memahami perasannya sendiri, misalnya “jadi adek marah ya sama mama? Maaf ya dek”
  1. Mengalihkan perhatiannya dengan melakukan kegiatan yang menyenangkan dan merangsang perkembanganya misalanya dengan bermain peran dokter-dokteran, bermain puzzle, bermain bersama teman di taman dan lain-lain.
  1. Mencari tahu penyebabnya jika di usia 5 atau 6 tahun masih lekat dengan comfortersnya. Perhatikan anak jika di usia tersebut ia masih lekat dengan objek comforters atau enggan bermain dengan teman-teman seusianya. Mungkin ada penyebab lainnya yang membuat ia selalu cemas dan tertekan, Jika perlu mintalah profesional untuk membantu anda memahami perkembangannya.

Referensi :

  1. raising children network. The Australian parenting website. http://www.raisingchildren.net.au
  2. Parenting and Child Health. Children, youth and women’s services health.  http://www.cyh.com/HealthTopics/HealthTopicDetails

 

Share.

No Comments

  1. dokter galuh nia khairani on

    Comforters dan teman hayal pada anak s.d usia 5 tahun adalah normal, imaginasi mereka sangat tinggi dan ini salah satu tanda anak yg kreatif. Bagi orang tua santai saja menghadapi ini karena pemaksaan ato rasa malu justru menambah mereka lebih lekat ke hal tsb. Salam. Dokter galuh nia khairani

Leave A Reply

Exit mobile version