[quote type=”center”]Agresif tak selamanya negatif. Bilamana orang tua waspada ?[/quote]
 
“Prakk!” Ini sudah mainan kesekian yang menjadi korban agresifitas Anya, usia 3 tahun. Setiap kali marah, dia pasti melempar mainannya dan seringkali sampai hancur.
[dropcap style=”font-size: 60px; color: #83D358;”]A[/dropcap]gresifitas merupakan hal yang tidak terhindarkan baik pada anak maupun orang dewasa. Perasaan-perasaan seperti marah atau frustrasi yang sering melatarbelakangi agresifitas merupakan perasaan manusiawi yang tak mungkin dihilangkan. Selama berimbang dengan perasaan positif seperti empati dan lainnya, agresifitas sebenarnya juga bermakna positif dalam kehidupan anak. Dengan adanya agresifitas, anak menjadi terpacu untuk berusaha mencapai keinginannya, memacu ambisi anak dan aktif melakukan aktivitas fisik yang berguna bagi pengembangan motoriknya. Namun demikian tetap perlu ada dalam batasan-batasan tertentu untuk agresifitasnya.
Di luar itu, menghadapi anak agresif tetap merupakan tantangan besar bagi orangtua. Ketika anak marah dan berperilaku agresif, emosi orangtua yang menghadapinya juga dalam kondisi rentang untuk ikut terpancing. Tapi percayalah, kemarahan orangtua sama sekali tidak membantu meredam agresifitas anak.
Justru agresifitas anak malah bertambah kuat karena adanya agresifitas orangtuanya sendiri. Tidak mengherankan jika ada seorang anak yang suka memukul teman-temannya di sekolah karena ternyata di rumah anak ini juga biasa dipukul ketika berbuat suatu kesalahan.

Banyak anak dengan tingkat agresifitas tinggi, terlihat sangat aktif, berani mencoba dan seolah tak takut bahaya. Mereka sangat menyukai aktifitas fisik seperti main gulat-gulatan/berantem-beranteman, naik perosotan dengan kepala di bawah, sering merusak barang meski tidak sengaja karena ingin memanipulasi barang tersebut. Anak-anak ini juga cenderung mudah frustrasi. Misalnya ketika tidak bisa memainkan mainan tertentu, dia akan memaksakan secara fisik agar mainan dapat mengikuti sesuai keinginannya sehingga seringkali mainan menjadi rusak karena dipaksa.
Ada juga anak yang sangat sensitif terhadap sensasi suara, cahaya, bau atau sensasi visual tertentu. Anak-anak ini mudah sekali menjadi agresif ketika ada sensasi yang berlebihan diterimanya, misalnya ketika berada di suasana ramai, anak berperilaku agresif seperti memukul, menggigit, atau lainnya.

Menghadapi anak yang cenderung agresif memerlukan pendekatan tersendiri dan tentu saja kesabaran ekstra dari orangtua. Berikut 6 poin yang perlu diingat dalam menghadapi anak yang cenderung agresif :

  1. Pahamilah bahwa apa yang dirasakan anak, baik marah maupun frustrasi merupakan hal yang wajar. Jadi jangan matikan emosinya tapi ajarkan dia bagaimana mengekspresikan emosi dengan tepat. “Bunda tahu kamu kesal karena mainanmu dimainkan adik…tapi bukan begitu caranya marah. Kasihan adikmu, tangannya sakit digigit.”
  2. Berikan dia contoh bagaimana menyelesaikan masalah dengan tenang, bagaimana mengatasi kemarahan sehingga tidak berujung perilaku agresif.
  3. Berikan pada anak pilihan aktivitas yang bisa ia lakukan untuk meredakan marahnya, misalnya mencoret-coret kertas/menggambar, memukul bantal atau berteriak di kamar mandi.
  4. Lakukan role play bersama anak untuk mengajarkan tentang pemecahan masalah tanpa melibatkan tindakan agresif. Buatlah simulasi situasi yang biasanya membuat dia kesal. Untuk anak yang lebih besar, orangtua dapat lebih banyak berdiskusi tentang tindakan apa yang tepat untuk dilakukan. Sedangkan untuk anak yang lebih kecil, orangtua bisa langsung mengajak anak memeragakan tindakan atau perkataan apa yang sebaiknya diucapkan ketika ada masalah yang memancing kemarahan.
  5. Tentukan batasan dan tindakan yang tegas ketika anak sudah bertindak di luar batas. Misalnya boleh marah asal tidak menyakiti diri sendiri, tidak menyakiti orang lain dan tidak merusak barang.
  6. Lakukan tindakan antisipatif, khususnya untuk anak-anak yang sensitif terhadap sensasi berlebihan. Misalnya bawa mainan anak sebagai teman anak jika ia pergi ke sebuah tempat di mana dia harus menunggu lama. Mainan membuat anak tidak rewel. Untuk anak yang lebih besar, orangtua dapat menyiapkan anak dengan cara membahas tentang tempat yang dituju, apa yang bisa dan tidak bisa ia lakukan di tempat tersebut.

Referensi:

  1. The Challenging Child, Stanley I. Greenspan, M.D., Perseus Books, 1995.
  2. The Discipline Book, William Sears, M.D. & Martha Sears, M.D., 1995.
Share.

Leave A Reply

Exit mobile version