Indahnya Indonesia terbentang dari barat sampai ke timur. Langkahkan kaki ke provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Eksotisme dan keindahan alamnya tak terbantahkan! Anda pasti jatuh cinta padanya.

Oleh: Aprilia Utami Setya Wijoyo
Foto: Dok. Pribadi
Itulah mengapa July 2013 saya bersama Ibu dan adik memutuskan untuk traveling ke NTT. Selain ingin menyusuri kecantikan alamnya, Saya juga menyimpan kenangan masa kanak-kanak di sana. Saat masih di bangku SD, saya mengikuti Ibu yang ditugaskan di Ende. Kini, saat dewasa, saya tertantang untuk menyusuri keindahan provinsi di bagian timur Indonesia ini.
Provinsi NTT terdiri dari kurang lebih 550 pulau. Tiga pulau utama di provinsi ini adalah Flores, Sumba dan Timor Barat.  Pulau-pulau lainnya adalah Alor, Lembata, Rote, Sabu, Adonara, Solor, Komodo dan Palue. Ibukotanya terletak di Kupang, Timor Barat. Di NTT obyek wisata antara lain obyek wisata alam, sejarah, budaya, belanja dan kuliner.
Pantai Lasiana, Kupang
Hari pertama di NTT kami mendarat di ibu kota provinsi, Kupang. Di Kupang, kami pergi ke panta Lasiana. Pantai indah ini memiliki topografi yang unik karena bagian baratnya yang berbukit sehingga kita dapat menyaksikan matahari terbit dan terbenam.
Pantainya berpasir putih halus, lautnya biru dan ombaknya tidak begitu ganas, hanya bergulung-gulung tenang. Lokasinya pun tidak begitu jauh dari pusat kota Kupang. Hanya memakan waktu 20 menit dengan menggunakan mobil.
Larantuka
Hari kedua, setelah menikmati sudut-sudut kota Kupang, kami melanjutkan perjalanan ke Larantuka, ibu kota Flores Timur dengan naik pesawat kecil. Larantuka menampilkan kecantikan tersendiri. Di depan kota Larantuka terdapat dua buah pulau kecil yakni Adonara dan Solor, yang hanya berjarak beberapa kilometer. Di tengah apitan dua pulau ini terbentang sebuah lautan kecil dengan selat-selat sempit bagaikan sebuah telaga.
Di Larantuka kami sempat melihat patung Yesus besar sekali di atas bukit di tengah laut, patung itu untuk upacara Paskah. Larantuka memang terkenal dengan ritual ibadah Hari Raya Paskah yaitu Semana Santa, perayaan Pekan Suci yang berpuncak pada prosesi Jumat Agung. Ini merupakan tradisi unik peninggalan Portugis yang masih tetap hidup di Larantuka.  Setiap tahun, menjelang dan perayaan Paskah, Larantuka dibanjiri peziarah dari berbagai kota tanah air.
Lamalera
“Baleo…Baleo…,” itulah teriakan para pemuda Lamalera bila ada ikan paus muncul di permukaan. Ya, desa Lamalera terkenal dengan upacara perburuan ikan paus jenis paus sperma (Physeter macrocephalus). Sayang saat kami di sana, perburuan sedang berhenti karena ikan paus muncul di permukaan di antara bulan-bulan penangkapan, yaitu Mei dan Oktober. Lautan Lamalera adalah lautan yg berhubungan langsung dengan samudera, sehingga banyak dilewati banyak jenis ikan yg bermigrasi.
Perburuan ini dipimpin oleh seorang Lamafa atau Balafaing, yang memimpin sekelompok Matros (pendayung). Mereka melaju ke tengah laut menggunakan Peledang, perahu khusus dibuat untuk menangkap paus. Lamafa itulah yang akan menghujamkan tempuling (bambu runcing yang tajam) ke jantung ikan paus sampai paus kehabisan darah. Kejadian ini cukup berbahaya bagi semua pemburu, karena paus yang kesakitan dapat menerjang, bergeliat kesakitan dan menghancurkan segala yang ada di dekatnya.
Para pemburu hanya berburu ikan paus sperma yang jantan. Hebatnya, para pemburu ini bisa tahu mana yang jantan karena hanya jantan yang pantas ditangkap. Itu pun yang diburu biasanya hanya satu ekor, sesuai jumlah kebutuhan penduduk Lamalera. Di desa Lamalera ini banyak sekali daging dan kulit ikan paus yg digantung atau dijemur di pekarangan rumah mereka. Ibu saya bahkan sempat dapat cincin terbuat dari gigi ikan paus.
Ende
Setelah dari Lamalera, kita kembali ke Larantuka menginap semalam di sana, esoknya kami pergi ke Ende lewat jalan darat. Di Ende kami bernostalgia di beberapa tempat yang pernah menjadi bagian masa kecil kami. Kami berkeliling ke SD Santa Ursula, Ende, ke RSUD Ende, rumah lama kami di daerah Jalan Radio, bahkan sempat bertemu dengan beberapa tetangga lama yang masih ingat pada kami.
Kami pun sempat berkunjung melihat patung Presiden RI pertama, Soekarno, dan rumah beliau ketika diasingkan oleh Belanda pada tahun 1934-1938. Di dalam rumah pengasingangan Soekarno ini, terdapat foto-foto Bung Karno, biola, dan dua tongkat kayu serta  beberapa naskah tonil yang dibuat oleh Bung Karno yang disusun apik di dalam lemari.
Sayang, kami tak sempat ke gunung Kelimutu. Di puncak gunung Kelimutu terdapat Danau Tiga Warna dengan warna air danau yang dapat berganti-ganti disetiap saat. Warna merah berubah menjadi hijau tua kemudian berganti menjadi merah muda dan berganti lagi menjadi cokelat kehitaman bahkan berwarna biru. Danau dengan air tiga warna hanya terdapat di Ende tidak di tempat lain di dunia ini. Sebenarnya sayang juga. Tapi tidak apa-apa karena hanya di Ende saya dapat menemukan angkot (angkatan kota) dengan dekorasi meriah dan memutar lagu-lagu jazz atau top 40 dalam volume yang cukup kencang.

Share.

Comments are closed.

Exit mobile version