Artikel ini adalah lanjutan dari Menyisir Penyebab Keguguran #2.

Setelah mengalami keguguran, kapan ‘boleh’ hamil lagi ?

Tidak ada alasan untuk menunda kehamilan, Anda bisa hamil kapan saja. Kecuali jika ada masalah psikis akibat trauma dengan keguguran, atau memiliki masalah kesehatan lain misalnya diabetes atau penyakit tiroid. Jika keguguran disebabkan infeksi (misalnya toksoplasma) maka perlu waktu untuk tubuh untuk membentuk zat antibodi selama 6-8 minggu.
Banyak wanita khawatir mengalami sulit hamil kembali pascakeguguran. Tak perlu khawatir, kemungkinan untuk memiliki anak masih cukup tinggi. Kemungkinan untuk keguguran kembali hanya berkisar 15%.
Tidak perlu pengobatan khusus. Tapi harap dicatat, untuk wanita yang telah mengalami keguguran 2 – 3 kali berturut turut, kemungkinan untuk kembali keguguran menjadi lebih besar. Untuk pasien yang mengalami hal tersebut dokter akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk menelusuri penyebabnya. Mungkin ada masalah genetik atau kelainan lain seperti sindrom APS atau trombofilia.
Toksoplasmosis vs keguguran berulang

image : simplehomemade.net

Keguguran atau abortus bisa disebabkan banyak hal. Para ibu hamil biasanya dibayangi kecemasan akan risiko keguguran karena infeksi toksoplasma semata. Padahal, penelitian tak menemukan adanya kasus infeksi pada kasus keguguran berulang.
Berdasarkan saat terjadinya, keguguran dapat diklasifikasikan menjadi keguguran preembrionik (terjadi di bawah usia kehamilan 6 minggu), keguguran embrionik (di usia kehamilan 6-8 minggu), keguguran janin (terjadi di usia kehamilan 8-12 minggu) dan keguguran janin lanjut (terjadi di usia kehamilan 12-24 minggu).
Sebaiknya informasikan kepada dokter, keguguran terjadi di usia kehamilan berapa minggu, kondisi plasenta, dan sebagainya. Informasi ini akan menuntun dokter untuk melakukan investigasi penyebab kegugurannya.
Keguguran preembionik dan embrionik banyak dihubungkan dengan kejadian kelainan kromosom, kelainan hormonal, gangguan endometrium dan faktor imunologi. Sementara keguguran janin awal dan lanjut banyak dikaitkan dengan kelainan sindrom antifosfolipid dan trombofilia (sindrom darah kental).
Pada dasarnya, ada tiga investigasi dasar dalam kasus keguguran, yakni adanya kelainan kromosom, kelainan anatomi, dan kelainan pembekuan darah.
Kasus infeksi, seperti toksoplasma, justru tidak ditemukan pada kasus keguguran berulang sehingga tidak direkomendasikan untuk diinvestigasi.
Penelitian yang dilakukan oleh organisasi obstetri dan ginekologi di dunia juga tidak menemukan hubungan langsung infeksi TORCH (Toksoplasma, Rubella, Cytomegalovirus, dan Herpes Simplex Virus) dengan keguguran.
 

Share.

Leave A Reply

Exit mobile version