[pullquote]Menguasai lebih dari satu bahasa memang menyenangkan. Namun benarkah justru akan membingungkan anak?[/pullquote]
Banyak orangtua menginginkan anaknya menguasai lebih dari satu bahasa atau multilingual. Ada yang berinisiatif mengirim anaknya ke sekolah bilingual, sekolah international maupun mengikut sertakan ke lembaga kursus bahasa asing. Ada orangtua yang merasa baik-baik saja anaknya multilingual. Tapi sebagian orangtua khawatir justru membuat anak-anaknya menjadi bingung?
Multilingual
Kekhawatiran orangtua bahwa anak akan mengalami banyak kesulitan pada saat berkomunikasi dengan lebih dari satu bahasa. Wajar karena pada awalnya anak butuh beradaptasi dengan bahasa baru yang berbeda dengan bahasa yang biasa ia gunakan sebelumnya. Hal-hal lain yang kerap dianggap muncul akibat menggunakan lebih dari satu bahasa adalah:

  • Speech delay: Keterlambatan anak dalam berbicara kerap dikaitkan dengan multilingual, padahal sesungguhnya banyak faktor yang bisa membuat anak terlambat bicara.
  • Under estimate: Orangtua kurang percaya diri pada kemampuan anak untuk menguasai bahasa asing. Ini justru membuat anak merasa kurang percaya diri sehingga sukar menguasai bahasa asing.
  • Code mixing: Anak mencampur adukkan bahasa ibu dengan bahasa asing. Ini menandakan anak sudah mampu mengintepretasikan bahasa asing dan bahasa kesehariannya. Dengan pertambahan usia maka masing-masing kata akan dapat diklasifikasikan sendiri.
  • Masalah bersosialisasi: Orang beranggapan dengan penggunaan bahasa lebih dari satu membuat anak bingung dan menarik diri dari pergaulan. Padahal hal tersebut tergantung pada ketrampilan sosial yang dimiliki masing-masing anak.

Membingungkan atau tidak?
Berbicara tentang bingung atau tidaknya anak mengaplikasikan lebih dari satu bahasa dalam keseharian. Semua tergantung apakah lingkungan termasuk keluarga dan sekolah mendukungnya atau tidak. Selain itu berdasar sebuah penelitian, sejak bayi, otak anak telah terprogram atau yang biasa disebut Language Acquisition Device (LAD). Hal inilah yang memungkinkan bayi dapat melakukan analisa dan memahami aturan dasar dari bahasa yang mereka dengar hingga akhirnya mereka bisa berbahasa dengan baik. Bayi memiliki kapasitas bawaan untuk menguasai bahasa.
Faktanya, multilingual justru membentuk kemampuan anak untuk beradaptasi lebih baik terhadap lingkungannya. Penelitian lain menunjukkan bahwa penerapan multilingual dalam jangka panjang dapat memengaruhi pembentukan struktur dan fungsi otak, yang salah satunya mendukung fungsi kognitif anak, seperti kemampuan menghapal dan mengingat, memahami dan konsentrasi, hingga kemampuan untuk menganalisa, pembentukan konsep, kemampuan verbal dan fleksibilitas berpikir.
Seorang anak yang terbiasa multilingual selain memiliki kemampuan kognitif yang lebih baik, juga akan memiliki kemampuan personal dan sosio kultural yang lebih baik dibanding anak yang monolingual.

Share.

Comments are closed.

Exit mobile version