Prostat merupakan salah satu bagian sistem reproduksi yang dimiliki oleh pria. Walaupun beberapa kelainan prostat terjadi pada usia lebih lanjut, tidak ada salahnya jika para ayah mulai memahami sejak awal gejala dan tandanya.
Gejala-gejala yang semula ringan dapat berubah menjadi lebih berat dan dapat menimbulkan komplikasi serius, seperti gagal ginjal.
Kenali prostat…
Prostat adalah organ genitalia pria yang terletak di bawah kandung kemih. Bentuknya sebesar buah kemiri dengan ukuran sekitar 4 x 3 x 2,5 cm. Prostat menghasilkan suatu cairan yang merupakan komponen dari cairan yang dikeluarkan saat ejakulasi. Cairan yang dihasilkan prostat menjadi sumber energi bagi sperma dalam perjalanannya menuju sel telur. Selain itu cairan prostat membantu mengurangi keasaman vagina sehingga sperma dapat bertahan. Letak prostat persis di bawah kandung kemih dan di depan rektum (ujung bawah usus besar). Saluran kemih yang baru saja keluar dari kandung kemih akan menembusi bagian tengah prostat.
Apa saja kelainan prostat?
Jika prostat membesar, maka saluran kemih yang melewati prostat akan tertekan, dapat menyempit atau bahkan tersumbat. Pembesaran kelenjar prostat dapat disebabkan oleh beberapa penyebab kelainan, di antaranya adalah pembesaran prostat jinak (benign prostate hyperplasia/BPH) dan kanker prostat.
Pembesaran prostat BPH ditemukan lebih banyak pada pria usia lanjut. Hingga sekarang masih belum diketahui secara pasti penyebabnya, tetapi beberapa hipotesis menyebutkan bahwa kelainan ini erat kaitannya dengan peningkatan salah satu hormon pada pria, yaitu dihidrotestosteron (DHT).
Seperti halnya BPH, penyakit kanker prostat juga sering diderita pada usia lanjut. Beberapa faktor yang diduga sebagai penyebab kanker prostat; 1). Faktor genetik, 2).  Pengaruh hormonal, 3). Diet makanan, 4). Pengaruh lingkungan, dan 5). Infeksi.
Makanan yang mengandung lemak, susu yang berasal dari hewan, daging merah, dan hati diduga meningkatkan kejadian kanker prostat. Beberapa nutrisi diduga dapat menurunkan kemungkinan terjadinya kanker prostat, di antaranya: vitamin A, beta karoten, isoflavon, atau fitoestrogen yang banyak terdapat pada kedelai, likopen pada tomat, selenium (ikan laut, biji-bijian), dan vitamin E. Kebiasaan merokok dan paparan bahan kimia yang banyak terdapat pada alat listrik dan baterai juga berhubungan erat dengan risiko timbulnya kanker prostat.
Apa saja gejalanya?
Jika terjadi penyempitan saluran kemih yang disebabkan salah satu dari kedua penyakit tersebut, ada beberapa gejala dan tanda yang dapat muncul:

  1. Sulit berkemih, biasanya harus mengejan terlebih dahulu
  2. Pancaran air kemih lemah atau bahkan terputus-putus
  3. Perasaan tidak puas setelah berkemih, artinya masih ingin berkemih tapi sudah tidak bisa keluar
  4. Tidak dapat menahan keinginan untuk berkemih
  5. Frekuensi berkemih semakin sering, terutama pada malam hari. Biasanya penderita terbangun beberapa kali semalam untuk berkemih
  6. Rasa nyeri atau terbakar saat berkemih
  7. Air kemih keluar secara menetes

Bila terjadi penyumbatan, urin sama sekali tidak keluar. Biasanya timbul rasa sakit yang luar biasa pada daerah kandung kencing seiring dengan bertambahnya air seni di dalamnya. Pada keadaan demikian, dibutuhkan pemasangan kateter atau penusukan kandung kencing dengan jarum (pungsi suprapubik) untuk mengeluarkan air seni segera.
Kondisi kesehatan lain yang dapat terjadi pada kelenjar prostat adalah peradangan pada kelenjar, yang dapat disebabkan karena adanya infeksi (prostatitis). Peradangan ini dapat menyebabkan buang air kecil menjadi menyakitkan.  Infeksi inilah yang nantinya dapat meningkatkan risiko kemungkinan terjadinya kanker prostat.
Faktor genetik dan pengaruh hormonal yang berperan dalam kemungkinan terjadinya penyakit prostat memang sulit dikendalikan. Namun, kita dapat memodifikasi faktor lainnya, yaitu menjalankan pola hidup sehat dan menghindari kebiasaan yang dapat berdampak buruk pada kesehatan.
Referensi :

  1. Purnomo B. Dasar-dasar urologi. Malang
  2. National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK), National Institutes of Health. (http://www.niddk.nih.gov/)

 

Share.

Leave A Reply

Exit mobile version