Di zaman moderen ini, wanita sering berperan multifungsi, baik sebagai ibu rumah tangga, maupun wanita karir. Semuanya tentu menuntut konsentrasi dan stamina yang tinggi. Beberapa penyakit ini biasanya akrab diderita para wanita bekerja.
Fenomena di kota besar pada umumnya, wanita memasuki dunia kerja, lalu menikah dan memiliki anak. Pada masa ini wanita tengah berada dalam puncak masa reproduktifnya, hamil dan menyusui, tanpa melepaskan karirnya. Di saat-saat inilah, peran hormon kewanitaan estrogen dan progesteron menjadi dominan dan dapat memengaruhi fisik serta mood.
Wanita juga rentan mengalami stres dalam pekerjaan. Padahal, stres dapat berpengaruh juga terhadap fluktuasi hormon wanita di dalam tubuhnya. Berikut beberapa penyakit yang sering menyerang wanita aktif dan diduga berhubungan dengan hormonal.
Gangguan haid
Gangguan haid bisa berupa lebih sering haid, lebih jarang haid, atau haid yang banyak. Stres memengaruhi susunan saraf pusat yang merupakan pusat pengatur hormon, sehingga produksi hormon estrogen dan progesteron menjadi tidak seimbang. Periksakan ke dokter untuk menyingkirkan gangguan organ. Bila tidak ada gangguan organ, mungkin saja stres menjadi penyebabnya.
Premenstrual syndrome atau gangguan premenstruasi sering kali dicetuskan oleh stres dan perubahan hormonal. Beberapa wanita lebih rentan terkena sindrom ini, wanita yang lain tidak demikian. Pemberian obat hormonal dapat memperbaiki keluhan yang berhubungan dengan gangguan haid.
Migren
Nyeri kepala karena hormon sering ‘berwujud’ migren, penyebabnya adalah fluktuasi hormon estrogen selama siklus menstruasi. Biasanya migren akibat hormon akan muncul sebelum menstruasi, dan hilang selama kehamilan.
Gejala migren antara lain nyeri berdenyut di satu sisi kepala dengan intensitas sedang-berat dan bertambah seiring dengan jumlah aktivitas. Nyeri bisa berlangsung 4-72 jam dan sering disertai mual, fotofobia (mudah terganggu oleh cahaya) dan fonofobia (mudah terganggu oleh suara).
Irritable bowel syndrome (IBS)
Stres psikologis terhadap pelajaran, pekerjaan, suami, anak, lingkungan, atau stres fisik (infeksi usus sebelumnya) dapat mengganggu poros otak-usus yang membuat motilitas (gerakan) usus makin cepat atau lambat. Hasilnya, kita bisa diare atau sebaliknya, terjadi konstipasi. Kadangkala, seseorang bisa mengalami keduanya, diare yang diselingi konstipasi.
Gangguan diare atau sembelit berulang ini terjadi pada wanita lebih sering daripada pria dengan perbandingan 2:1. Meski tidak berbahaya, IBS sangat merepotkan karena bersifat kronis dan hilang timbul. Gejalanya bisa dari sembelit atau diare yang sering, atau keduanya, disertai dengan sakit perut yang tidak khas.
Download artikel lengkapnya di Majalah Anakku Digital :


Lupus eritematosus
Lupus merupakan penyakit yang sering menyerang wanita usia reproduktif dengan perbandingan wanita:pria 9:1. Menurut hipotesis, hormon memegang peranan. Itu sebabnya kehamilan (terjadi perubahan hormonal) dapat menjadi pencetus lupus. Faktor lainnya adalah lingkungan, zat-zat aditif, dan genetik.
Sesuai julukannya, the great imitator, Gejala lupus bervariasi. Semua organ bisa terserang dan gejalanya pun bervariasi, seperti pada kulit (kemerahan, bintik-bintik kulit, rambut rontok), selaput lendir (sariawan), nyeri sendi, nyeri otot, kekurangan darah atau lebam-lebam, dan sebagainya. Kelelahan merupakan salah satu gejala yang sering dikeluhkan ibu sebelum muncul keluhan-keluhan yang lebih khas. Ibu perlu mewaspadai bila banyak gejala muncul yang tak bisa dijelaskan seperti yang telah disebutkan.
Tip sehat bagi wanita bekerja

  • Motivasi diri bahwa gaya hidup sehat merupakan investasi untuk saat ini dan saat tua kelak.
  • Gaya hidup sehat dengan nutrisi empat sehat lima sempurna. Prinsipnya adalah low fat – low cholesterol. Jangan lupa konsumsi kalsium yang cukup terutama pasca menopause (kebutuhan pasca menopause adalah 1500 mg/hari) yang disertai vitamin D.
  • Hindari makanan berlemak, mengandung zat pengawet dan aditif.
  • Gaya hidup aktif dan olahraga teratur. Olahraga teratur terbukti memperkuat tulang dan meningkatkan daya tahan tubuh. Berjalan kaki teratur dan senam aerobik bisa menjadi pilihan.
  • Tidur cukup.
  • Miliki ‘me time’.
  • Tekuni hobi.
  • Berpikir optimis.
  • Cegah malnutrisi (terlalu kurus atau terlalu gemuk).
  • Skrining teratur. Biasakan skrining sedari mulai menikah, misalnya papsmear dan pemeriksaan payudara (USG atau mamografi), lalu saat mempersiapkan kehamilan (misalnya TORCH), dan mulailah medical check-up umum setelah usia ibu beranjak 35 tahun yang idealnya dilakukan satu tahun sekali.

Referensi

  • Vieira EB, Garcia JB, Silva AA, Araujo RL, Jansen RC, Bertrand AL. Chronic pain, associated factors, and impact of daily life: are there differences between the sexes. Cad Saude Publica. 2012 Aug;28(8):1459-67
  • womenshealth.gov
  • Mayer EA. Irritable bowel syndrome. April 17 2008; N Engl J Med; 358;16;1692-1699
Share.

Leave A Reply

Exit mobile version