[pullquote]Beberapa penelitian memperlihatkan ternyata rambut yang tertutup tak selalu berkorelasi dengan masalah rambut. Kalaupun ada, dua masalah kesehatan rambut yang terjadi adalah ketombe dan rontok.[/pullquote]
[dropcap]K[/dropcap]etombe ditandai dengan adanya serpihan kulit kepala di rambut sering disertai rasa gatal. Ketombe merupakan bentuk ringan dari dermatitis seboroik ditandai dengan serpih kulit halus sampai kasar yang berjumlah banyak, berwarna putih kekuningan. Dikatakan, perubahan sel kulit sangat cepat sehingga menimbulkan sisik yang bisa berlapis. Faktor yang meningkatkan risiko ketombe adalah:

  • Produksi minyak pada kulit kepala,
  • kerentanan individu,
  • lingkungan (suhu atau kelembaban),
  • stres,
  • pertumbuhan jamur.

Perihal jamur, ada beberapa jenis jamur yang erat kaitannya dengan ketombe, dan jamur ini dapat tumbuh pada mereka yang berhijab maupun tidak.
Penggunaan hijab yang salah bisa meningkatkan suhu kulit kepala dan kelembabannya hingga menambah risiko ketombe. Berbagai penelitian tentang angka kejadian ketombe pada wanita berhijab memang menunjukkan hasil yang berbeda-beda namun ternyata beberapa faktor terkait hijab bisa meningkatkan risikonya.

Tip untuk mencegah ketombe pada wanita berhijab

  • Gunakan bahan hijab yang menyerap keringat dan hindari warna gelap.
  • Hindari menggunakan banyak lapis kepala (dikatakan maksimal tiga lapis (termasuk ciput/lapisan dalam) untuk dapat menjaga kelembaban rambut)
  • Keramas secara teratur dua kali sehari. Keramas setiap hari juga tak dianjurkan.
  • Tidak menggunakan hijab pada saat rambut masih basah.
  • Beri kesempatan rambut untuk diangin-anginkan saat di rumah.
  • Gunakan bandana atau ciput yang tidak terlalu kencang agar sirkulasi kulit kepala tetap baik. Penggunaan pelapis dalam dapat menghindari friksi antara rambut dan kain penutup kepala secara langsung hingga mencegah kerusakan rambut.
  • Hindari mengikat rambut terlalu kencang

Rambut rontok yang didefinisikan sebagai hilangnya rambut lebih dari 100 helai perhari (di Indonesia dikatakan 50 helai perhari) menjadi masalah lain yang kerap dikeluhkan wanita berhijab. Padahal penelitian dr. Dewi Inong, Sp.KK pada tahun 2001, seperti disampaikan dalam talkshow muslimah Festival (MUFEST) 2015 di Fakultas Farmasi UI, menunjukkan “Tidak ada hubungan yang bermakna antara kerontokan rambut dengan penggunaan kerudung.” Mereka yang tidak berhijab pun dapat mengalami gangguan rambut rontok dan hal ini tak terkait dengan penutup kepala. Sebaliknya,  sinar ultraviolet matahari dapat meningkatkan risiko kerontokan dan hijab akan melindungi rambut dari sinar ultraviolet tersebut.
Terlepas hijab atau tidak, kerontokan rambut bisa disebabkan berbagai hal:

  • Hormonal: kelebihan hormon androgen ditengarai dapat menyebabkan kerontokan rambut pada pria maupun wanita.
  • Trikotilomania: kebiasaan mencabut rambut yang patologis
  • Ikatan rambut yang terlalu kencang (traction alopecia) atau rambut yang terlalu panjang. Penarikan berlebihan pada akar rambut dapat meningkatkan jumlah kerontokan rambut. Hal ini bisa terjadi pada mereka yang berhijab dan menggelung rambutnya terlalu kencang pada posisi tertentu. Mengganti-ganti belahan rambut dan mengurai rambut dapat membantu mengurangi risiko kerontokan akibat hal ini.
  • Kelembaban berlebih pada rambut dapat menyebabkan jamur tumbuh. Perawatan rambut yang teratur dapat mencegah pertumbuhannya. Meski berhijab, sediakan waktu khusus untuk merawat rambut agar terhindar dari pertumbuhan jamur.
  • Telogen effluvium. Telogen effluvium terjadi jika keseimbangan siklus pertumbuhan sel rambut terganggu, yaitu fase telogen yang mendominasi. Hal ini menyebabkan total rambut berkurang. Pada beberapa kasus, telogen effluvium bisa menunjukan adanya kelainan dalam tubuh seperti penyakit imun, infeksi atau sakit kronik lainnya. Faktor lain yang bisa menyebabkan adalah stress ataupun perubahan hormon semisal persalinan. Bila penyebabnya di atasi, umumnya rambut akan tumbuh kembali.

Referensi:

  • Springer, K, Brown M, Stulberg, DL. Common Hair Loss Disorders. Am Fam Physician, 2003;68(1):93-102
Share.

Leave A Reply

Exit mobile version