Demam atau nyeri pasca imunisasi bisa jadi momok untuk para ibu. Demam sebagai efek samping terbanyak imunisasi sebenarnya merupakan bagian dari respon tubuh. Biasanya demam tidak terlalu tinggi dan jangka waktunya pendek (hanya satu hingga dua hari).
 
Sebuah penelitian membandingkan demam pasca imunisasi pada anak yang mendapat ASI dan tidak. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa bayi-bayi yang diberi ASI cenderung tidak menjadi demam setelah imunisasi dibandingkan mereka yang tidak diberi ASI. Bila pun demam, puncak demam terjadi lebih rendah pada mereka yang diberi ASI dibanding tidak. Anak juga lebih tidak rewel dan dapat tidur dengan lebih nyenyak bila diberi ASI.
 
ASI memiliki zat-zat antimikroba dan antiradang sehingga efek demam berkurang. Selain kandungan ASI, ternyata proses menyusui itu sendiri dapat memberi keuntungan untuk si kecil setelah imunisasi. Bayi yang disusui merasa nyaman karena dipeluk oleh orang terdekatnya (yaitu ibu), dan rasa nyaman ini membuat zat-zat antinyeri dalam tubuh bayi meningkat. Hasilnya, bayi ASI biasanya kurang merasa nyeri dan lebih nyaman. Tidurnya pun lebih nyenyak.
 
Penelitian lain juga menunjukkan bahwa bayi non-ASI lebih tidak nafsu makan setelah imunisasi, terbukti dari asupan kalorinya yang lebih rendah. Bayi yang diberi ASI dalam pelukan ibunya ternyata menyusui lebih banyak dibanding bayi yang diberi susu lain. Asupan kalori yang rendah pada anak non-ASI ternyata disebabkan peningkatan zat-zat radang dalam tubuhnya. ASI dengan kandungan yang lengkap telah mengatasi semuanya.
 
Referensi:
Pisacane A, Continisio P, Palma O, Cataldo S, Michele FD, Vairo U. Breastfeeding and Risk for Fever after immunization. Pediatrics, May 17, 2010

Share.

Leave A Reply

Exit mobile version